cerita bersambung Curahan Hati Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

Makian Itu Menjadi Kenyataan (Bagian 1)

Makian Itu Menjadi Kenyataan (Bagian 1)

(Proyek Buku Solo “Akar dan Pemicu dari Depresi dan Bipolarku)

Oleh : Ribka ImaRi

Tulisan ini terpilih menjadi salah satu dari tujuh tulisanku yang terfavorit di challenge Rumedia Nubar Bla (RNB) Batch 1.

“Jadi aku ini anak siapa?” tanyaku lirih dalam isak. Aku menunduk terkulai sambil memegang dan memandang boneka plastik yang kuletakkan di kaki. Boneka plastik yang telah lusuh tanpa baju. Boneka masa kecilku. Boneka yang dibelikan bapak ketika aku masih usia balita. Boneka yang pernah membuatku ketakutan karena bisa menangis saat empengnya dicabut.

‘Aku benci Bapak! Aku benci Bapak! Aku benci Bapak! Aku benci banget sama Bapak!’ teriakku dalam hati sambil mengepalkan kedua tangan seraya tetap memegang boneka plastik. Padahal aku ingin sekali meneriakkan kata-kata itu di depan bapakku. Bahkan di depan wajahnya. Tapi aku tidak bisa. Suaraku tercekat di tenggorokan.

‘Jadi aku ini anak siapa?’ gumamku pilu dalam tangis yang tertahan. Hanya air mata yang mengalir deras.

Hatiku sangat pilu. Batinku pilu sepilu-pilunya setiap kali terngiang ucapan disertai sumpah serapah yang tak seharusnya keluar dari mulut seorang bapak. Sosok yang seharusnya melindungi putri kecilnya.

‘Lu bukan anak gua! Lu emang anak setan! Membantah saja kerjanya! Bangsat kamu ya!’ Bukan hanya sumpah serapah ini yang menancap di batinku, tapi tatapan bengis mata bapak bagai nyata di pelupuk mataku. Tak bisa hilang walau mataku terpejam.

Setiap kali teringat ucapan bapak, membuat air mataku semakin mengalir deras. Aku menangis tanpa suar karena saking sedihnya. Hatiku hancur. Aku merasa tidak berharga. Ketika itu aku belum tahu apa arti depresi. Tapi yang kurasakan, aku benar-benar ingin mati saja. Perasaan yang alamiah muncul bahkan saat aku masih duduk di bangku SD. Sekitar tahun 90-an.

Selama dua jam, aku menangis seorang diri di pojok kamar dekat jendela. Tak ada seorangpun yang menemani apalagi memelukku. Sebab mama sedang berjualan di pasar.

Sejak aku duduk di kelas satu SD, mamalah yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Karena bapak tidak bekerja sama sekali. Kerjanya hanya marah, marah dan marah. Setiap detik penuh amarah yang meledak-ledak.

Aku capek. Jantungku lelah karena selalu berdegup kencang saat menyaksikan bapak marah. Sebagai anak yang baru beranjak remaja, aku putus asa setiap kali mendengar bapak menyumpahiku seperti itu.

Pernah beberapa kali aku menanyakan kepada mama, “Ma, emang Nok bukan anak Bapak, ya?”

“Ya … anak Bapaklah. Kalau bukan anak Bapak, Masa iya Mama selingkuh? Sudah, ga usah di dengar omongan Bapak kalau lagi marah-marah.” Mama menasihatiku dengan ringannya. Tak kudengar ada kesan rasa empati sedikitpun. Padahal hatiku sedang hancur berkeping-keping.

Siang itu sepulang sekolah tingkat pertama ….

‘Nyebur aja ke sungai. Ga ada seorangpun yang peduli. Aku memang bukan anak bapak.’ Bisikan dan dorongan itu begitu kuat. Tetapi aku takut dosa. Aku memikirkan bagaimana jadinya kalau aku mati karena bunuh diri. Netraku menerawang ke angkasa membayangkan arwahku melayang-layang jika aku mati tenggelam dan hanyut. Sebuah pikiran polos anak perempuan berusia sebelas tahun.

Bertahun-tahun berlalu … ucapan bapak dan sumpah serapah masih sering kuterima di depan mata. Aku semakin menjadi gadis pembangkang. Darah mudaku tak mampu menerima begitu saja perlakuan bapak kepada mama. Mama yang sudah mencari nafkah untuk kami serumah tetapi tetap saja setiap hari harus menerima ledakan kemarahan bapak penuh caci maki.

Seolah menjadi juru bicara mama, aku membantah semua makian bapak. Membuat bapak semakin kalap dan bengis melihatku. Kalau sudah begitu, hanya menangis berjam-jam yang bisa aku lakukan. Sampai sekujur tubuhku terasa kesemutan. Selalu saja seperti itu alurnya. Aku benci kedaaan yang demikian.

Aku tumbuh dewasa dalam kegamangan tentang status anak dari bapakku. Hingga suatu hari aku menerima sebuah kenyataan pahit.

***
Di tahun 2008, kantor tempatku bekerja memberi insentif tahunan dalam bentuk perjalanan wisata ke Kuala Lumpur, Malaysia. Aku berjingkrak kegirangan karena masuk dalam daftar karyawan yang mendapat insentif. Seluruh karyawan diminta mengumpulkan akte lahir sebagai syarat pembuatan paspor. Karena pembuatan paspor akan diurus oleh kantor secara kolektif. Seketika hatiku sedih karena ternyata hanya aku yang tidak memiliki akta lahir.

“Hari gini ga punya akte lahir?” tanya salah seorang teman kantor. Aku hanya terdiam. Sedih sekali rasanya. Tulangku terasa copot semua akibat panik membayangkan kemungkinan terburuk. Bisa jadi hanya aku yang akan terjegal keberangkatannya. Padahal, ini adalah kali pertama aku akan mendapat pengalaman keluar negeri, gratis pula!

Sesampainya aku dirumah, aku mengamuk di depan bapak. Gara-gara beliau yang tak mengurus akta lahir, sekarang aku jadi kesulitan seperti ini. Amukanku disambut amukan bapak.

“Sebodo amat! Emangnya gua pikirin urusan akta lahir!” Otakku mendidih demi mendengar jawaban bapak. Ingin rasanya ku tikam saja bapakku. Saat kelebat kata-kata ‘Lu bukan anak gua’. Apakah alasan ini yang membuat bapak tidak mengurus akta lahir? Entahlah ….

Dengan sisa tenaga dan emosi yang ada, aku mencoba mengurus sendiri pembuatan akta lahir. Ada rasa malu, sedih, kecewa, marah dan dendam semua bercampur aduk jadi satu. Mataku sembab kala menghadap petugas loket. Akibat menangis sepanjang perjalananku di atas motor dari rumah menuju Kantor Disdukcapil. Aku menangisi nasib mempunyai bapak seperti bapakku.

“Apa, Bu? Jadi bakalan tak ada nama bapak saya di akta lahir saya nantinya?”

Ya, Tuhan … tak ada tertulis nama “Sugiman Hadi Suprapto” yang berstatus bapak dari anak bernama Ribka Triwahyu Listiyaningsih. Namaku tercantum di atas selembar akta lahir tanpa nama bapak. Hanya nama ibu saja yang tercantum.

Seketika pandanganku buram tertutup air mata. Aku harus kuat menahan luapan air mata jika tak ingin malu dilihat banyak orang yang juga sedang antri mengurus akta lahir. Ibu petugas loket hanya mengangguk pelan. Ternyata makian itu menjadi kenyataan.

(Bersambung)

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 26 Oktober 2019

Sumber foto: admin Challenge Rumedia Nubar Bla (RNB) batch 1 dan dokumentasi pribadi.

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week4
#SabtuTemaDeskripsiGambarAnakGadis
#RNB33
#rumahmediagrup

Izin setor kepada para admin :
Emmy Herlina
Asri Susilaningrum
Lelly Hepsarini
Syarifah Nur Adni
Hadiyati Triono
Hayfa Ega Farzana Rafie
Fuatuttaqwiyah El-adiba
Siti Rachmawati M
Melani Pimpom Pryta Dewi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan