Curahan Hati Depresi ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mindfulness Parenting Tulisan Ribka ImaRi (Owner) Writing For Healing

Memang Begitu Menjadi Ibu

Oleh: Ribka ImaRi

-Hari Kamis sore-Sabtu pagi air PAM mati membuat cemas karena kabarnya PAM akan mati selama seminggu. Sementara cucian baju dan piring menumpuk semua. Rumah kotor.

-Hari Jumat malam, mendapat kabar bahagia dan bangga dari MA (Manager Area) Mbak Emmy Herlina sekaligus kabar yang bikin syok, sedih dan kesal dari sahabat.

-Hari Sabtu pagi mendapat kabar menakutkan dari Mama di Jakarta, bapak mau menusuk orang.

-Hari Sabtu magrib mendapat kabar mengkhawatirkan di masa pandemi.

-Hari Minggu-Selasa pagi, berkutat mendamaikan beberapa tetangga yang berselisih paham.

Emosi cemas, bahagia, kesal, sedih, takut, khawatir dan menegangkan.

MasyaAllah … emosiku campur aduk saat masalah menggempur bertubi-tubi seakan tiada henti. Hanya karena tubuh ini buatan Allah, aku bisa tetap sehat jiwa raga sampai detik ini.

Ternyata hari ini, Selasa, adalah hari pertama haidku. Takjub masyaAllah, tanpa rasa sakit di kepala, badan, dan perut sama sekali. Tanpa pelampiasan amarah sama sekali. Tenang … adem ayem penuh cinta. Rasanya belum pernah aku sedamai ini menghadapi fase menstruasiku.

Kalau dulu, sejak gadis, seminggu sebelum haid, sudah pasti nyeri perut dan uring-uringan tidak jelas. Setelah menjadi istri dan ibu, tak jarang melampiaskan semua tumpukan emosiku ke suami dan anak. Saking lelahnya menjadi ibu. Ingin rasanya pergi jauh entah ke mana. Bila mungkin bersembunyi di lubang semut. Nyatanya lebih sering belum bisa ke mana-mana sampai pekerjaan rumah tuntas.

“Emang begitu jadi ibu, sabar-sabarin aja.”

Dulu, aku paling benci kalimat di atas. Kupikir, kurang sabar apalagi aku ini? Hah!” Semua kukerjakan sendiri tanpa ingin mengeluh. Akan tetapi, kok terasa berat ya beban pekerjaanku ini?

Aku mencari ke sana ke mari, tak ada yang memberitahuku cara bersabar yang sesuai kondisiku. Sebab aku bertanya pada mama pun, keadaan beliau tidak ada yang sama persis dengan keadaanku. Bertanya ke tetangga yang senior, bukannya dikasih tahu caranya, malah membaca pencapaiannya yang terkesan tanpa kendala. Bertanya ke para sahabat, terkesan aku yang paling menderita sedunia

Hingga akhirnya Allah tunjukkan jalan aku belajar MINDFULNESS PARENTING secara online lewat Pak Mentor Supri Yatno pada bulan Juni 2016. Sejak saat itu, aku terus menerus berlatih teknik-teknik mindfulness. Selama empat tahun lebih aku terus melatih diriku agar bisa stabil emosi di saat banyak masalah menghampiri tiada henti.

Percayalah … sampai sekarang masalah itu tetap ada. Namun, karena aku sudah lebih stabil emosinya, jadi tumpukan cucian ini bisa dengan ringan terurai dan mencuci sebanyak ini tanpa beban.

Sebab yang sebenarnya terjadi, hal yang memperberat beban pekerjaaan ibu rumah tangga adalah belum cakap mengelola emosi dengan baik. Sehingga berbagai macam emosi membebani.

Aku tidak ingin menjadi ibu yang begitu-begitu saja pada umumnya. Seumur hidup sampai menua nanti. Setiap ada masalah sedikit, langsung mengamuk. Ada tumpukan pekerjaan rumah bikin cemberut bahkan meledak pada suami atau anak.

Namun sekarang, aku mau terus berjuang menjadi ibu yang tetap bisa panjang sabar, murah senyum bahkan banyak peluk dan cium untuk suami dan anak meski banyak masalah sedang membelenggu jiwa. Aku tetap mengerahkan teknik PAUSING (jeda sesaat untuk atur napas), ACCEPTANCE (menerima keadaan satu per satu) dan BSE (Buang Sampah Emosi dengan mengerjakan pekerjaan rumah jadi lama-lama plong).

Kulepaskan satu per satu hal yang di luar kendaliku seperti air PAM yang mati. Dengan kepala dingin, kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam-dalam, aku bicara lembut pada suami agar mau diajak memperbaiki mesin pompa air. Alhamdulillah beliau mau. Setidaknya satu masalah selesai.

Lalu perlahan aku bisa menerima satu per satu masalah. Termasuk tumpukan cucian ini. Aku terima, setinggi apapun tumpukan cuciannya, dengan helaan napas dan kukerahkan bismillah dan rasa suka cita, lalu menjadikan keadaan terasa lebih ringan. Sebab jika semakin kutolak dan menggerutu, aku akan merasa semakin lelah. Penerimaan tidaklah akan mengubah keaadaan, tetapi penerimaan akan meringankan beban, setidaknya beban perasaan.

Mau memilih menjadi ibu yang begitu-begitu saja atau ibu yang luar biasa? Pilihan ada di tangan kita sendiri, ibu. Jika ingin menjadi ibu yang luar biasa, yang cakap mengendalikan emosi. yuk ikut kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Batch 12.

Kelas MIC Batch 12

Tanggal 13-20 Desember 2020

Hubungi Mentor Ribka ImaRi wa.me/6285217300183

Investasi 99ribu kelas wa grup

Investasi 199ribu kelas wa grup+privat wapri selama 1 jam.

Sokaraja, 8 Desember 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 30 buku Antologi sejak Januari 2019. (Sebanyak 17 antologi sudah terbit, 12 NuBar di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-2020)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan