Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Lockdown Bikin Bosan? Jangan Jadikan Anak Tempat Pelampiasan

Writer Challenge Rumedia
Tema Bebas Segar

—–

Kalau ke luar sabtu, ke luar lagi Jumat. Ke luar Jumat, ke luar lagi Kamis. Kalau ke luar Kamis, ke luar lagi Rabu. Gitu aja terus nggak udah-udah. Mau sampai kapan hidup kayak gini? Kehidupan macam apa yang sedang kami jalani sekeluarga?‘ tanyaku dalam gumam di hati sambil mengangkati jemuran yang sudah kering menjelang kriuk. Hehe.

Ke luar itu maksudnya pergi ke luar rumah. Walaupun hanya sekadar belanja kebutuhan pokok sehari-hari.

Ketemu jemuran lagi, cucian lagi, sapu lagi, dapur lagi, kamar lagi. Itu-itu saja dan rutin setiap hari tanpa ada jeda misal jalan-jalan ke luar atau sekadar makan di luar. Sama sekali tidak pernah lagi sejak 15 Maret 2020. Awal mula seruan stay at home oleh Gubernur Jawa Tengah demi mencegah penyebaran virus corona.

Itu artinya, aku sekeluarga sudah berusaha patuh dan taat imbauan selama hampir 1,5 bulan. Wow! Sebenarnya ini prestasi luar biasa buat kami. Terutama untukku, karena bisa tetap sabar menerima keadaan tanpa memikirkan jadwal piknik di akhir pekan apalagi sampai merengek pada suami.

Pikiranku mulai mengembara mengingat tempat-tempat piknik yang asyik. Segera aku melakukan pausing dengan menarik napas panjang dan dalam lalu menghembuskan napas panjang dan dalam juga sambil istighfar berkali-kali. Seraya ACCEPTANCE, menerima keadaan ini dengan penuh kesadaran untuk mengerahkan kesabaran penuh. Agar bisa berhenti mengeluh meski hanya dalam hati.

“Bunda nggak bosan?” tanya suamiku saat aku melintas di depannya dengan tumpukan pakaian kering yang hampir menutupi mukaku. Karena saking banyaknya. Sudah acceptance tadi, eh ditanya ulang sama suami#tepok jidat.

Sebenarnya pertanyaan ini sudah sering ia lontarkan padaku. Entah sudah terhitung berapa kali sejak kami adem ayem tentram di rumah saja.

“Hmmm … mau jawaban jujur aja atau jujur banget, Yah?” Hihihi. Jawabku sambil ngeloyor ke belakang untuk menaruh pakaian di keranjang baju bersih. Sekali-sekali bikin suami penasaran ah ….

“Kalau bosan, sana jalan-jalan. Tapi sendiri aja. Beli apa kek yang Bunda mau … ke toko emas juga boleh. Hahaha!” Seakan tahu isi hatiku yang terdalam. Entah itu serius atau sekadar bercanda menghiburku. Yang pasti jadi bikin mataku penuh binar cinta. Cihuuuy.

“Nggaklah Yah, di rumah aja kayak gini lebih aman. Paling Bunda jalan-jalan keliling dikit pas belanja sayuran. Kita serumah bisa sehat semua kayak gini aja, Bunda sudah bersyukur alhamdulillah banget, Yah. Ya … kalau mau jujur sih, pastilah ada rasa bosan. Namanya juga ibu-ibu, itu-itu aja yang dikerjain. Tapi ya … mau gimana lagi kan? Bunda berusaha nerima keadaan ini, Yah.” jawabku panjang lebar sok bijak. Lebih tepatnya menghibur diri sendiri. Hehe.

Pagi ini, entah sudah hari ke sekian puluh berapa suami menjalani Work From Home dan anak-anak School From Home.

Suamiku bekerja dari rumah. Dalam sebulan, ia hanya sekali pergi keluar rumah untuk bekerja karena harus bertemu klien. Selebihnya, baru dua kali mengantarku membeli madu yang tokonya berada di tengah Kota Purwokerto. Sementara kedua anakku belajar di rumah. Juga benar-benar di rumah saja dan tidak keluar pagar rumah walau hanya untuk bermain di jalan perum depan rumah. Sebab bu guru di sekolahnya pun telah mengimbau agar tidak bermain di luar rumah apalagi bermain bersama teman-teman.

Ya, Tyaga dan Jehan hanya bermain di sekeliling carport. Hanya aku satu-satunya penghuni rumah yang masih harus hilir mudik ke luar rumah demi membeli segala kebutuhan kami serumah. Itu pun aku lakukan hampir hanya seminggu sekali saja aku ke luar rumah.

Jadi setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik kami sekeluarga selalu bersama. Salat, ngaji, sarapan, belajar melalui HP, bekerja dengan iPad, bermain, krutelan, makan lagi, main lagi, becanda lagi, kruntelan lagi, makan lagi. Hampir itu-itu saja yang kami jalani sehari-hari.

Sangat wajar dan manusiawi jika rasa bosan menghinggapi.

Hari-hari di minggu pertama sempat membuat kami sekeluarga kaget dengan ritme baru yang berkejaran dengan setoran tugas online dua anak sekaligus. Karena disaat yang bersamaan, suami tetap menatap layar HP dan iPad-nya. Sedangkan aku juga mengajar kelas parenting online Mengasuh Inner Child.

Keadaan yang luar biasa bisa memicu stres. Sebab yang kami jalani, terlebih yang aku jalani ini benar-benar rutin tidak berjeda. Rasa jenuh dan bosan bolak balik hinggap menelusup ke relung jiwa. Ingin jalan-jalan sekadar keliling Kota Purwokerto. Ada kelebat rindu ingin membeli makanan untuk sarapan di hari minggu pagi, seperti yang biasa aku lakukan sebelum ada pandemi corona.

Apalagi dalam setahun terakhir, sejak Tyaga dan Jehan membesar, aku memang sering memberi apresiasi kepada diriku sendiri untuk mendapat cuti atau libur memasak di hari libur.

Namun dalam masa lockdown ini, tidak ada hari libur untukku. Bahkan mengharuskan aku benar-benar memasak setiap hari tanpa libur sama sekali. Karena jujur saja aku masih khawatir dengan paparan virus corona. Jadi aku merasa lebih lega dan aman dengan memasaknya sendiri.

Akan tetapi apa dampak dari lockdown ini? Aku jadi kelelahan karena berasa tidak bisa istirahat sama sekali. Akibat pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya. Ini benar-benar sangat rawan memicu mood swing-ku sebagai penyintas bipolar. Karena keadaan yang benar-benar membosankan. Ada dorongan kuat untuk mengamuk dan melampiaskannya kepada Tyaga dan Jehan yang tiada henti ngunyah dan ngoceh.

Itu menguras tenaga dan waktu untuk mengurus keduanya. Terlebih saat masa PMS tiba. Ada-ada saja kelakuan dari keduanya yang memancing emosi. Seperti misal, saat keduanya memberantaki mainan, aku bisa naik nada dan mulai ketus.

Namun aku sudah paham penyebab aku menjadi ketus akibat kelelahan. Tyaga Jehan hanyalah pemicu mood swing-ku. Jadi aku buru-buru berjuang sadar untuk mengendalikan rasa bosan ini. Agar tidak melampiaskan bosan ini dengan membentak, mengomel apalagi sampai mengamuk seperti dulu sebelum kenal mindfulness parenting (sebuah ilmu mengasuh dengan kesadaran). Sadar bahwa anak bukanlah tempat pelampiasan rasa bosan, amarah dan luka batin ibu.

Teknik Mindfulness Parenting membuatku SADAR PENUH UNTUK PENUH SABAR

untuk menerima dan menghadapi hari-hari yang membosankan. lalu mencari hikmah positifnya bahwa mengurus suami, anak dan rumah demi ibadah kepada Tuhan.

Yakin dan percaya akan ada hasil yang Allah beri. Salah satunya, anak-anak yang perlahan menggemuk karena selama sebulan lebih di rumah tiap saat makan terus. Berarti usahaku tidak sia-sia.

Suami yang juga semakin belajar bersama untuk mengendalikan emosi dalam mengasuh anak.

Aku berjuang lebih dulu untuk tetap bisa lembut dan sabar di hadapan suami, Tyaga dan Jehan. Hasilnya? Seisi rumah tetap bahagia karena ibunya tetap bahagia.

Sokaraja, 26 April 2019

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan