ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness

Makian Itu Menjadi Kenyataan (Bagian 2)

Sumber foto:dokumentasi pribadi dan admin RNB

Oleh : Ribka ImaRi

Baca Makian itu Menjadi Kenyataan (Bagian 1)

Aku terpuruk, tertunduk dalam karena malu dan takut. Entah mengapa aku sangat takut saat itu. Mungkin takut tidak lolos syarat pembuatan paspor. Karena pada akhirnya, aku tidak menyertakan akta lahirku. Hanya memakai Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), ijazahku saat SMU (Sekolah Menengah Umum) seperti saran dari pengurus di travel agen.

Setelah hatiku hancur berkeping-keping menyadari statusku tak berbapak seperti yang ditegaskan oleh selembar akta lahir. Kenyataan menjadi berat kuterima. Ketika sebenarnya bapak kandungku ada serumah dengan mama dan aku. Lututku dan seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Bagai tulang lepas dari raga membuatku urung mengambil akta lahirku di DisdukCapil (Dinas Kependudukan Catatan Sipil).

Bisakah dibayangkan kegamanganku? Dimulai saat menjelang usia remaja, kala pencarian jati diri dimulai. Namun tak kunjung kutemukan hingga usiaku 28 tahun. Saat kertas pengakuan berupa akta lahir itu sudah berada di tanganku.

Namun, hidup harus tetap berjalan. Aku harus berdiri tegar melanjutkan proses pembuatan paspor demi keberangkatan ke Kuala Lumpur. Aku sungguh sangat bersyukur, atas kemurahan Allah SWT saja, aku bisa berada disini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Akhirnya aku bisa berdiri di Tugu Peringatan Negara Malaysia. Meskipun dalam hati rapuh, kosong dan menangis, tetapi di luar aku bisa tetap tertawa bahagia mengikuti perjalanan wisata yang tak akan terlupakan seumur hidupku.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Walaupun hatiku masih sangat membenci bapak, tetapi saat itu aku cukup sadar bahwa aku bisa hidup sampai di usia 28 tahun dan bisa terbang ke luar negeri pun bukan hanya atas kemurahan Allah saja, tetapi juga atas jasa bapak dan mama yang sudah merawat dan mengurusku hingga aku menjadi gadis dewasa yang sehat.

Hidupku selalu ada dua kutub bertolak belakang. Satu sisi sudah pasti aku bahagia karena bisa berangkat wisata ke luar negeri. Gratis pula. Tak membayar serupiah pun, malah mendapat uang saku selama perjalanan.

Namun di sisi lain, ada rasa cemas, sedih mendalam, geram karena kemarahan terpendam luar biasa sedari kecil menjadi inner child negatif sampai dewasa. Itulah yang menghalangi kebahagianku selama ini. Sejauh mana pun kaki melangkah dan seindah apapun hidupku, kesedihan mendalam di masa kecil hingga dewasa itu terus membayangi.

***

Bagi yang mau belajar menggali dan mengasuh inner child-nya bisa mengikuti kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Batch 7. Diajarkan salah satu teknik pausing, yaitu dengan memejamkan mata agar tidak melotot pada anak, menggigit bibir agar tidak menyumpah serapah pada anak seperti bapakku sumpah serapah, “Lu bukan anak gua”, dan mengepal tangan agar tidak menyakiti anak dengan tangan. Dikelas MIC akan diajarkan melalui video. Silakan hubungi Mentor Ribka ImaRi di whatsapp 085217300183.

Akibat terngiang caci maki bapak dengan segala kekerasan verbal yang menggema di seisi rumah. Meski aku sedang bergembira ria, tetap saja ada rasa merana di tengah canda gurau bersama tim dalam perjalanan wisata ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Inilah yang ternyata berkembang menjadi diagnosa bipolar pada sembilang tahun kemudian ketika aku berobat ke psikiater. Kutub bahagia dan sedih yang selalu hadir bersamaan. Akhirnya, aku menemukan akar bipolarku. Semua perasaan berkecamuk itu harus bisa aku hempaskan demi aku menggapai bahagiaku.

Tak ada seorangpun yang tahu bahwa aku sedang berjuang belajar menerima kenyataan hidup tentang sosok bapak. Beliau ada, tetapi seperti tidak ada. Beliau ada sebagai bapakku, tetapi tidak ada namanya di dalam akta lahirku membuatku terus bertanya meski aku tahu jawabnya bukan karena aku anak di luar nikah.

-Ribka ImaRi-

Sokaraja, 27 Oktober 2019

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week4
#day27
#MingguTemaBebas
#RNB33
#rumahmediagrup

Sokaraja, 3 Juli 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan