ImaRi's Blog Inner Child Mental Illness

Luka Hati dan Pikiran, Inner Child Ada Di Sana (Oleh: Rainia Santoso)

Oleh: Rainia Santoso

Well, saya ini suka bercerita. Dengan mulut dan tangan saya. Apapun bisa saya tuangkan dalam bentuk tulisan (dan perkataan), bila terbersit dalam pikiran saya. Seorang psikiater yang baru bisa saya temui satu kali dalam assesment session mendengar cerita dan melihat gestur saya menyebut sekilas, rem saya blong. Sayangnya karena ritme dan lokasi pekerjaan saya yang antar kota, subuh-isya, ditambah minimnya jadwal dokter tersebut, dan saya sudah lelah mencari psikiater yang recomended di kota saya, maka saya belum berkesempatan menemuinya lagi.

Singkat cerita, sejak tahun 2019 saya tergerak untuk mulai serius mencari informasi terkait problem-problem psikis saya, membuka pertemanan di media sosial dengan para penyintas, mencari rekomendasi untuk mendapatkan profesional help, masuk ke grup-grup yang relevan, dan sebagainya. Tahun-tahun yang lewat bukan berarti saya serta merta mendiamkan, namun setiap usaha selain belum maksimal, juga tidak ketemu ‘jalurnya’. Saya tidak akan menyebut 2019 sebagai titik balik, toh saya masih berkutat di kubang yang sama, masih kesulitan mengakses profesional help (psikolog dan psikiater), masih kesulitan memanage psikis dan pikiran Tapi setidaknya ada hal-hal baru yang saya lakukan, pintu-pintu berkarat yang sudah saya buka dan selang mampet yang sedang saya ganti dengan yang baru 😇.

Dari sekian banyak tulisan saya, belum pernah secara khusus saya membahas problem psikologis yang saya alami. Bukan malu atau tidak berani, tapi belum menarik hati ini untuk dituliskan. Saya bisa menulis tentang perokok, tentang buku, tentang gadget dan anak, tentang financial planning dan seterusnya hanya karena ketika itu terbersit dalam pikiran dan terdorong untuk menuliskan sudut pandang saya. Dengan dorongan salah satu terapis yang merupakan penyintas mental health yang saya kenal hanya dari dunia maya, namun pengakuan saya atas totalitas & kegigihannya saya akui secara nyata, saya sengajakan waktu & pikiran untuk menuliskan tentang ini (Terima kasih mba Ribka Imari).

Saya baru kenal terminologi Inner Child (IC) setelah gentayangan di media sosial, berkontak dengan para penyintas, seperti cerita di atas. Walaupun sudah bertahun-tahun saya pahami, apa yang membentuk pola pikir, karakter, sikap adalah didikan orang tua, perlakuan orang-orang terdekat, pengaruh lingkungan dan dorongan pengalaman hidup dan jalan terbaik untuk itu adalah Acceptance dan Forgiving.

Sebagai anak pertama dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan, papa saya dengan kerasnya mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang terasa benar. Ideal. Stragtegis. Visioner. Kerasnya papa itu termasuk dengan bentuk memukul, menyiram air, memaki-maki, memberi tugas-tugas yang sulit dan sebagainya. Ada terlalu banyak kenangan menyakitkan yang bisa saya ceritakan, karena ingatan saya merekam begitu banyak hal-hal yang melukai, sehingga mengaburkan hal-hal yang menyenangkan.

Saya termasuk anak yang berprestasi, dalam skala terbatas. Rangking 5 besar, selalu jadi ketua kelas, ketua kelompok, ketua bidang. Diikutkan berbagai lomba oleh guru, mulai lomba baca puisi, menari, lomba-lomba di kegiatan Pramuka, Patroli Keamanan Sekolah, PMI. Cerdas cermat yang satu kali bisa membidangi matematika, lain kali membidangi IPA, kali lainnya mewakili matpel bahasa dan sosial, melukis, dan sebagainya. Jadi bakat saya dimana ? Waktu SD-SMP, nyaris semua bidang bisa saya tampilkan dengan baik. Kecuali musik dan olahraga. Jangan salah, sekalipun tinggal di kota kecil, mengikuti papa yang pekerjaannya mengalami mutasi antar kota beberapa kali, saya sudah diikutkan les tenis, bulu tangkis, renang dan organ ! Jadi sibuk les itu bukan hanya tuntutan anak jaman now ya, saya SD-SMP di tahun 85 – 93an pun sudah jadi produk ambisi orang tua (saya menghabiskan masa TK-SMP di 2 (dua) kota kecil di Jawa Timur sebelum papa mutasi ke kota besar).

Saya semacam hidup di asrama militer. Setiap periode tertentu harus mengajukan proposal jadwal harian yang bisa dicoret-coret untuk disesuaikan dengan kemauan papa. Tiap hari ada target tertentu misal harus olah raga lari pagi sekian menit sebelum sekolah, harus cuci mobil (waktu saya SD, di rumah ada mobil dinas dan mobil pribadi), pulang sekolah mengerjakan apa, sampai malam hari ada detilnya. Bagaimana dengan hari libur ? Ada jadwalnya kak ! Karena saya aktivis sekolah, nggak cuma ke sekolah untuk mengikuti jam pelajaran dari pagi-siang, saya sering kali bersyukur dengan kesenangan saya berorganisasi itu. Papa memang support karena prinsipnya dia tidak mentolerir waktu rebahan berlama-lama sekalipun di hari libur. Jadinya saya banyak memasukkan agenda kegiatan diluar pelajaran itu di jadwal harian, bonusnya saya tidak perlu mempertanggungjawabkan secara khusus kegiatan itu dan tidak harus menghadapi tugas lain di rumah.

Setiap papa pulang, yang saya rasakan kecemasan. Papa tidak hanya bersikap keras pada anak-anaknya, namun juga terhadap mama dan orang lain yang berurusan dengannya. Mama itu dalam kacamata saya bisanya hanya masak, ngurus anak, ngurus rumah. Semua keputusan menyangkut pendidikan, rencana masa depan, dan keputusan strategis lainnya hanya di tangan papa. Mama tidak punya peran dalam berpendapat apalagi memutuskan, jangankan itu, membela dirinya sendiri saja tidak sanggup.

Jarak umur saya dengan ketiga adik saya agak jauh, 4 tahun. Sehingga saya tumbuh dengan kondisi harus ngemong dan tidak bisa mengharapkan dukungan adik-adik saya. Dukungan mama ? Boro-boro, liat saya mau dikepruk pakai meja kecil tempat saya belajar waktu masih kelas 1-2 SD saja, mama cuma jerit-jerit nyuruh saya masuk kamar. Suatu ketika saat dimarahi papa, yang sepanjang umur pernikahannya mama kena marah terus meski tidak sampai alami kekerasan fisik, dengan sesenggukan mama mendatangi saya (sekitar kelas 3-4 SD) dan minta dibunuh saat itu. Helooow saya musti gimana dong? Dikira papa mama, saya lupa dengan kejadian itu ? Tahu prasasti peninggalan kerajaan-kerajaan ratusan tahun lalu? Tempo berabad-abad saja banyak yang masih bisa dibaca karena kuatnya guratan, apalagi yang cuma puluhan tahun diukir di benak saya.

Anak berprestasi dan bisa diandalkan (iya dong, masa ketua kelas dan ketua ini itu bukan andalan? Gila aja) masih saja digebukin dan dimaki, belum tentu anak-anak yang nakal dan kurang cerdas diperlakukan sama. Karena itu saya sering berantem dengan teman laki-laki yang sudah tidak pintar di sekolah, nakalnya nggak ketulungan, semacam nggak terima gitu saya, kok dia nggak digebukin bapaknya, mending saya saja yang gebukin ya kan? Temen-temen perempuan bagaimana? Kalau tidak reseh, centil, tukang gosip mereka aman kok, tapi kalau berani bikin gara-gara, saya semprot juga hahaha. Ndak sampailah saya tonjok kayak cowok 😎

Dalam banyak hal prinsip yang dianut papa memang baik, diantaranya beliau anti kecurangan, tidak suka mengambil hak orang lain, tidak mau mengemis kebaikan orang dan sangat ringan tangan menolong orang lain. Papa meneruskan pola didik yang sama dari orang tuanya. Papa adalah siswa berprestasi di kotanya. Orang tua yang bercerai kemudian masing-masing menikah lagi, papa dan tiga adiknya ikut bapak kandung dan ibu tirinya. Orang tuanya ini sama kerasnya, ibu tiri ibarat versi sinetron di kehidupan nyata. Cerita-cerita kekejaman mereka berulang kali diceritakan kepada kami, yang konyolnya diduplikasi pula dengan pikiran bahwa model pendidikan semacam itu baik. Bedanya orang tua papa buta huruf dan miskin sehingga tak mampu membiayai anak-anaknya, sedang papa malah bisa menyekolahkan adik-adik tirinya dan menolong orang lain untuk hidup dan sekolah.

Saya bertumbuh dengan pola pikir perferksionis, cemas terhadap hal-hal yang sekiranya berat saya tanggung resikonya, tidak pandai mengelola emosi, baik emosi sedih maupun marah. Saya cenderung menuntut orang-orang di sekitar saya atau yang berhubungan dengan saya untuk memenuhi standar-standar kesempurnaan menurut saya. Misal, saya sangat aware dengan pengaturan waktu, dengan kebersihan, dengan kecepatan merespon setiap pesan, dan sebagainya, maka saya pasti bereaksi keras terhadap orang-orang yang bersikap sebaliknya.

Namun saya juga mengadopsi nilai-nilai positif yang diajarkan papa seperti pantang meminta-minta, jadi saya anti minta traktiran, oleh-oleh, apalagi angpao lebaran, hal mana yang dianggap lumrah oleh kebanyakan kita. Saya mudah terharu dengan penderitaan orang dalam perjuangan hidupnya yang saya liat nyata. Saya anti banget KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme) apalagi menyangkut pendidikan dan pekerjaan saya, sampai semua urusan pun tidak pernah menggunakan calo, hal mana yang juga bertentangan dengan prinsip hidup sebagian besar dari kita bukan? Kalaupun saya menolong orang atau meminta pertolongan orang berdasarkan kedudukan/wewenangnya, saya pastikan itu tidak melanggar integritas, tidak ada uang / pengaruh lain yang dilibatkan, namun semata-mata hanya soal pertemanan atau kemanusiaan.

Well, sampai usia 43 tahun, saya masih kesulitan dengan inner child ini. Benar yang dibilang, support system itu memberi pengaruh sangat besar. Meskipun porsi terbesar tetap pada kendali kita sendiri, tapi sungguh saya terseok-seok. Sementara itu, ada tanggungjawab berat yang juga tidak boleh saya abaikan. Misal saya harus tetap menunjukkan performa maksimal terkait kewajiban saya di tempat bekerja, dimana tempat berkarya saya menuntut profesionalisme dan kinerja yang tinggi dan stabil, dengan berbagai macam alat ukur yang bisa mempengaruhi grade, mutasi dan take home pay.

Yang lebih berat lagi, pernikahan saya yang gagal pada akhirnya. Saya menunggu sampai 20 tahun umur pernikahan untuk melakukan proses perceraian yang legal, karena sudah sekian lama ‘dibiarkan’ oleh mantan suami. Komunikasi yang buruk, pola pikir yang berbeda, jadi penyebab terbesar kegagalan ini.

Meskipun dalam pandangan saya, mantan suami dibesarkan dari orang tua yang ideal, keluarga yang hangat dan guyub, penuh kasih, bahkan saya pun dekat dengan mertua dan saudara-saudara mantan suami melebihi keluarga besar saya sendiri.

Saya menyebut perceraian ini sebagai legalitas atas kondisi yang sudah ada lebih dari tujuh tahun. Dalam hal ini, entah saya harus bersyukur atau meratapi akibat pendidikan papa saya. Karena nyaris tidak merasakan peran dan kehadiran mantan suami di sebagian besar kehidupan saya. Saya membeli rumah dan kendaraan sendiri, mengurusi urusan rumah tangga yang biasanya menjadi area laki-laki sekaligus perempuan, mendidik dan mengurus anak-anak dengan bantuan ART-ART yang loyal meskipun berganti beberapa kali. Termasuk tentunya soal finansial. Sekalipun mantan suami berpenghasilan tetap, bekerja di tempat yang bonafid, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga yang mampu dari sisi finansial dan mempunyai kedudukan, keluarganya menganut pendidikan maupun nilai-nilai keluarga namun tidak menjamin jalannya rumah tangga kami akan ideal pula.

Sumber foto: google

Dalam banyak hal memang saya menerapkan ekspektasi-ekspektasi terhadap mantan suami sebagaimana doktrin yang diajarkan papa. Saya memandangnya sebagai imam, pimpinan keluarga, wajib memiliki kompentensi minimal untuk menjadi nakhoda. Saya yang perempuan saja punya kapasitas melakukan area lelaki, wajar kan kalau saya berharap dia melebihi saya. Apalagi keluarga suami sangat support, baik soal pendidikan lanjutan, finansial, fasilitas hidup, bahkan sampai urusan pekerjaan. Sedang saya semua berjuang mandiri, kecuali pendidikan dasar yang dibiayai papa, beliau tidak meninggalkan harta untuk anak-anaknya. Karenanya saya terbiasa untuk berpikir insecure, sehingga memaksa diri ini untuk terus belajar menyikapi dan mengantisipasi berbagai tantangan hidup. Contoh riilnya, saya belajar financial planning keluarga, mencari info sendiri tentang pendidikan anak, mencari tukang atau jasa service sendiri ketika membutuhkan, mencari pengobatan bagi diri dan anak serba sendiri pula.

Faktor ini yang banyak tidak sepemahaman dengan mantan suami. Baginya, kita cukup bersyukur dengan yang sudah ada, tak perlu lagi mengejar yang belum kita miliki. Bayangkan saya masih berpikir idealis, padahal mantan suami sudah diberi pekerjaan yang mapan, rumah besar dan perabotannya di lokasi strategis, kendaraan, dan support lainnya sewaktu-waktu diperlukan. Bukannya saya ini tipikal istri dan mantan suami ideal seharusnya, yang maunya bekerja keras dan menata kehidupan, merencanakan masa depan sebaik-baiknya, bukan sekedar menikmati harta yang ada ?

Saya pernah berjualan door to door, buka stand di pasar pagi, meneruskan kuliah dalam kondisi hamil yang rewel parah, kemudian diterima bekerja di lembaga yang tanggung jawabnya sangat berat dan konsekuensi mutasi seluruh Indonesia. Itulah juga kenapa anak saya hanya dua dan jaraknya lebih dari enam tahun, karena saya melihat prospek masa depan rumah tangga ini tidak lagi cerah. Perbedaan visi dan misi, idealisme kami berdua sangat berbeda.

Jangan dikira ini hanya urusan duniawi ya, urusan ibadah pun kami berselisih pendapat selama belasan tahun. Keluarga mantan suami punya dasar beragama yang lebih kental daripada keluarga saya. Namun mansu nyaris menjadi seorang agnostik, tidak melakukan ibadah wajib maupun sunnah selama belasan tahun. Lalu bagaimana saya bisa menerima kondisi begini, sementara kedua anak saya laki-laki tentunya butuh panutan ayahnya.

Perceraian memang dibenci Allah. Tapi dibolehkan ketika kondisi memang memaksa untuk itu. Dalam kasus saya sejak anak-anak kecil nyaris tidak pernah mereka menyaksikan kerukunan dan kebersamaan orang tuanya. Bertengkar dengan sengit di hadapan anak-anak. Kemana-mana sendiri jarang sekali diantar. Segala keputusan menyangkut anak dan jalannya kehidupan rumah tangga ini, nyaris semua saya pikirkan, atur, cari solusinya dan bayar sekaligus. Dan ketika belasan tahun tidak ada dana yang diserahkan kepada saya untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anak dan saya sendiri, keberadaan serta peran serta aktif dalam mendidik dan mengelola rumah tangga ini pun minimalis, bahkan lebih dari tujuh tahun tidak ada tegur sapa dan tidak sekamar meski mantan suami sedang berada di rumah kami. Sudah jauh terlewat batasan mengabaikan anak dan istri dalam tuntunan agama kami.

Lalu peran apa yang masih tersisa dari seorang yang berjuluk suami dan ayah ? Maka perceraian hanyalah bentuk legalisasi dari kondisi yang sudah ada.

Malang, September 2020

-Rainia Santoso-

Kontributor imariscornerparenting)
Single mom 2 anak
Tinggal di Malang
ASN Kementerian
Penghobi membaca, menulis dan penikmat puisi

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan