Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

MEMUTUS RANTAI INNER CHILD NEGATIF

MEMUTUS RANTAI INNER CHILD NEGATIF

Oleh: Ribka ImaRi

Setiap kita pasti mempunyai kenangan masa kecil. Baik itu kenangan bahagia maupun tidak bahagia. Tergantung perjalanan hidup bersama orangtua kita masing-masing.

Aku memang tidak bisa memilih dari orangtua mana aku terlahir. Pun, tidak bisa menentukan seperti apa masa kecilku dulu. Nyatanya ketidakbahagiaan itu tergambar jelas dalam foto masa kecilku.

Wajahku muram dan sendu. Karena seingatku, memang masa kecilku itu menyedihkan. Hidup di bawah garis kemiskinan, membuatku bertumbuh dan berkembang menjadi gadis kecil yang minder.

Setelah mengetahui sedikit ilmu mengasuh, aku berjuang menjadikannya sebagai pembelajaran berharga dalam hidup. Agar aku tidak lagi mengulangi ketidakbahagiaan itu kepada kedua anakku, Tyaga dan Jehan yang kini berusia hampir 8 tahun dan 5,5 tahun.

Aku tahu, tekadku menempuh semua jalan kebahagiaan ini sungguh tak mudah. Karena sebagai penyintas depresi dan bipolar, aku mempunyai banyak kenangan ketidakbahagian yang sering membuatku mudah mood swing tiba-tiba. Di saat aku sedang berbahagia bersama anakku, wajahku bisa tiba-tiba sedih karena teringat suatu kenangan yang pernah membuat sedih mendalam semasa kecil dulu.

Ini yang membuatku benar-benar harus belajar mengupas satu per satu kenangan masa kecilku yang sering memicu kesedihan saat ini. Meski sangat perih ketika mengingatnya kembali. Namun, aku belajar memahaminya bahwa inilah sumber kesedihanku yang menghalangi kebahagiaan hakiki.

Setelah itu, aku belajar menerimanya satu per satu. Ibaratnya, aku tarik helai demi helai, lembar demi lembar yang menyesakkan dada. Lalu dan buang satu per satu lapisannya. Kemudian menerima setiap lapisan yang ketemui sebagai pengingat diriku dalam memperbaiki pola asuh untuk kedua anakku.

Aku tidak ingin menua bersama bayangan masa lalu yang belum terselesaikan. Karena selamanya akan menjadi pemicu emosiku saat ini. Tanpa disadari, hal sepele pun bisa menjadi penyebab kemarahan meledak-ledak.

Namun aku sadar untuk mencukupkan sampai sampai di aku saja rantai inner child negatif ini. Biarlah hanya aku yang merasakan terpuruk di masa kecil.

Keadaan masa lalu memang tak bisa kuubah. Namun, aku bisa menentukan tekad mengukir masa kecil yang bahagia dan ceria untuk kedua anakku. Terutama Jehan, putri kecilku, calon ibu dari cucu-cucuku kelak. Tak ada bedanya caraku mengasuh Tyaga agar bisa bahagia dan ceria. Demi ia bisa menjadi ayah yang berbahagia untuk anak-anaknya kelak. Aamiin.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan