Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Non Fiksi

Mendidik Anak Mandiri dengan Keteladanan

Mendidik Anak Mandiri dengan Keteladanan

Oleh: Ribka ImaRi

“Bunda … tolong taruhkan handuk!” seru Tyaga.
“Bunda … tolong pakaikan sepatu,” rengek Jehan.
“Bunda … tolong ambilkan tas,” pinta Tyaga.

Mendidik anak yang mandiri di era modern seperti sekarang ini merupakan tantangan yang cukup besar. Sebab segala kebutuhan dan keperluan semudah di genggaman tangan.

Misalkan, saat cucian baju kotor atau baju yang belum di setrika menumpuk, bisa saja aku tinggal ambil gawai lalu menghubungi jasa penatu (laundry). Saat sedang malas memasak, bisa saja pesan antar makanan siap saji. Masih banyak kemudahan lainnya yang bisa dinikmati kapan saja aku membutuhkan.

Tapi dulu, sewaktu Tyaga dan Jehan masih kecil, semua kemudahan di atas tidak serta merta dengan rela ku nikmati. Hanya demi mendidik kedua anakku dengan keteladanan mandiri langsung dari bundanya.

Sebagai ibu muda yang memiliki suami yang sebenarnya mampu membayar jasa asisten rumah tangga, aku termasuk ibu yang keras kepala. Sebab meski suami memaksa, aku tetap berpegang teguh pada tujuanku.

Untuk sementara waktu, aku tak ingin memakai jasa asisten rumah tangga dulu. Demi mendidik anak mandiri dengan keteladanan orangtua yang juga mandiri. Jadi bisa mungkin semua aku kerjakan sendiri dan dibantu suami tentunya. Dan atas pertolongan Allah pastinya.

Pada awalnya tak semudah membalik telapak tangan saat harus mendidik anak menjadi mandiri. Aku harus mendidik diriku terlebih dulu untuk mandiri.

Tak semudah yang dibayangkan saat sedang repot-repotnya, kedua anakku justru berteriak berbarengan ingin dibantu, “Bunda tolong ini … Bunda tolong itu ….” Dan masih banyak panggilan “bunda tolong” lainnya di berbagai kesempatan. Hanya sekadar meminta tolong untuk mengerjakan hal yang sebenarnya sudah biasa dikerjakan oleh Tyaga dan Jehan saat memulai belajar mandiri bahkan sejak usia 2 tahun.

Tetapi entah mengapa, ketika Tyaga dan Jehan memasuki usia 4 tahun (beda usia keduanya 2 tahun 5 bulan), tahapan perkembangan keduanya sangatlah mirip dan justru mundur selangkah. Karena sebentar-sebentar keduanya minta tolong.

Padahal pada usia 4 tahun, keduanya sudah mulai mandiri. Sudah mulai dilepas sendiri saat mandi sendiri, memakai baju sendiri, menaruh handuk sendiri, menyisir rambut sendiri, mengambil dan menaruh sepatu serta memakai sepatu sendiri. Alhamdulillah semua sudah bisa sendiri. Meski masih harus selalu ditemani dan diawasi.

Untuk sampai di tahap perkembangan kemandirian seperti diatas, dimulai saat keduanya masih berusia belasan bulan. Saat masih berusia 17 bulan sampai 2 tahun mulai mencoba belajar memakai sandal atau sepatu dan celana sendiri. Walaupun hasilnya memakai dalam posisi terbalik. Tapi terus berproses sampai benar-benar bisa mandiri memakai semua sendiri secara benar pada usia 3 tahun.

Aku dan suami tak jemu-jemu memberi semangat. Terlebih lagi berusaha tetap sabar, konsisten dan telaten. Meski sungguh semuanya sangat tak mudah.

Namun keempat hal di atas dapat dilakukan orang tua untuk membersamai tahapan kemandirian anak. Jika dipaparkan sebagai berikut:

1.Semangat
Orangtua terutama ibu sebaiknya selalu semangat melatih anak mandiri. Semangat memberi contoh nyata dan semangat memberi motivasi penuh makna saat anak mulai menolak belajar mandiri. Contohnya, “Ayok, Mas semangat!Mas pasti bisa. Bismillah terus Mas!”

2. Sabar
Ini merupakan kunci utama bagi orangtua. Bagaimana tidak, saat semua terasa terburu-buru demi tidak terlambat berangkat sekolah, tangan ini gatal ingin membantu. Sebaiknya orangtua tetap berjuang sabar membiarkan anak berusaha memakai sepatunya sendiri. Proses sabar membersamai anak ini aku lakukan dimulai saat Tyaga & Jehan berusia 18 bulan. Dan bisa benar-benar sudah aku lepas tidak pernah memberinya bantuan lagi saat Tyaga usia 6 tahun 1 bulan. Berarti dibutuhkan waktu selama 4,5 tahun untuk membersamai tahapan kemandirian Tyaga. Sekarang sedang serius membersamai proses kemandirian Jehan. “Sabar ya, Sayang … terus berusaha sampai bisa.”

3. Konsisten
Ada sedikit “tega” dengan maksud tetap konsisten membersamai proses mandiri tanpa berubah pikiran ingin segera membantu anak kadang ingin menyerah. Tetap konsisten memberi contoh nyata. Meski kadang ada rasa lelah ingin menyerah. Apalagi saat keduanya tantrum frustasi. Ketika memaksa meminta bantuan padahal sudah terbiasa melakukannya. Tetap pegang teguh aturan untuk berusaha mandiri dengan tetap temani anak sampai selesai berjuang mengendalikan emosinya. Lalu kembali mencoba sampai berhasil. “Biasanya Mas Sudah bisa kan? Yuk, coba lagi. Bunda temani sampai bisa lagi. Semangat ya!”

4.Telaten
Teliti dalam mengerjakan sesuatu. Dalam hal ini teliti membersamai tahapan perkembangan kemandirian Tyaga dan Jehan. Dengan cara mengajarkan secara terus menerus sampai kedua bisa mengerti sesuai tahapan perkembangannya. Hal ini bisa dilakukan dengan rajin memberi nasihat dan petuah baik dengan cara mengobrol secara langsung maupun melalui dibacakan buku-buku tentang tahapan perkembangan kemandirian anak. “Nah, yang dibuku sama seperti Mas kan. Kalau mau berusaha pasti bisa!”

Sebab sejatinya anak adalah peniru ulung. Jadi akan lebih mengena cara mendidik dengan memberi contoh. Bukan memberi perintah saja. Seperti foto Tyaga dan Jehan yang terlihat di bawah ini. Ini adalah contoh ringan kemandirian sehari-hari. Antara Tyaga dan Jehan di usia 5 tahunan. Tak ada beda hasilnya. Karena hasil mencontohku dan suami yang terbiasa mengambil sepatu sendiri saat mau pergi. Dan menaruh sepatu kami kembali pada tempatnya selepas kami bepergian. Tanpa harus menunggu diambilkan atau siapa dibereskan sehabis bepergian.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 6 Oktober 2019.

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#day6
#week1
#MingguTemaBebas
#RNB33
#rumahmediagrup

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan