Latihan Menulis Komunitas

Mengasuh Anak Adalah Mengasuh Diri Sendiri

Mengasuh Anak Adalah Mengasuh Diri Sendiri

Oleh: Ribka ImaRi

Empat hari ini, terhitung sejak Jumat sampai Senin siang tadi, aku sempat bingung harus bagaimana lagi cara menghadapi Jehan di fase ajaibnya. Di usianya yang 4,5 tahun, sama persis dengan fase Tyaga dulu.

Berkali-kali bunda bertanya kepada Jehan, “Bunda harus bagaimana lagi, Dek?”

Rahang bunda kencang, belakang leher nyeri dan gigi hampir semua linu. Itu semua merupakan sensasi stres. Saking tidak tahu harus bagaimana lagi putar otak untuk mencari cara jitu menghadapi Jehan. Stres ini justru menyerang tubuh bunda sendiri. Berkumpul semua di kepala. Kepala terasa kencang rasa mau meledak saja.

Saat otak hectic merasa bingung, beruntung bisa mengingat pelajaran dari Mindfulness Parenting, kala itu Mentorku Pak Supri Yatno selalu sounding bahwa “Mengasuh Anak Adalah Mengasuh Diri Sendiri Lebih Dulu”. Hal inilah yang kemudian kupegang teguh mana kala egoku luar biasa meraja.

Ya, siang tadi egoku sungguh meraja. Seketika aku menjadi mood swing, jadi enggan menghampiri Jehan saat ia mengambek. Aku tiba-tiba malas memeluk Jehan saat ia menangis sendirian. Aku yang memang ada gangguan bipolar, dari yang bisa sangat sabar, tiba-tiba bisa marah meledak-ledak karena terpicu Inner Child-ku yang merana karena pernah mengalami menangis sendiran semasa kecil dulu.

Demi mencegah ledakanku, sejenak aku PAUSING (jeda sesaat) menuju kamar mandi. Aku berpamitan kepada Jehan, “Bunda tinggal sebentar BAK ke kamar mandi ya, Dek. Dua menit saja”. Buru-buru bunda masuk ke mandi, bersandar di dinding kamar mandi sebentar, lalu wudhu, tarik napas pelan-pelan dan panjang lalu hembuskan pelan-pelan dan panjang pula. Alhamdulillah perasaan menjadi lebih baik karena segar sehabis wudhu.

Segera bunda melakukan ACCEPTANCE : AKU TERIMA IC-KU (JIWA MASA KECILKU) YANG PERNAH TERLUKA AKIBAT MENANGIS SENDIRIAN, DULU AKU MERASA TERABAIKAN. SEKARANG DEMI JEHAN TIDAK TERABAIKAN SEPERTIKU, AKU TERIMA KEADAAN JEHAN YANG MENANGIS LAMA”.

Ya Allah … seketika aku tersadar, karena pernah merasakan perlakuan dari kedua orang tuaku yang sangat tidak enak. Kemudian aku bertekad untuk tidak melakukan hal yang sama ke anak perempuanku. Bismillah aku AFIRMASI POSITIF diriku untuk segera bisa melepaskan egoku. Segera kupeluk anakku. Perintahku kepada diriku sendiri.

Kemudian, aku keluar kamar mandi, lalu aku menghampiri Jehan. Kuelus rambut panjangnya. Aku menyuruh diriku untuk memeluk erat anak gadisku satu-satunya. Seketika runtuh semua tembok ego Inner Child itu. Melebur menjadi kasih sayang tulus kepada anakku, dariku seorang ibu yang pernah punya luka batin masa kecil terpendam saat menangis tak ada seorangpun yang menghibur. Kini aku tak ingin meneruskan luka batin itu. Stop di aku saja.

Seketika cair kebekuan perasaanku ke Jehan. Saat aku memeluk erat Jehan, ia pun menangis di pelukanku sampai mereda lalu melunak dan kemudian baru mau diajak makan. MasyaAllah… Alhamdulillah siang tadi aku mampu lulus ujian kesabaran menghadapi fase tantrumnya Jehan. Bismillah bisa tetap kuat di hari-hari mendatang

Alhamdulillah… ternyata obat anak mengambek hanya satu yaitu pelukan erat dan hangat.

Sudahkah kita,.terutama para ibu, memeluk erat dan hangat anak-anak kita sejak pagi tadi? LEPASKAN EGO… LEPASKAN EGO… SEGERA PELUK ANAK KITA, MAKA RUNTUH LENYAP SEMUA KEMARAHAN DI DADA.

Silahkan coba dan rasakan sendiri dasyatnya sebuah pelukan😊

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

#NubarSumatera
#ChallengeMenulis
#TemaBebas
#Day21
#11Febuari2019

0Shares

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. Cleodeo Alvito says:

    Nice post and share… Setuju dengan endingnya Kaka’ … “The Power of Hug ” adalah Senjata Terbaik dalam mendidik Anak.

Tinggalkan Balasan