Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Parenting Online Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Makian Itu Menjadi Kenyataan (Bagian 3-Tamat)

Oleh : Ribka ImaRi

Baca cerita sebelumnya

Makian Itu Menjadi Kenyataan Bagian 1

Makian Itu Menjadi Kenyataan Bagian 2

‘Ananda Imaduddin Muhamad Nur Bin Fathkurrahman Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan dengan putriku yang bernama Ribka Triwahyu Listiyaninsih Binti Sugiman dengan maskawinnya berupa seperangkat alat salat dan uang satu juta tujuh ratus delapan puluh dua ribu dan sepuluh rupiah, tunai.

Sebaris panjang kalimat ijab kabul dengan maskawin yang melambangkan angka pernikahanku dengan pria yang membawaku menjadi mualaf. Kalimat yang sangat kuharap bisa diucapkan oleh bapak kandungku. Nyatanya hanyalah fatamorgana pada pernikahanku di tanggal 17 Agustus 2010.

Ya, setelah aku tertatih menata hati demi menerima kenyataan bahwa nama bapak kandung tak akan pernah tercantum di akta lahirku. Ada satu lagi kenyataan hidup yang harus kuterima. Yakni tak akan mungkin bapak biologis menjadi wali nikahku meski beliau masih hidup dan serumah denganku sebelum menikah.

Sungguh … walaupun ini berat, aku berusaha menerima satu per satu kenyataan hidup. Namun, semua semakin terang benderang rasa yang menyakitkan hati, beliau tak bersedia ikut hadir di acara pernikahanku.

Bahkan beliau pergi begitu saja saat mama, aku dan calon suamiku berpamitan pergi dari rumah kami di Kembangan Jakarta Barat. Karena hari itu kami akan melakukan perjalanan jauh untuk melangsungkan pernikahan di Tambak, Kabupaten Banyumas. Sebab aku dan calon suamiku memilih menumpang nikah di desa calon suami. Padahal aku sudah menyampaikan perihal pamitku pada bapak sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan lamaran calon suamiku pun tak digubrisnya. Mungkin karena saat itu aku telah berbeda agama dengan bapak.

Lagi-lagi hatiku hancur berkeping-keping. Air mataku jatuh berderai. Tak dapat kuterima dengan akal sehatku bahwa bapak kandungku tidak ada sama sekali hadir dan menyaksikan pernikahanku.

Namun, aku tetap mencoba tersenyum seperti di foto. Saat aku masih menggunakan kebaya pernikahan.
Aku berusaha tersenyum bahagia walau hati perih penuh luka.

Kusematkan dalam hati, aku tak ingin menunggu bahagia baru tersenyum. Tetapi aku berusaha tersenyum dulu supaya aku merasa bahagia. Walaupun hanya mama dan budhe (ipar mamaku) yang menemani. Tidak ada bapakku dan tak pula ada saudara kandung yang menyaksikan pernikahanku. Wajah tersenyum bahagia meski dalam hati sedih mendalam.

Kesedihan mendalam itu tertutup rapih dalam balutan make up dan kebaya penganti berwarna gold yang cantik bagiku. Walaupun menghadirkan seribu tanya bagi para hadirin. Mereka seperti memandang nelangsanya aku yang masih mempunyai bapak dalam keadaan hidup tetapi tidak mendampingi saat menikah. Dalam hatiku bergumam, ‘Mending bapak mati sekalian. Jadi jelas statusku tanpa Bapak.’

Akan tetapi sedih itu tak bisa ditutupi dari wajah mama yang berfoto bersebelahan denganku. Kini aku baru bisa memahami mengapa wajah mama tampak begitu sedih.

Menyaksikan pernikahanku–yang tanpa kehadiran sosok bapak–yang juga suaminya, sama dengan mengulang film kenangan masa lalu di hari pernikahan mama yang juga tanpa bapaknya (kakekku). Oleh sebab kakek berada jauh di kampung dan tak mungkin dihadirkan dalam pernikahan mamaku dengan bapak kandungku.

Ini semacam mata rantai yang belum terputus. Akhirnya membuatku bertekad kuat untuk memutus rantai nasib buruk ini. Aku berjuang membangun rumah tangga yang sehat jiwanya. Sesulit apapun perjuangannya, aku memohon kepada Allah SWT dengan sekuat tenagaku dan mengajak suamiku untuk berjuang membaik supaya keluarga kecil kami bisa tetap lengkap.

Agar aku dan suami bisa mewariskan kehidupan pernikahan yang lazim, sehat, utuh dan normal untuk Tyaga dan Jehan kelak. Terlebih untuk Jehan, anak gadisku. Jangan sampai Jehan mengalami hal yang sama seperti bundanya dan mbah utinya.

Bismillah rantai perlukaan batin ini harus putus. Cukup sampai diaku saja. Aku berdoa agar Allah SWT memanjangkan usiaku sehingga dapat mendampingi Tyaga dan Jehan sampai menikah kelak.

Belajar mindfulness Parenting di tahun 2016 membuatku menyadari bahwa keluargaku bersama kedua orangtua mengalami hubungan keluarga yang disfungsional. Sebab bapakku tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Dysfunctional Family (DF) atau disfungsi keluarga mengartikan sesuatu yang gagal berfungsi dengan benar atau tidak dapat menyelesaikan fungsinya, melalui perilaku negatif seperti pelecehan, apatis, kelalaian, atau kurangnya dukungan emosional.

Keluarga dengan DF biasanya menunjukkan ketidakharmonisan atau ketegangan antara orangtua dan anak. (Fahdila Afifa. 2018. Penyebab Terjadinya Disfungsi Keluarga, Pemicu Keretakan Rumah Tangga! Nakita. Nakita.grid.id. https://nakita.grid.id/read/021246899/penyebab-terjadinya-disfungsi-keluarga-pemicu-keretakan-rumah-tangga?page=all. Diakses 29 Oktober 2019).

Hal ini semua yang membuat inner child negatif dalam diriku. Aku pernah sangat takut menikah. Takut kalau sampai suamiku mirip perilakunya dengan bapakku. Padahal kenyataannya suamiku 90% jauh lebih baik dari bapakku.

Namun, nyata di depan mata, suamiku pernah membuatku meradang. Akibat aku terpicu kenangan masa kecilku yang telajur terekam di otakku. Menghadirkan sosok bapak yang pernah sangat kubenci. Suamiku benar-benar memicu inner child-ku bahkan sekadar membentak, “Diam, kamu!” Perih rasanya. Membuatku mendadak menangis histeris.

Kelebat pikiranku seketika mengingat bapakku yang hampir selalu membentakku sedari kecil hingga aku dewasa menjelang menikah.

Catatan :
-Ini kisah nyata hidupku (Ribka Triwahyu Listiyaningsih dengan nama pena Ribka ImaRi)
– Kisah sejarah mengapa nama bapakku tak tercantum di akta lahir dan kisah aku menata hati dan banyak memaafkan hingga bisa berdamai dengan bapakku, akan dibahas rinci di buku solo nantinya. Doakan ya, Sahabat ImaRi’s.

Sokaraja, 24 Juli 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan