Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness

Makian Itu Menjadi Kenyataan (Bagian 1)

Tulisan ini terpilih menjadi salah satu dari tujuh tulisanku yang terfavorit di challenge Rumedia Nubar Bla (RNB) Batch 1 yang diadakan oleh Penerbit Rumedia pada tanggal 30 Juni sampai 31 Oktober 2019.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sebuah kisah nyata dalam hidupku. Saat aku menulisnya, semua luka batinku sudah sembuh. Aku sudah bisa tertawa lepas. Karena sudah bisa memaafkan bapak hingga ke dasarnya. Seperti dasar laut di belakang fotoku. Aku pun sudah melalui proses islah pada tanggal 28 Oktober 2017.

Baca juga Proses Islah dengan Bapakku yang Paling Kubenci Selama 37 Tahun Usiaku

Aku meminta maaf pada beliau. Meski nyata-nyata beliau yang salah sebagai orangtua. Namun aku sadar, aku pun pernah turut andil memperkeruh keadaan dengan membencinya selama puluhan tahun pernah membuatku menderita kista endometriosis selama 17 tahun lamanya.

Baca juga Mindfulness untuk Dismenore, Nyeri Haid Hebat

Demi melepaskan kebencian itu, aku meminta maaf dan memaafkan beliau lebih dulu. Dengan sepenuh jiwa, nyata benar membuat jiwaku menjadi tenang. Luruh semua kemarahan terpendam selama 37 tahun usiaku. Lalu memeluk lebih dulu dengan hangat. Proses tanggal 28 Oktober 2017. Syukur alhamdulillah.

Baca juga Radical Acceptance Tak Ingin Membawa Luka Batin Sampai Mati

***

Makian Itu Menjadi Kenyataan (Bagian 1)

Oleh: Ribka ImaRi

“Jadi aku ini anak siapa?” tanyaku lirih dalam isak. Aku menunduk terkulai sambil memegang dan memandang boneka plastik yang kuletakkan di kaki. Boneka plastik yang telah lusuh tanpa baju. Boneka masa kecilku. Boneka yang dibelikan bapak ketika aku masih usia balita. Boneka yang pernah membuatku ketakutan karena bisa menangis saat empengnya dicabut.

Sumber foto: dokumentasi admin RNB

‘Aku benci Bapak! Aku benci Bapak! Aku benci Bapak! Aku benci banget sama Bapak!’ teriakku dalam hati sambil mengepalkan kedua tangan seraya tetap memegang boneka plastik. Padahal aku ingin sekali meneriakkan kata-kata itu di depan bapakku. Bahkan di depan wajahnya. Namun, sungguh aku tidak bisa. Suaraku tercekat di tenggorokan.

‘Jadi aku ini anak siapa?’ gumamku pilu dalam tangis yang tertahan. Hanya air mata yang mengalir deras. Hatiku sangat pilu. Batinku pilu sepilu-pilunya setiap kali terngiang ucapan disertai sumpah serapah yang tak seharusnya keluar dari mulut seorang bapak. Sosok yang seharusnya melindungi aku, putri kecilnya ini.

‘Lu bukan anak gua! Lu emang anak setan! Membantah saja kerjanya! Bangsat kamu ya!’ Bukan hanya sumpah serapah ini yang menancap di batinku, tetapi tatapan bengis mata bapak bagai nyata di pelupuk mataku. Tak bisa hilang walau mataku terpejam membuatku pernah mengalami gangguan sulit tidur.

Setiap kali teringat ucapan bapak, aku terkesiap kaget. Membuat mataku kembali terjaga dan jantungku berdebar sangat keras. Lalu tanpa dapat dibendung lagi, air mataku semakin mengalir deras. Aku menangis tanpa suara karena saking sedihnya. Hatiku hancur. Aku merasa tidak berharga. Ketika itu aku belum tahu apa arti depresi. Namun yang kurasakan, aku benar-benar ingin mati saja. Perasaan yang alamiah muncul bahkan saat aku masih duduk di bangku SD. Sekitar tahun 90-an.

Selama dua jam, aku menangis seorang diri di pojok kamar dekat jendela. Tak ada seorangpun yang menemani apalagi memelukku. Sebab mama sedang berjualan di pasar.

Sejak aku duduk di kelas satu SD, yang kuingat, mama lah yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Karena bapak tidak bekerja sama sekali. Kerjanya hanya marah, marah dan marah. Setiap detik penuh amarah yang meledak-ledak.

Aku capek. Jantungku lelah karena selalu berdegup kencang saat menyaksikan bapak marah. Sebagai anak yang baru beranjak remaja, aku putus asa setiap kali mendengar bapak menyumpahiku seperti itu.

Pernah beberapa kali aku menanyakan kepada mama, “Ma, emang Nok bukan anak Bapak, ya?”

“Ya … anak Bapaklah. Kalau bukan anak Bapak, Masa iya Mama selingkuh? Sudah, ga usah di dengar omongan Bapak kalau lagi marah-marah.” Mama menasihatiku dengan ringannya. Tak kudengar ada kesan rasa empati sedikitpun. Padahal hatiku sedang hancur berkeping-keping.

Siang itu sepulang sekolah tingkat pertama dengan seragam putih biruku. Usiaku masih sangat belia. Entah mengapa aku sudah punya pikiran di luar akal sehat.

‘Nyebur aja ke sungai. Nggak ada seorang pun yang peduli. Aku memang bukan anak bapak.’ Bisikan dan dorongan itu begitu kuat. Namun kala itu aku masih takut dosa. Aku memikirkan bagaimana jadinya kalau aku mati karena bunuh diri. Netraku menerawang ke angkasa membayangkan arwahku melayang-layang jika aku mati tenggelam dan hanyut. Sebuah pikiran polos anak perempuan berusia sebelas tahun.

Bertahun-tahun berlalu … ucapan bapak dan sumpah serapah masih sering kuterima di depan mata. Aku semakin menjadi gadis pembangkang. Darah mudaku tak mampu menerima begitu saja perlakuan bapak kepada mama. Mama yang sudah mencari nafkah untuk kami serumah tetapi tetap saja setiap hari harus menerima ledakan kemarahan bapak penuh caci maki.

Seolah menjadi juru bicara mama, aku membantah semua makian bapak. Membuat bapak semakin kalap dan bengis melihatku. Kalau sudah begitu, hanya menangis berjam-jam yang bisa aku lakukan. Sampai sekujur tubuhku terasa kesemutan. Selalu saja seperti itu alurnya. Aku benci kedaaan yang demikian.

Aku tumbuh dewasa dalam kegamangan tentang status anak dari bapakku. Hingga suatu hari aku menerima sebuah kenyataan pahit. Kenyataan yang pernah membuatku otakku blank dan seakan tidak berpijak pada bumi. Aku

***
Di tahun 2008, kantor tempatku bekerja memberi insentif tahunan dalam bentuk perjalanan wisata ke Kuala Lumpur, Malaysia. Aku berjingkrak kegirangan karena masuk dalam daftar karyawan yang mendapat insentif. Seluruh karyawan diminta mengumpulkan akta lahir sebagai syarat pembuatan paspor. Karena pembuatan paspor akan diurus oleh kantor secara kolektif. Seketika hatiku sedih karena ternyata hanya aku yang tidak memiliki akta lahir.

“Hari gini ga punya akta lahir?” tanya salah seorang teman kantor. Aku hanya terdiam. Sedih sekali rasanya. Tulangku terasa copot semua akibat panik membayangkan kemungkinan terburuk. Bisa jadi hanya aku yang akan terjegal keberangkatannya. Padahal, ini adalah kali pertama aku akan mendapat pengalaman keluar negeri, gratis pula!

Sesampainya aku dirumah, aku mengamuk di depan bapak. Gara-gara beliau yang tak mengurus akta lahir, sekarang aku jadi kesulitan seperti ini. Amukanku disambut amukan bapak.

“Sebodo amat! Emangnya gua pikirin urusan akta lahir!” Otakku mendidih demi mendengar jawaban bapak. Ingin rasanya ku tikam saja bapakku. Saat kelebat kata-kata ‘Lu bukan anak gua’. Apakah alasan ini yang membuat bapak tidak mengurus akta lahir? Entahlah ….

Dengan sisa tenaga dan emosi yang ada, aku mencoba mengurus sendiri pembuatan akta lahir. Ada rasa malu, sedih, kecewa, marah dan dendam semua bercampur aduk jadi satu. Mataku sembab kala menghadap petugas loket. Akibat menangis sepanjang perjalananku di atas motor dari rumah menuju Kantor Disdukcapil. Aku menangisi nasib mempunyai bapak seperti bapakku.

“Apa, Bu? Jadi bakalan tak ada nama bapak saya di akta lahir saya nantinya?”

Ya, Tuhan … benar saja! Di atas kertas berjudul akta lahir, benar-benar tak ada tertulis nama “Sugiman Hadi Suprapto” yang berstatus bapak dari aku, anak perempuannya yang bernama Ribka Triwahyu Listiyaningsih. Ya, namaku tercantum di atas selembar akta lahir tanpa nama bapak. Hanya ada nama mama saja yang tercantum.

Seketika pandanganku buram tertutup air mata. Aku harus kuat menahan luapan air mata jika tak ingin malu dilihat banyak orang yang juga sedang antri mengurus akta lahir. Ibu petugas loket hanya mengangguk pelan. Ternyata … makian belasan tahun lalu sejak masa kecilku, menjadi kenyataan di tahun 2008.

(Bersambung)

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 26 Oktober 2019
#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week4
#SabtuTemaDeskripsiGambarAnakGadis
#RNB33
#rumahmediagrup
rumahmediagroup/ribkaimari

Ditulis ulang dan direvisi
Sokaraja, 2 Juli 2020

Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

3 Komentar

  1. Hari-hari yang penuh kesedihan. Semoga tetap tegar ya mbak..

    Saya tunggu kelanjutannya.

  2. Ribka ImaRi says:

    Alhamdulillah karena Allah saja, bisa tegar sampai sekarang Pak. Terima kasih sudah mampir baca dan komen🙏

  3. Anonim says:

    Masya Allah, luar biasa. In syaa Allah akan selalu ada hal baik setelah masa-masa kelam terlewati. Saya pun baru punya akta lahir saat mau kuliah..he3

Tinggalkan Balasan