Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Hakikat Memaafkan di Hari Lebaran

Oleh: Ribka ImaRi

Assalamualaikum😇
Semangat Pagi Sahabat ImaRi’s😍

Masih dalam suasana Lebaran nih. Aku ucapkan mohon maaf lahir dan batin kepada semua Sahabat ImaRi’s🙏🏻

Kebanyakan umat muslim di Indonesia lebih familier menyebut Hari Raya Idul Fitri dengan Lebaran. Aku pun demikian. Memang sejak kecil lebih nyaman memakai kata Lebaran. Apalagi aku yang mualaf di usia 30 tahun pada tahun 2010, sedari kecil memang hanya sekadar ikut-ikutan lingkungan rumahku di sebuah perkampungan di Ibukota yang terbiasa menyebut Lebaran ketimbang Idul Fitri.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti Lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri;

Namun saat ini, aku tidak akan membahas arti kata lebaran secara harafiah (menurut huruf, kata demi kata). Melainkan ingin membahas hakikat memaafkan di Hari Lebaran sebagai hari bersejarah untuk memaafkan sampai ke dasarnya.

Sebagai mualaf, aku terus menerus mencari makna memaafkan dalam arti yang sebenar-benarnya. Bukan hanya dibibir saja secara lahiriah. Namun memaafkan semua kejadian dan orang-orang yang pernah menyebabkan luka batin. Termasuk memaafkan diriku sendiri yang juga pernah turut andil memperkeruh keadaan dan memperparah luka batin pada diriku sendiri. Padahal bisa jadi aku pun pernah melukai hati dan perasaan mereka semua yang kuanggap pernah membuatku sakit hati tak termaafkan.

Aku sangat ingin memaafkan secara batiniah. Jadi bisa memaafkan secara keseluruhan. Saat terucap maaf di bibir secara lahir, hati pun telah memaafkan sepenuhnya secara batin.

Akan tetapi, teori di atas tidaklah semudah mempraktikkannya dalam kehidupan pribadi setiap insan. Terlebih seperti aku yang dulu penyintas banyak trauma.

Ya, meski bagi banyak orang, mungkin menganggap ini semua adalah aib. Namun dengan jujur aku bercerita pernah terseok-seok mengalami trauma di bulan Puasa dan menjelang hari Lebaran. Sehingga membuatku pernah sulit memaafkan secara lahir dan batin.

Kalau kuingat-ingat beberapa tahun silam, rasanya aku hampir selalu tidak mengalami sukacita menyambut Hari Raya Idul Fitri. Setiap malam takbir tiba, aku justru seperti bergulat melawan emosi dalam diriku sendiri. Karena sedang mengatasi satu per satu trauma demi trauma yang pernah aku alami. Membuatku pernah sangat sedih, marah, benci, kecewa, dendam kesumat dan emosi membuncah lainnya dalam hidupku.

Diantara trauma-trauma yang masih kuingat dengan jelas sampai sekarang adalah trauma saat menikah tanpa pendampingan bapakku di tanggal 7 Ramadan 1431 H. Ini pernah membuatku tidak semangat menyambut Lebaran di tahun 2010.

Lalu trauma akibat kakak ipar mendadak membawa pindah seluruh barang miliknya dari rumahku dan suami, menjelang Lebaran 2013. Membuat Lebaran yang kulalui saat itu terasa hampa ketika menatap perabot rumah yang vital seperti kulkas tidak ada lagi di tempatnya. Kuakui, aku dan suami pernah terlena untuk tidak segera membeli sendiri satu per satu perabot rumah. Namun sebenarnya bukan karena terlena juga, tetapi karena bingung mau ditaruh mana perabot rumah kalau sampai dobel semua.

Saat rumah kosong, suami langsung berusaha segera membeli ketika sudah mendapat THR, tetapi toko langganan sudah telanjur tutup menjelang Lebaran. Hal ini pernah membuatku sedih mendalam sampai merasa sangat dendam karena saat itu Tyaga, anakku yang baru berusia 17 bulan membutuhkan stok MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu). Keadaan ini memicu rasa cemas berlebih. Aku khawatir ketersediaan MPASI Tyaga akan terganggu karena aku tidak bisa berbelanja stok bahan makanan akibat sedang tidak punya kulkas. Jadi belanja seadanya saja.

Beruntung alhamdulillah kami mempunyai tetangga sebelah rumah yang mudik tetapi berbaik hati menitipkan kunci rumahnya kepada kami. Jadi aku masih bisa menitip stok bahan makanan di kulkasnya sampai toko elektronik langganan buka selepas libur Lebaran.

Kemudian ada satu lagi trauma saat pindah rumah dari Depok ke Sokaraja, Purwokerto di bulan Puasa tahun 2016. Trauma yang membuatku pernah sangat membenci mantan tetangga depan rumah di Depok dulu. Dulu, aku menyalahkan dia yang membuatku berkeras untuk pindah rumah akibat sudah tidak tahan berhadapan lagi dengan tetangga seperti itu. Akan tetapi aku seperti memakan buah simalakama. Karena aku dan kedua anakku harus terpisah jarak antara Depok – Purwokerto, untuk sementara waktu sampai suamiku bisa pindah kerja ke Purwokerto. Membuatku pernah membenci suami akibat beliau belum bisa segera bisa pindah kerja.

Aaaah, rasanya aku benar-benar ingin mengakhiri semua. Entah apa maksud Allah padaku saat IA mendatangkan banyak trauma dalam hidupku. Gerutuku saat itu di akhir tahun 2016.

Bagi orang lain mungkin semua ini hal biasa saja. Namun tidak bagiku yang memang sudah mengalami perjalanan hidup yang traumatis bahkan di saat kelahiranku yang sempat terendam air seni mamaku selama berjam-jam. Sampai akhirnya aku bisa diselamatkan oleh Allah melalui bu bidan yang membantu proses kelahiranku. Begitulah cerita yang kudengar dari mama tentang kelahiranku hampir 40 tahun silam.

“Rib, bisa nggak sih, kamu nggak sedikit-sedikit bilang trauma?” tanya seorang sahabat padaku di saat aku tengah berjuang mengelola otakku agar tidak mudah terpicu saat mengingatnya.

Sungguh, aku pun sangat tak ingin mengingat semua traumaku. Tidak enak sekali rasanya. Sampai-sampai aku selalu menyanyikan sebaris reffrain lagu dari Geisha yang selalu menjadi soundtrack wajib dalam keseharianku. Manakala teringat masa lalu terutama flash back ingatan tentang mantan tetangga rumah di Depok dulu yang pernah sangat kubenci.

“Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku
Tentangnya
Hilangkanlah ingatanku
Jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya”

Aku benar-benar tidak ingin mengingatnya lagi. Namun semakin kuat aku menolak mengingatnya, entah mengapa aku justru semakin mengingatnya. Bahkan sekadar kelebatan mata saja, membuatku terpicu amarah dan dendam kesumat yang membuatku meledak-ledak saat mengasuh kedua anakku yang sedang aktif-aktifnya pada dua dan tiga tahun lalu.

Kala itu, aku merasa, tak ada seorang pun yang bisa memahami perasaanku ketika aku bercerita tentang ucapan (candaan) dan perlakuan tetangga depan rumah yang sering body shaming membuatku sering terpancing emosi. Saat teringat aku benar-benar ingin membeli obat penghilang ingatan. Deru napas memburu setiap kali aku teringat perkataan tetanggaku itu.

Jadi setiap Lebaran tiba, aku bukannya sibuk menata rumah menyambut Hari Raya, tetapi aku tenggelam pada kesibukan menata batinku yang masih terluka. Luka batin dari orangtua, suami, kakak ipar, dan mantan tetangga depan rumah di Depok dulu. Akhirnya aku menyadari, inilah empat penyebab trauma terbesar dalam hidup yang memicu pelampiasan amarahku kepada kedua anakku, Tyaga dan Jehan. Yang kuingat paling parah mulai terjadi ketika awal mula pindah rumah di bulan Juni 2016 dengan membawa banyak dendam kesumat.

Namun, sujud syukur alhamdulillah aku bisa mengenal ilmu mindfulness parenting di bulan Agustus 2016. Aku jadi bisa memahami akar masalah luka batin yang sudah kuurai di atas.

Sungguh, hanya berkat pertolongan Allah saja, ketika mengingat semuanya, aku sudah bisa santai tidak terpicu sama sekali. Ya, sujud syukur alhamdulillah akhirnya, aku bisa memaafkan tetanggaku sampai ke dasar hatiku. Bahkan ketika menuliskan ini, aku sudah tidak merasakan sensasi apa pun di jiwa. Meskipun aku belum pernah bertatap muka lagi dengan tetanggaku itu sejak empat tahun lalu. Akhirnya aku bisa benar-benar memaafkannya. Maha Besar Allah! Hilang semua rasa sakit di Lebaran 2020 ini.

Pada hubungan bertetangga, aku masih bisa memilih memutus hubungan untuk mencegah terpicu. Namun pada hubungan keluarga, tidak akan mungkin aku memutusnya. Untuk menghindari pun akan sangat sulit. Selain menghadapinya. Mau tidak mau. Siap tidak siap.

Pada akhirnya, di bulan Oktober 2017, aku bisa legowo memohon maaf dan memeluk bapak dan mama lebih dulu sebelum kedua orangtuaku mendahului meminta maaf padaku. Alhamdulillah luruh semua dendam di hatiku saat aku mengucap, “Maafin, Nok ya Ma … Pak ….”

Begitu pula dengan keenam kakak ipar, pada pertemuan kami yang sempat terputus selama lebih dari lima tahun lamanya, aku pun bisa dengan legowo memeluk lebih dulu seraya mengucap maaf lahir dan batin tanpa beban sedikitpun. Tanpa tangis penyesalan dan dendam. Berganti rasa rindu dan sayang pada kakak ipar. Walaupun aku tidak tahu seperti apa perasaan terdalam mereka semua terhadapku. Yang pasti aku sudah memahami perasaanku sendiri yang sudah plong tidak ada beban emosi. Dendam kesumat itu luruh dalam pelukan.

Sesungguhnya, dalam perjuangan mencapai titik ini, sangat tidak mudah. Terlebih bagiku seorang Bipolar Survivor yang rawan mood swing, dalam keadaan bahagia penuh canda tawa bersama anak dan suami, aku bisa tiba-tiba seperti korslet dan tersetrum saat teringat kejadian sedih yang traumatis.

Buru-buru aku mengerahkan teknik ACCEPTANCE yang kupelajari dari Mindfulness Parenting, ” MEMAAFKAN BUKAN BERARTI MELUPAKAN KARENA OTAKKU TAK AKAN BISA DI SETTING UNTUK MELUPAKAN MASA LALU, TETAPI DENGAN BELAJAR MINDFULNESS AKU JADI BELAJAR MENERIMA DAN MEMAAFKAN MASA LALU. SEHINGGA SAAT TERINGAT, SUDAH BISA TIDAK MENIMBULKAN SENSASI APAPUN.”

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Inilah hakikat memaafkan yang sebenar-benarnya. Kupelajari dari Mindfulness Parenting selama hampir empat tahun berproses. Dengan semboyanku SKST (Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten) aku terus berjuang sampai benar-benar memaafkan sepenuh hati.

Ada banyak hal yang kusyukuri. Ada banyak hikmah yang kudapatkan. Dulu aku pernah merasa hidup ini paling menderita sedunia. Tak punya siapapun untuk meluahkan isi hati yang bisa dijadikan sandaran hati meskipun itu suamiku sendiri.

Namun dengan belajar dan berjuang MELEPASKAN MENTAL KORBAN, membuatku mampu mencabut akar kemarahanku. Aku menggantinya dengan menanamkan rasa syukur luar biasa. Meyakini terus bahwa di setiap kejadian buruk yang menjadi trauma pasti ada hikmah luar biasa dari Allah SWT.

Seperti yang kusebutkan dibawah ini :

Hidup jauh dari orangtua dan merasa orangtua abai, membuat aku dan suami jadi super mandiri. Tidak bergantung sama sekali kepada orangtua. Hanya bersandar pada kemurahan Allah SWT. Bersyukur tidak merepotkan orangtua dimasa tuanya mereka.

Pun, kedua anakku yang bisa mandiri mendengar satu kata dari kami orangtuanya karena tidak pernah melekat kakek dan neneknya (orangtuaku) yang bisa saja berbeda pola asuh.

Hidup jauh dari suami selama LDM, membuatku belajar berani mengambil keputusan sendiri. Belajar mandiri dalam banyak hal. Terutama mandiri menyelesaikan trauma-trauma masa laluku tanpa terpicu suami sementara waktu. Karena sebaik apapun suami dan kedua anakku, jika Inner Child (masa kecilku) masih bermasalah dan mudah terpicu, rasanya aku tak akan pernah merasakan kebahagiaan yang hakiki seperti Lebaran kali ini. Bahagia akhirnya kami sekeluarga bisa selalu bersama lagi setelah menjalani LDM (Long Distance Marriage) selama 2 tahun 7 bulan.

Mau belajar Mengasuh Inner child?

Silakan wa.me/6285217300183

Hidup jauh dari kakak ipar, membuatku bebas menentukan sikap mengatur seisi rumah dan rumah tanggaku bersama suami. Serta bebas mendidik dan mengasuh kedua anakku tanpa campur tangan selain suamiku sendiri.

Hidup tak punya tetangga depan, mengurangi makan hati. Dulu begitu buka pintu di pagi hari aku menjadi stres karena sedih melihat pemandangan anak tetangga depan rumah yang terabaikan orangtuanya. Pun teringat dendam kesumatku pada tetangga depan rumah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sungguh semua Allah yang mengatur indah pada waktu-Nya. Semua ada hikmah-Nya. Hikmah memaafkan sampai kedasarnya membuat hidupku terasa ringan saat menyambut Lebaran 2020. Walaupun dalam keadaan pandemi corona seperti ini, membuatku berjuang menerima keadaan apapun yang terjadi.

Walaupun tidak bisa berkumpul dengan kedua orangtua dan sanak saudara. Namun kondisiku sebagai penyintas trauma sudah dalam keadaan yang sangat stabil emosinya. Karena segala luka batin yang menyesakkan dada telah hilang lenyap karena segala luka batin yang dulu pernah tertancap, kini telah kucabut semua. Sudah kumaafkan dengan sebenar-benarnya lahir dan batin. MasyaAllah alhamdulilah

Salam sehat jiwa dan raga💪

Sokaraja, 26 Mei 2019
-Ribka ImaRi-

Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan