Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Kemerdekaan Emosi Keluarga

Oleh: Ribka ImaRi

Halo Sahabat ImaRi’s, apa kabar? Sebagai orangtua pembelajar pernahkah merasa emosi ketika anak mendapat tugas menjadi salah satu perwakilan sekolah? Aku pernah banget pastinya, dong!

Emosi itu bukan hanya arti negatif semisal marah loh, ya … tetapi sebagai penyintas bipolar, berbagai macam emosi bisa berkelebat hadir secara bersamaan naik dan turun tidak jelas atau lebih dikenal dengan mood swing. Emosi bahagia dan terharu saat mendapati anak ditunjuk sebagai kandidat lomba menyanyi tunggal, tetapi bisa seketika sedih tiba-tiba tidak jelas menyergap saat teringat masa kecilku yang tidak pernah merasakan sekolah TK. Lalu berganti rasa khawatir, “Bisakah anakku menunaikan tugas dari sekolahnya.”

Banyak pernyataan dan pertanyaan silih berganti di kepalaku. Terasa berisik sepanjang perjalanan pulang dengan membonceng Tyaga dari sekolah TK-nya–kala itu di bulan Febuari 2018–aku bagai sedang naik roller coaster.

Dua setengah tahun berlalu, kini aku semakin stabil emosinya. Tidak ada lagi rasa sedih, takut, khawatir, dan emosi lainnya saat mendampingi anak menjadi wakil dari sekolah untuk mengikuti lomba menyanyi tunggal. Ini salah satu bukti chat-nya.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

“Sengaja bunda simpan sebagai kenang-kenangan bahwa kita sekeluarga pernah benar-benar berjuang stabil emosi ya, Nak.” Begitu kataku pada Tyaga.

Karena memang selama mendampingi lomba demi lomba menyanyi Tyaga, justru ayah bundalah yang benar-benar belajar mengendalikan emosi. Apalagi … sungguh, tak mudah bagi bunda penyintas DEPRESI & BIPOLAR meskipun sudah sangat membaik dibanding lomba pertama Tyaga di tingkat TK pada Maret 2018 yang alhamdulillah atas seizin Allah, berkat bimbingan semua guru TK, mas Tyaga yang baru usia 6 tahun bisa langsung menang juara 1 di tingkat kecamatan dan lanjut sebagai perwakilan di Kabupaten dapat juara 2. Padahal juga sama sedang batuk pilek seperti lomba saat ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Ketika itu, sebelum berangkat masih ada tangis mas Tyaga akibat dibentak oleh ayah bunda. Akan tetapi, kemudian bunda malah jadi bersyukur karena mas Tyaga jadi bisa muntah mengeluarkan dahaknya. Itu yang bunda yakini sebagai hikmah-Nya. Suara mas Tyaga jadi plong meski kita harus mengalami ribut sekeluarga.

Namun lomba FSL2N di tingkat SD ternyata sangat berbeda. Bahkan waktu pertama kali mewakili SD NU Master di tahun 2019, usia mas Tyaga baru 7 tahun di kelas 2. Sementara lawan dari SD lain sudah lebih matang di usia kisaran 10-11 tahun karena mereka semua sudah kelas 4 dan 5 SD. Namun lagi-lagi semua atas seizin Allah, bimbingan guru dan pelatih, mas Tyaga bisa juara 6 (Harapan 3). Bagi bunda itu hebat banget, Nak. Karena itu lomba mas Tyaga yang pertama kali di tingkat SD dan juga keseluruhan ada 32 peserta.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Nah, lomba FSL2N di tahun 2020 ini benar-benar berbeda karena masih dalam masa pandemi. Terlebih dalam keadaan diri bunda sendiri, Tyaga dan Jehan sedang batuk pilek lumayan parah, tetapi bunda harus terus berjuang mengendalikan semua rasa yang berkecamuk di tambah badan yang sedang tidak enak.

Hanya dalam hitungan hari yang tak sampai lima jari. Karena semula lomba ini dikabarkan dipending dulu selama pandemi entah sampai kapan. Tiba-tiba, tanggal 17 Agustus bunda mendapat kabar dari bu guru bahwa lomba akan dilaksanakan secara online. Saat bu guru memberi kepastian di tanggal 19 Agustus agar paling lambat bisa take video di hari Jumat tanggal 21 Agustus. Bunda auto fokus mulai dari genjot kesehatan serumah, kesiapan mental, materi lagu, cari baju nuansa merah putih, sampai fit di depan kamera untuk take video dan siap di upload ke laman lomba.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Benar-benar berjuang stabil emosi bersama suami dan anak-anak. Bunda semakin belajar melepaskan segala obsesi yang ada. Berganti RADICAL ACCEPTANCE, PENERIMAAN MENDASAR UNTUK SEGALA KEADAAN APAPAPUN TERJADI. YANG PENTING USAHA DULU. HASILNYA SERAHKAN KE ALLAH. APAPUN HASILNYA, KAMI SEKELUARGA SUDAH BERJUANG STABIL EMOSI. SAMA SEKALI TAK ADA PAKSAAN KEPADA TYAGA. BERGANTI TAKJUB PADA TYAGA YANG SUDAH SADAR DAN MANUT.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Hasilnya? Alhamdulillah … Meski tidak masuk nominasi sama sekali. Namun, Yeeeyyy kami sekeluarga bisa merasakan kemerdekaan emosi. Karena sama sekali tidak ada sensasi emosi. Tidak ada jantung yang deg-deg-an. Adem ayem, tetap akur sekeluarga, tetap saling sayang, tanpa penyesalan sama sekali karena telah menoreh luka batin bahkan sekadar bentakan pun tak ada. Tak ada obsesi apapun. Lebih berharga perasaan Tyaga ketimbang terobsesi pada hasil berupa piala. Sangat berbeda sekali saat menghadapi lomba-lomba sebelumnya dimana kami sampai bertengkar serumah.

Bahagia rasanya bisa tetap nyaman apa adanya di dalam keluarga. Semoga semua sahabat ImaRi’s sekeluarga juga bisa merasakan kemerdekaan emosi keluarga. Meskipun di masa sulit seperti pandemi sekarang ini. Teruslah berjuang. Merdeka!!!

Sokaraja, Agustus 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 23 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020. Sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 7 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan