Curahan Hati Latihan Menulis Komunitas Non Fiksi

Masa Lalu yang Menipu

Masa Lalu yang Menipu

“Pokoknya aku minta cerai sekarang juga, Mas!” ucap Lasiyah tegas. Tanpa menunggu alasan apapun lagi dari suaminya.

Perempuan berumur 23 tahun dengan mata lebar, kulit kuning langsat dan rambut panjang terurai sepinggang itu telah membulatkan tekadnya.

Ia begitu terluka mendapati kenyataan bahwa dirinya hanyalah istri kedua dari Mas Darno, suaminya.

Suami yang dicintainya dengan segenap hati. Menikahi dirinya dengan keterangan status perjaka. Namun ternyata sudah mempunyai istri pertama. Lasiyah benar-benar merasa tertipu.

Meski ia tahu suaminya pun sangat mencintainya. Ia kerap dihadiahi kecupan bertubi dan barang berharga melimpah sepulang suaminya mengantar barang ke luar kota. Sebagai bentuk bahasa cinta sejak masih pengantin baru. Hingga kini hampir menginjak usia perkawinan di tahun ketiga.

Suaminya yang romantis dalam ucap dan laku telah membuatnya semakin mencintainya. Tapi semua seakan sirna karena kebohongan yang tak termaafkan. Meski cinta itu pastilah tetap ada, namun bencinya pun tak tertahankan pada suaminya yang telah tega menipunya.

Walaupun seribu alasan diutarakan suaminya. Menggelapkan status menjadi perjaka agar bisa segera menikahi dirinya. Saking cintanya, katanya. Tetapi alasan romantis itu tetap tak bisa diterima Lasiyah. Sungguh, ia tak ingin menyakiti kaumnya sesama perempuan.

“Bagaimana mungkin suamiku menikahi ku dengan status perjaka ternyata sudah punya istri dan dua anak?” jerit batinnya. Tanya ini tak jua kunjung bertemu jawabnya hingga Lasiyah tertidur dalam tangis. Sambil memeluk anak semata wayangnya yang lebih dulu terlelap tidur.

***

Siang itu, setelah turun dari angkutan umum perkotaan (angkot) berwarna hijau, Lasiyah berjalan kaki menyusuri gang kecil dibilangan Pamulang. Dengan menggendong putra kecilnya yang bernama Agus Wirawan. Batita yang belum genap berusia 2 tahun.

“Panas ya, Nak. Maafin Ibu ya, Sayang. Ibu lupa tak membawakanmu topi. Juga payung untuk kita. Kepalanya ditutup kain gendongan saja ya,” Lasiyah segera meraih kain jarit pada bagian yang menjuntai ke depan untuk menutupi kepala batitanya.

Pandangannya mulai kabur karena mata lebarnya mulai berembun saat tangannya membuka secarik kertas kecil berisi alamat seorang. Dadanya terasa nyeri luar biasa membayangkan kenyataan yang sebenar-benarnya akan dihadapinya sebentar lagi.

“Maaf Bu … permisi, numpang tanya. Kalau alamat rumah ini, sebelah mana ya, Bu?” tanya Lasiyah setelah berjalan beberapa ratus meter dari jalan besar. Tetapi belum juga menemukan rumah dengan alamat yang dicarinya.

Gang kecil dengan rumah padat penduduk membuatnya sedikit bingung. Karena nomor rumah yang tidak urut.

“Ooh … rumah Mas Darno yang supir truk ya, Neng?” tanya ibu setengah baya itu menegaskan.

“Iya, Bu. Mas Darno supir truk yang asli Solo,” jawab Lasiyah membenarkan.

“Oh, iya benar. Itu Neng rumahnya. Rumah yang catnya hijau. Ada pohon mangganya. Istrinya namanya Marni. Coba saja ditanya langsung,” jelas si ibu setengah baya panjang lebar pada Lasiyah. Sambil menunjuk ke sisi kiri tempat ia berdiri.

“Baik, Bu. Saya akan tanya langsung. Mari, Bu … terimakasih,” Lasiyah menjawab sekaligus pamit.

***

“Assalamualaikum….” Diketuknya pintu rumah dengan cat berwarna hijau ini. Dadanya bergemuruh. Cinta, rindu, dendam dan rasa tertipu campur aduk menjadi satu.

***

Mbak Marni sangat baik orangnya. Lasiyah tidak tega mengakuinya. Lasiyah hanya mengaku bahwa ia adalah istri dari teman dekatnya Mas Darno yang bernama Supri.

Pada Marni, Lasiyah bercerita bahwa suaminya sudah 2 bulan tidak pulang ke rumah. Lalu ia nekad mencari ke pangkalan truk. Tempat para supir truk biasa berkumpul. Dan dari supir truk lainnya di sana, Lasiyah mendapat informasi nama Mas Darno. Untuk itulah kedatangannya menemui Mas Darno. Lasiyah ingin mencari tahu keberadaan suaminya.

“Sayangnya Mas Darno sedang tidak di rumah. Sudah 3 hari nyupir ke Jawa Timur katanya.” Cerita Mbak Marni dengan polosnya. Sesaat setelah beberapa lama mereka berbincang ringan.

Mbak Marni malah menawari Lasiyah untuk menginap, “menginap di sini saja dulu. Sampai Mas Darno pulang. Nanti bisa tanya langsung kabar suamimu. Kasihan malam-malam pulang sendirian, jauh dan bawa anak kecil pula.” Sambil melirik ke arah Agus dan Sekar. Sepasang batita seumuran yang sedang bermain bersama. Agus, anak Lasiyah. Sekar, anak Mbak Marni.

“Baik, Mbak. Terimakasih sebelumnya. Maaf kalau saya jadi merepotkan.” ucap Lasiyah setuju. Sebab ia tahu Mas Darno tak mungkin pulang sampai lusa. Jadi masih ada waktu untuknya menginap bahkan sampai besok malam. Meluahkan semua penatnya.

Padahal, tak lain dan tak bukan. Suami Lasiyah adalah suami Mbak Marni. Sungguh, Lasiyah tak tega mengakui bahwa dirinya adalah istri kedua Mas Darno.

Hatinya nyeri melihat keadaan Mbak Marni. Perempuan ini sangat polos perihal kenyataan tentang suaminya. Tetapi sangat luwes mengurus balita dan batitanya yang hanya selisih 1 bulan dengan Agus, anaknya.

Pagi itu, setelah hampir 24 jam bersama, dari mulai masak bersama kemarin siang. Lalu mencuci baju bersama tadi pagi. Dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya sambil berbincang tentang Mas Darno. Lasiyah masih tetap bungkam mengenai kenyataan dirinya juga istri mas Darno. Sampai berpamitan pun, Lasiyah masih tetap belum mengakui bahwa ia adalah istri kedua Mas Darno.

Sungguh, ia tak sampai hati menyakiti perempuan polos dihadapannya. Bahkan sampai berpelukan hangat tanda perpisahan terakhir. Karena pada akhirnya, hingga akhir hayat Mbak Marni tetap tidak mengetahui bahwa suaminya pernah menikah sebanyak 2 kali.

Baginya, semua ini sudah cukup. Nyata dan jelas untuk bekalnya meminta cerai pada suaminya nanti sepulang suaminya mengirim barang dari Jawa Timur.

Biarlah Mbak Marni tetap tahunya bahwa Mas Darno adalah suami yang terbaik dalam hidupnya. Bukan hidupnya Lasiyah. Kendati Lasiyah tetap mencintainya hingga detik ini.

***

7 tahun sudah berlalu …

Sejak Lasiyah bercerai dengan suami pertamanya, Mas Darno. Tanpa istri pertamanya, Mbak Marni, tahu kalau dirinya pernah dimadu. Kini Lasiyah sudah menikah lagi.

Dengan suami keduanya ini, Lasiyah tak pernah mengenyam kebahagiaan layaknya suami istri seperti saat masih terikat pernikahan dengan Mas Darno.

Sebab Lasiyah harus mencari nafkah sendiri sedari awal menikah. Dan mendapat kekerasan verbal hampir setiap detik dari suami keduanya ini. Sebuah perlakuan yang tak pernah didapatnya dari suami pertamanya dulu. Mas Darno yang hampir selalu bertutur kata lembut. Ada rasa rindu pada masa lalunya.

Sementara kini, ada rasa ingin menyerah dan mengakhiri saja pernikahan keduanya ini. Namun masa lalu perceraiannya dengan suami pertama begitu menoreh luka batin yang teramat dalam. Terutama saat memikirkan Agus Wirawan anak pertamanya yang kini diurus kakeknya–bapak kandung Lasiyah–di kampung halaman.

Lasiyah tak ingin ketiga anak dari hasil pernikahan keduanya ini, mengalami seperti yang Agus–anak pertamanya–alami.

“Masa laluku memang menyakitkan … dan masa sekarangku tak juga lebih baik. Bahkan lebih menyakitkan. Tetapi apa kata orang kalau aku bercerai lagi? Bagaimana nasib anak-anakku jika tanpa bapak lagi?” Gumam Lasiyah dalam hati.

Ia nekad bertahan selama 40 tahun lamanya. Mengalami KDRT ekonomi dan verbal seumur hidup pernikahan. Hanya kekuatan dari Allah yang membuatnya mampu bertahan.

Dan hanya demi tak menyandang status janda lagi. Serta demi anak-anaknya tetap mempunyai bapak yang tinggal seatap. Meski hati mereka terasa tak seatap lagi. Sebab tak pernah ada perasaan harmonis di dalam keluarga kecil Lasiyah. Akibat peran kepala keluarga yang tidak berfungsi.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 20 September 2019

Sebuah faksi. Kisah nyata berbalut fiksi.

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#RumediaNubarBla
#menulismengabadikankebaikan
#RNB33
#week3
#day3
#temaMasaLalu

Sumber gambar : fimela.com

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan