Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Kenangan Masa Kecil, Inner Child (IC) Itu Tidak Bisa Dihapus atau Dilupakan, Hanya Bisa Diterima dan Dimaafkan

Oleh: Ribka ImaRi

Ketika ada ibu muda yang bercerita habis MENCUBIT anaknya, sebagai Mentor sekaligus pejuang depresi pengasuhan anak, aku tidak akan serta merta menasihati panjang lebar “Jangan begitu sama anak. Anak itu amanah dari Allah, tidak boleh tega mencubit anak. Dosa kita, Bu kalau sampai menyakiti anak. Bla bla bla.”

Sumber foto: dokumentasi pribadi dari wa grup yang kuasuh.

Namun, kugali dulu kenangan masa kecilnya seperti foto di atas. Dalami dulu Inner Child-nya seperti apa. Pada kenyataannya, hampir semua ibu yang pernah sharing, tanpa sadar, tanpa bisa dibendung lagi, karena semua sudah telanjur terekam di otak bawah sadar. Justru membuat si ibu melalukan hal yang sama persis kepada anaknya, dengan apa yang telah dialaminya bersama kedua orangtuanya di masa kecilnya dulu.

Pun ada ibu yang tidak tahan dengan tangisan anak, itu disebabkan oleh kenangan masa kecilnya (inner child) yang pernah menangis sendirian tanpa seorang pun yang menolong atau menghibur. Seperti aku pernah menangis selama 2 jam non stop tetapi dibiarkan oleh bapakku. Juga akibat semasa kecil sering dibully oleh mas kandung sampai aku menangis tak tertahankan.

Membuatku pernah sangat membenci tangis kedua anakku sendiri. Tak jarang aku pernah membentak anakku untuk diam. Padahal ibu yang normal jiwanya, akan iba melihat anaknya menangis.

Karena sadar ada yang tak beres dengan jiwaku, setelah aku belajar MINDFULNESS PARENTING, aku belajar untuk SADAR PENUH untuk PENUH SABAR.

Kemudian, aku berbagi cara pada ibu tersebut agar bisa stabil emosi, melalui PAUSING (jeda sesaat) dengan menarik napas dan membuang napas berkali-kali supaya bisa jeda dulu sesaat ketika terpicu. Jadi bisa tidak melampiaskan semua ledakan emosi yang sebenarnya adalah tumpukan emosi sedari masa kecil si ibu.

Kemudian belajar MENERIMA (ACCEPTANCE) kejadian. Dengan terus menerus sampai akhirnya benar-benar bisa menerimanya. Jadi meskipun ada pemicunya, si ibu muda bisa tetap cool menghadapi pekerjaan rumah tangga, anak, suami, orangtua, mertua, ipar, tetangga, dan lain-lain.

Dibutuhkan proses panjang belajar PAUSING, ACCEPTANCE, AFIRMASI POSITIF dan materi lainnya yang diperlukan sampai akhirnya bisa dalam kondisi emosi yang stabil dan terkendali.

Dulu, aku butuh waktu 2 tahun setelah kenal MINDFULNESS PARENTING di Agustus 2016, terus menerus belajar berproses mengendalikan emosi sampai benar-benar bisa tanpa cubitan/pukulan di akhir tahun 2018.

Yakin kita, para ibu dan juga ayah, bahkan semua orangtua dapat dimampukan Allah untuk mengasuh Inner Child, demi bisa memutus pola asuh lama yang membuat trauma di masa kecil.

Jika butuh bimbingan dari Mentor Kelas Mengasuh Inner Child, silakan mendaftar untuk Batch 8 pada flyer di bawah ini:

Hubungi Ribka ImaRi whatsapp 085217300183

Sokaraja, 13 Mei 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penlis 21 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020, 16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan