Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Hobi Suami yang Memicu Inner Child Istri

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s
Apa kabar menyikapi fenomena baru selama pandemi COVID-19? Sekarang sedang muncul hobi kekinian, yakni orang beramai-ramai hobi bersepeda. Meskipun mungkin sebenarnya sejak sebelum pandemi terjadi, bersepeda sudah menjadi hal lumrah di kalangan tertentu.

Namun, belakangan ini memang benar-benar menjadi tren di semua kalangan. Dari dewasa hingga anak-anak. Tak terkecuali para suami. Beragam reaksi dari khalayak ramai. Sampai bermunculan plesetan lucu-lucuan dan meme seperti di bawah ini yang terkesan istri kurang menerima hobi baru suami.

Sumber gambar: screen shoot dari facebook Dr. Joko Adi Pamungkas.

Kabarnya, ada banyak cerita, bahwa hobi bersepeda para suami, memicu kemarahan istri. Sampai ada video komedi yang berisi tentang kemarahan istri pada suaminya sepulang bersepeda. Semoga hanya terjadi dalam video kreatif saja ya, Sahabat. Jangan sampai dalam dunia nyata.

Setidaknya sekadar mengambek melihat suami sibuk dengan mainan barunya. Kalau pun tidak sampai mengambek, bisa membuat nyesek sang istri. Karena penyebabnya suami yang tidak jujur atas harga sepeda beserta aneka ragam perlengkapan yang dibelinya. Ini bisa terjadi karena istri terpicu inner child pernah dibohongi oleh orangtua atau lingkungan semasa kecil. Jadi otomatis terpicu saat dibohongi suami. Pun luka pengabain dari ayahnya di masa kecil, jadi memancing emosi saat melihat suami sedang serius dengan mainan baru.

Lihatlah, bahkan sekedar hobi suami bisa memicu emosi istri. Sesederhana dan sesepele itu makna inner child. Ini juga terjadi padaku beberapa hari sebelum Lebaran. Sempat ada rasa belum rela melepas suami ke luar rumah hanya untuk bersenang-senang dengan hobi barunya. Dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya karena ini masih masa pandemi, aku khawatir suami terpapar virus covid-19 di luar sana.

Reaksi kita saat dewasa pada orang lain (pada orangtua, saudara kandung, suami, anak, saudara ipar, sahabat, tetangga, dan lain-lain) semua berakar dari apa yang kita dengar, lihat dan alami sewaktu kita kecil. Reaksi ini muncul dari anak dalam diri kita, atau jiwa masa kecil kita yang bernama inner child (IC).

Kita semua punya IC yang membuat kita bereaksi kuat terhadap sesuatu, tanpa sepenuhnya menyadari “kenapa?”.

Inner child adalah sisi kepribadian kita yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil. (On Marissa’s Mind : Menyembuhkan Luka Masa Kecil. http://youtu.be/-e_DWK0bv3w. Diakses 24 Oktober 2019).

Ya, saat itu aku seperti anak kecil yang manyun. Jika dikupas satu per satu lapisan pemicu, biasanya akan banyak ditemukan akar penyebab inner child-nya. Nyatanya butuh waktu 1 bulan lamanya untuk berproses sampai aku benar-benar MENERIMA (ACCEPTANCE) suami dengan hobi barunya demi mengasuh inner child dirinya. Padahal melihatnya bersepeda, itu artinya memicu kenangan masa kecilku (IC-ku) tentang bapakku dan sepedanya.

Dulu, selama puluhan tahun lalu, belasan tahun lalu, sosok sepeda pernah selalu membuat jantungku berhenti berdetak jika mendengar bunyi sepeda di depan rumah pulang. Saking takutnya, aku ingin sekali bersembunyi. Demi tidak lagi selalu melihat adegan bapak membanting sepeda di depan rumah setiap kali beliau menurunkan barang belanjaan.

Saat itu pula, aku harus siap sedia menerima bentakan demi bentakan meskipun aku sudah berusaha membantu beliau membereskan barang belanjaan untuk kios mama. Selalu saja ada yang salah walaupun saat itu aku sudah usia SMA dan kuliah. Tetap saja harus rela mendengar makian dan bantingan barang dari beliau.

Membuatku pernah sangat membenci sepeda. Ini bukan hal lebay dan sepele. Sebab kejadian di masa kecil itu pernah membuat trauma dengan bunyi sepeda. Denting bel sepeda. Tentang segala hal yang berhubungan dengan sepeda. Sungguh, aku benar-benar pernah membenci sepeda karena perlakuan bapak padaku. Membuatku hampir saja membenci tanpa sebab yang jelas ketika melihat suamiku membeli sepeda untuk hobinya.

Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dari belajar MINDFULNESS sejak Agustus 2016 sampai sekarang aku terus menerus belajar mengasuh inner child-ku. Sekarang otakku sudah bisa MENERIMA KEADAAN MASA LALUKU, memaafkan segala perlakuan bapakku. Otakku pun bisa membedakan masa lalu dan masa sekarang.

MINDFULNESS mengajarkan KESADARAN UNTUK HADIR DI MASA SEKARANG, BUKAN DI MASA LALU. Membuatku sadar berada disini, sekarang adalah aku sebagai istri dari suamiku yang sangat baik. MasyaAllah alhamdulillah. Ia bukan bapakku yang selalu membanting sepeda di masa kecilku. Jadi aku bisa tidak lagi membenci suamiku dan sepedanya.

Hal di atas membuatku menyadari sepenuhnya untuk juga hadir dalam kehidupanku saat ini. Agar aku pun merasakan kebahagiaan menikmati waktu berdua saja dengan suami. Mengayuh sepeda beriringan, bercanda bersama suami. Bukan lagi teringat bengisnya wajah bapakku yang melekat pad sebentuk dan sekata “sepeda.”

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Terima kasih ya Allah untuk masa lalu yang luar biasa banyak mengajarku arti bahagia dan syukur yang hakiki. Aku bersyukur kekhawatiran tersebut sudah bisa sangat terkendali sekara pagi ini, aku mau kasih selamat dulu untuk suamiku. Selamat ya Sayang, aku bangga padamu, suamiku Duddint ImaRi, atas seizin Allah yang luar biasa kasih sayangnya pada kita, akhirnya aku dan kamu berhasil mengasuh inner child (IC) masing-masing satu per satu sampai bisa tuntas. Hingga akhirnya bisa di titik sekarang ini. Menjadi pasangan kompak yang saling memahami satu sama lain.

Terima kasih banyak untuk IC baik dalam dirimu yang selalu membelikan aku barang yang sama, serupa, bahkan hampir senilai dengan yang kau beli untuk dirimu sendiri. Tak lupa, selamat juga untuk diriku yang akhirnya bisa menerima keadaan suami apa adanya.

Tak semudah mengucap, “Asal suami bahagia, aku ikut bahagia,” tetapi hati masih nggrundelan. Jadi aku berjuang menuntaskan inner child-ku. Demi kebahagiaan yang nyata bukan semu. Meskipun wajah tersenyum tetapi hati menangisi masa lalu. Sungguh aku berjuang agar itu semua tidak lagi terjadi lagi. Alhamdulillah wa syukurillah semua sudah tuntas terkendali.

Aku pun berdoa untuk para istri di mana pun berada, semoga juga mengalami kedamaian batin saat melihat dan menemani hobi suami.

Sokaraja, 1 Juli 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan