Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Parenting

Memilih Marah atau Bersabar?

Oleh : Ribka ImaRi

Setiap ibu di mana pun berada, pastilah repot. Aku percaya itu! Apapun keadaannya. Walaupun dengan bantuan support sistem yang handal sekali pun (suami yang baik, asisten rumah tangga yang banyak, orangtua yang welas asih, mertua yang pengertian).

Akan tetapi berjuang menjadi ibu yang tetap sabar meski sangat repot, itu yang sebaiknya dilatih agar menjadi terbiasa. Hal ini tentu sangat tak mudah. Untuk itu dibutuhkan usaha dan latihan yang terus menerus.

Sebuah slogan “bisa karena terbiasa” memang benar adanya. Kesabaran itu sebaiknya dilatih terus menerus supaya menjadi kebiasaan yang baik.

Dimulai dari detik demi detik. Lalu meningkat menit demi menit. Kemudian berlanjut menjadi jam demi jam. Sampai bisa bersabar hari demi hari. Pada akhirnya selalu berusaha tetap bersabar walau apapun yang sedang terjadi.

Perjuangan sabar ini sangat tak mudah bagiku. Dari ibu yang pernah melayangkan gayung ke kepala sulungku. Sesaat, mungkin sedetik, malaikat penjagalah yang mengecoh tanganku sehingga ayunan tangan kanan meleset ke ember yang berjarak tak sampai satu meter di sebelah sulungku.

Itu terjadi sekitar tiga tahun lalu. Kala aku masih dalam kondisi depresi berat berdasarkan diagnosa psikiater.

Setelah aku menempuh pengobatan untuk depresi dan bipolar pada akhir Januari dan awal Februari 2017 serta terus rajin berlatih MINDFULNESS PARENTING, emosiku berangsur-angsur membaik hingga saat ini.

Atas pertolongan Allah SWT membuatku mampu mengendalikan amarah yang pernah meledak-ledak.

Kini sloganku “meski luar biasa repot, jangan marah! jangan marah! jangan marah! dan jangan sampai marah! Anak-anakku adalah darah dagingku. Karena aku mencintai diriku sendiri, aku jadi mencintai darah dagingku sendiri. Kalau cinta jangan marah. Walaupun mungkin harus marah, aku harus bisa marah yang terkendali. Jangan lagi main tangan dan main mulut seperti dulu. Tahan. Tahan. Tahan. Bismillah bisa.” Panjang lebar aku menanamkan afirmasi itu semua dalam hati dan pikiranku. Beratus kali. Beribu kali. Tancapkan dalam pikiranku agar terbiasa berpikir positif.

Apapun kerepotan yang aku hadapi aku memilih bahagia dengan tidak marah demi kesehatan tubuh dan jiwaku. Pun yang terpenting demi kebahagiaan jiwa masa kecil Tyaga dan Jehan.

Seperti kejadian yang terekam di dalam foto di bawah ini. Saat sedang repot-repotnya, malah terjadi hal diluar dugaan. Plastik pembungkus kacang hijau pecah membuat semua berhamburan ke lantai.

Segera kukerahkan pausing, jeda sesaat untuk mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam-dalam. Lalu segera afirmasi positif seperti contoh di atas. Kulakukan dengan segenap pikiran agar tidak sampai lepas kendali.

Aku memilih bisa bahagia mendengar celoteh semangat Tyaga dan Jehan yang sigap siap membantu. Meski awal mula keadaan berantakan akibat keduanya merecoki di dapur. Belum lagi tumpukan baju yang penuh sekeranjang berada tak jauh dari serakan kacang hijau. Menghadirkan sensasi kepala yang kesemutan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Tetapi aku berjuang untuk tetap menjadi ibu yang sabar untuk anak-anakku. Aku berusaha tetap menatap keduanya penuh cinta. Jujur, ini sangat sulit.

Meski ini sangat sulit bagi penyintas bipolar yang seketika ada dorongan kuat untuk meledak.

Namun tatapan mata penuh cinta dari Tyaga dan Jehan yang membantu mengumpulkan butiran kacang hijau yang berserak di lantai adalah sumber kebahagianku. Bukan tatapan mata ketakutan akibat marahku yang merasa kerepotan mengurus semuanya sendirian.

Memilih marah saat itu juga? Pasti akan menoreh luka batin seumur hidup anak-anakku karena terekam di inner child (jiwa masa kecil) Tyaga dan Jehan.

Atau berjuang sabar beberapa menit kedepannya? Supaya jiwa masa kecil anak-anakku tetap bahagia dan tangguh menghadapi berbagai macam keadaan.

Pilihan ada di pikiranku dan itu menentukan gerak tubuhku. Mata, mulut dan tangan berhenti untuk marah seketika. Alhamdulillah.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 22 Oktober 2019

Sumber foto:dokumentasi pribadi

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week4
#day22
#SelasaTemaBebas
#RNB33
#rumahmediagrup

Sokaraja, 10 Mei 2019
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan