Artikel Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

Konflik dan Pengasuhan

Konflik dan Pengasuhan

Oleh : Ribka ImaRi

Tulisan ini terpilih menjadi salah satu dari tujuh tulisanku yang terfavorit di challenge RNB Batch 1.

Di zaman yang serba modern seperti sekarang ini, mengabadikan setiap momen keluarga menjadi semudah di genggaman tangan. Hampir setiap keluarga memiliki foto liburan yang berisi foto anak-anak ataupun anggota keluarga lainnya sedang tersenyum dan tertawa.

Tetapi jika mau jujur, di balik foto bahagia dalam kebersamaan, sebenarnya setiap keluarga punya gambaran-gambaran konflik keluarga yang tak terekam kamera di gawai masing-masing. Seperti pertengkaran kakak-adik, pertengkaran orang tua-anak, pertengkaran ayah-ibu, anggota keluarga yang tersakiti dan sebagainya.

Karena banyak dari kita terperangkap dalam fantasi kehidupan keluarga yang ideal. Padahal itu justru membuat anggota keluarga kehilangan kesempatan penting untuk belajar, bertumbuh dan berkembang mengatasi konflik di dalam keluarga.

Konflik terjadi saat orang saling mencintai. Sebenarnya konflik malah menyediakan kesempatan baik bagi anggota keluarga untuk menjadi lebih dekat. Pun tersedia kesempatan baik bagi orangtua untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa konflik dapat diselesaikan dengan cara yang baik.

Bukan dengan cara kekerasan dengan berteriak, mengomel, menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain (memukul, mencubit, menampar dan lain-lain) serta merusak barang. Biasanya, respon anak-anak terhadap konflik orangtuanya adalah stress atau tertekan. Tetapi ketika konflik dapat diselesaikan dengan baik oleh orangtua, tingkat tertekan anak dapat kembali normal seperti sebelum konflik terjadi.

Anak-anak pun dapat belajar keterampilan penting tentang kognitif, sosial, dan interpersonal dengan mengamati bagaimana orang tua mereka menyelesaikan konflik.

Sebagai contoh kasus, aku dan suami yang pernah bertengkar hebat di depan anak tentang banyak hal. Salah satunya tentang perbedaan cara pandang pengasuhan. Pada akhirnya, setelah sembilan tahun menikah, kami berdua bisa belajar menyatukan visi dan misi dalam pengasuhan dengan bicara baik-baik tanpa harus tegang otot apalagi bertengkar.

Seperti contoh yang juga terlihat pada foto dibawah ini. Jehan menangis sesaat sebelum foto diambil. Akibat digemasin oleh ayahnya. Dulu, aku pasti sudah otomatis marah. Sekarang sudah bisa lebih santai dan tetap lanjut menjepret foto.

Pelajaran Mindfulness Parenting membuatku bisa tetap menikmati kebersamaan untuk diabadikan dalam foto. Tanpa terpancing emosi sesaat.

Hal ini pernah sangat sulit bagiku sebagai penyintas bipolar yang bisa tiba-tiba bad mood. Alhamdulillah aku berhasil tetap stabil. Setelah berfoto bersama, kami memeluk dan menghibur Jehan yang masih menangis.

Menjadikan kami belajar bahwa kejadian diluar dugaan tidak akan merusak mood dalam suasana berfoto bersama. Sepertinya tega ya?Anak sedang menangis, tetap saja berfoto. Tak mengapa. sebab konflik kami telah usai. Alhamdulillah.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 8 Oktober 2019.

Daftar pustaka: Yatno, Supri. 2016. Modul Mindfulness Parenting Bab 6.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week2
#Day2
#SelasaTemaBebas
#RNB33
#rumahmediagrup

Izin setor kepada Para Admin :
Emmy Herlina
Asri Susilaningrum
Hadiyati Triono
Lelly Hepsarini
Hayfa Ega Farzana Rafie
Syarifah Nur Adni
Fuatuttaqwiyah El-adiba
Melani Pimpom Pryta Dewi
Siti Rachmawati M
Fira Faradilla
Terimakasih🙏🏻

rumahmediagroup/ribkaimaril

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan