Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Kosong

Oleh: Ribka ImaRi

Januari 2019

Aku bersama keluarga kecilku menonton film di bioskop pada akhir tahun 2018. Lalu kami berlibur ke pantai pada awal tahun 2019. Sekilas orang melihat tak ada yang kurang di dalam hidupku.

Kebahagiaan keluarga kecilku terdokumentasikan dengan rinci. Jika aku tak jujur bercerita, memang ada yang tak beres dengan perasaanku. Akibat masa kecilku sama sekali tak pernah mencicipi hal serupa bahkan sekadar piknik yang paling sederhana sekali pun.

Kini, aku sudah bisa menerima suratan takdir ini. Aku sudah bisa menyayangi kedua krangMeski sungguh tak pernah ada rekaman di dalam ingatanku apalagi rekaman dalam bentuk foto saat masa kecilku sedang piknik. Karena untuk makan satu kali dalam sehari saja, kami sudah sangat beruntung. Terkadang

Akan tetapi, atas seizin Tuhan, aku bisa menjadi istri dan ibu yang beruntung. Karena keadaan ekonomi suamiku yang boleh dibilang cukup untuk keluarga kecilku. Akhirnya aku bisa mewujudkan tekad mengusahakan kebahagiaan untuk anak-anakku sejak awal kehidupan mereka di dalam kandungan.

Hal tersebut juga membuatku sangat bersyukur, karena kedua anakku bisa menikmati hidup bahagia versi keluarga kecil kami. Bahkan sedari Tyaga dan Jehan mengawali hidupnya sejak dalam kandungan, kami sudah memiliki beragam foto momen kebahagiaan keluarga kecil kami.

Walaupun demikian, tak selamanya kami bertemu jalan mulus dan selalu dalam keadaan bahagia kecukupan finansial. Karena kami pun seperti kebanyakan keluarga kecil lainnya yang mengalami jatuh bangun perjuangan selama delapan tahun pernikahan.

Hingga membuat kami pernah berada dalam keadaan sangat kesulitan ekonomi. Pernah, kami hanya mempunyaj uang sepuluh ribu saja. Untuk hari besok, kami tidak tahu akan makan apa.

Namun, aku dan suami tetap berjuang bergandengan tangan demi kebahagiaan keluarga kecil kami. Sampai akhirnya kami sudah bisa di titik ini sekarang. Merasa cukup. Tidak kurang apapun selain bersyukur atas segala anugerah-Nya.

Nikmat yang tiada tara saat bisa flashback memaknai perjalanan hidup berumah tangga. Bahwa nikmat hidup bukan cuma dalam bentuk materi tapi juga nikmat waktu bersama suami dan ayah terbaik dari kedua anakku.

Walaupun dalam 2,5 tahun terakhir waktu bersama kami untuk kumpul sering kali hanya di hari Sabtu dan Minggu. Karena kami adalah pasangan LDM (Long Distance Marriage) sehingga harus bersabar menunggu jadwal kepulangan suami dari luar kota, tempat beliau bekerja.

Hal ini membuat aku dan anak-anak menjadi semakin belajar bersabar menunggu dan bersyukur. Setelah suami atau ayah bisa pulang ke rumah, beliau benar-benar bisa mencurahkan semua waktu hanya untuk keluarga kecilnya.

Tanpa pernah berpikir me time untuk dirinya sendiri. Sekadar tidur sehari penuh atau berkumpul dengan teman yang memiliki hobi yang sama.

Sebagai istri dan ibu dari dua anak, sudah seharusnya aku sangat bersyukur, kan?

Ya, sudah seharusnya aku banyak bersyukur atas apa yang sudah Tuhan dan suami berikan padaku. Akan tetapi, entah mengapa seperti masih ada saja sensasi rasa KOSONG di hatiku setiap kali suami pamit kembali ke kotanya.

Seperti pagi itu, aku bangun tanpa mendapati suamiku di sisi. Karena sudah kembali ke Cirebon di hari Sabtu sore. Ada sekelebat rasa hampa.

Namun kini, perasaan itu sudah sangat terkendali. Tidak membuatku uring-uringan tak jelas pada diri sendiri apalagi sampai melampiaskannya kepada Tyaga dan Jehan seperti kejadian dua tahun lalu.

Kala DEPRESI dan BIPOLAR-ku sedang kambuh parah. Keduanya berkolaborasi membangunkan monster dalam jiwaku. Monster yang saat itu selalu siap menyakiti fisik & psikis kedua anakku. Horornya bahkan lebih seram dari hantu Valak yang saat itu sedang booming.

Dulu aku belum paham apa yang terjadi pada diriku. Sampai suatu ketika tergali akar penyebab kosongnya hati dan jiwaku. Semua berkat bimbingan Tuhan dan Mentorku yang luar biasa sabar, yaitu Bapak Supri Yatno.

Adalah Inner Child-ku (jiwa masa kecil) yang seingatku saat itu aku belum masuk Sekolah Dasar. Aku kesepian seorang diri. Meski saat itu ada bapak, kakak dan adikku. Ku susuri seisi rumah, sampai ke setiap sudutnya. Hasilnya KOSONG. Tak jua kutemui sosok mamaku di dalam rumah.

Kemana mama?

Yang kudengar bapakku berbincang dengan salah satu pengurus gereja, meminjam uang dari orang tersebut untuk ongkos menyusul mama ke kampung halaman di Cilacap, Jawa Tengan.

Ya, saat itu aku belum mengerti kalau ternyata mamaku sedang kabur dari rumah. Setelah membesar, barulah aku paham. Pelan-pelan aku mulai belajar mengerti keadaan mama dan mulai melupakan kenangan buruk masa kecilku.

Akan tetapi, ternyata tak semudah itu. Setelah aku menjadi seorang ibu apalagi setelah menjadi ibu beranak dua, semakin sulit aku menerima kejadian masaku. Aku menebak-nebak, apakah aku mengalami trauma masa kecil akibat pernah ditinggal kabur oleh mama?

Sehingga aku pernah sangat takut jika pandangan mataku lepas dari kedua anakku. Pun, aku mengalami kecemasan yang berlebihan pada saat suamiku berpamitan ke luar kota. Pun, aku pernah mempunyai perasaan yang sangat sulit menerima keadaan terpaksa membeli nasi di warung tegal.

Ketiga hal di atas lalu aku kupas satu per satu. Bagai kupas bawang dan juga menggali akar serabut. Sampai akhirnya aku menemukan inti masalahnya. Yang selama ini menjadi penyebab serangan panikku.

Ternyata benar, akarnya adalah trauma dengan kata “DITINGGAL & MENINGGALKAN”. Ini semua merupakan ranting-ranting traumaku. Sedangkan akar traumanya bermuara pada kejadian di saat mamaku pergi dari rumah selama satu minggu lamanya tanpa berpamitan terlebih dulu.

Kelebat-kelebat ingatanku dalam rekaman IC ini masih begitu nyata. Bagai puzzle, aku berjuang mengumpulkan keping demi keping dengan tujuan merekonstruksi IC-ku agar membaik.

Setelah aku belajar MINDFULNESS PARENTING, aku mengasuh IC-ku yang satu ini. Supaya aku bisa memaafkan mama sepenuh jiwaku. Aku jadi bisa MENERIMA KEADAAN penyebab mamaku bisa tega meninggalkan rumah dan ketiga anaknya.

Setelah itu aku berjuang memaafkan beliau sepenuhnya. Aku pun berlatih teknik compassion dengan belajar menempatkan diriku di posisi mama. Menjadikanku bisa menerima keadaan aku pun pernah abai ke Tyaga dan Jehan selama enam jam non stop. Aku pernah sengaja membiarkan kedua anakku tidak terurus karena aku sedang sibuk menangis.

Aku berjuang memaafkan masa keciku yang kelam. Aku pun berjuang memaafkan masa kelamku saat sudah menjadi ibu. Karena ternyata dua kejadian ini ada hubungan sebab akibat. Sebagai anak yang pernah terabaikan, aku pernah melakukan pengabaian kepada kedua anakku. Bagai daur ulang pola asuh.

Aku berjuang memutus pola ini. Lalu belajar menerima masa laluku. Agar semua menjadi pelajaran hidup supaya kedua anakku tak perlu mengalaminya lagi.

Pun belajar mengisi luka batinku yang KOSONG dengan MENERIMA kejadian ditinggalkan mamaku 33 tahun silam. Karena sepertinya, sekeras apapun suamiku berusaha membahagiakanku dan kedua anakku, akan tetap ada rasa kurang karena kosong itu sendiri ada di dalam relung hatiku terdalam.

Dengan pertolongan Tuhan aku terus berjuang. Seperti pagi itu, meski suami sudah tak di rumah, meski ada kejadian luar biasa memicu di malam harinya, meski aku sedang mengalami PMS, aku bersyukur bisa tenang hadapi hari dengan memasak dan mengurus anak. Aku hanya tidak ingin kedua anakku mengalami hal yg sama denganku. Aku berdoa terus dan berjuang terus menangani IC-ku yang banyak bagai akar serabut. Demi IC kedua anakku baik-baik saja sedari kecil.

Saat ini, aku bersyukur … perasaan kosong itu sudah terisi ketika aku sudah mampu mengasuh IC-ku di masa kecil. Dengan Mindfulness Parenting, ilmu mengasuh dengan kesadaran. Aku menjadi sadar untuk berada disini dan sekarang bersama kedua anakku. Aku meyakinkan IC-ku bahwa kami akan baik-baik saja. Tak perlu kosong dan kesepian karena aku sudah memiliki keluarga kecil yang lengkap. Suami yang baik yang rajin mengajak keluarga kecilny berpiknik.

Sokaraja, Januari 2020

#BundaImaRi
#PerjalananDepresiBipolar

rumahmediagroup/ribkaimari

Sokaraja, 8 Juli 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan