Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Kelebat Pelecehan di Masa Silam Bikin Monster Inner Child Naik Pitam

Writer Challenge Rumedia

Tema Bebas Tetap

—–

Semua ibu yang memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, tentulah sering mendapati keadaan nyata di depan mata seperti pada foto bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Pada sebagian besar ibu, mungkin keadaan ini adalah hal biasa dan umum terjadi. Namanya juga anak-anak dan bersaudara kandung. Biasanya mereka akan bercengkrama di setiap waktu saat berkumpul bersama.

Seperti halnya kedua anakku, Tyaga dan Jehan. Dua bersaudara kandung laki-laki dan perempuan yang usianya hanya terpaut jarak 2 tahun 5 bulan saja. Mereka bercanda, bersenda gurau, berpeluk-pelukan, malah pernah pukul-pukulan. Sebenarnya hal tersebut umum dan biasa saja terjadi pada kedua anakku.

Namun, yang menjadi aneh justru yang terjadi padaku. Seketika darahku tersirap. Aku naik pitam! Aku tak dapat mengendalikan benciku saat melihat Tyaga menindih Jehan.

Tiga tahun lalu, sekadar melihat dan mendapati kejadian sepele ketika Tyaga “menindih” Jehan, langsung menghadirkan kelebatan masa kecilku. Tanpa sadar aku langsung memukuli Tyaga.

Demi Tuhan, padahal Tyaga adalah kakak laki-laki yang sangat baik pada adiknya. Bahkan sejak Jehan masih di dalam kandungan di tahun 2014.

Akan tetapi, di akhir tahun 2016, di saat keduanya membesar dan bermain bersama, mereka sangat mirip masa kecilku dengan kakak kandung laki-laki. Aku bertekad kuat melindungi Jehan dari kemungkinan dibully Tyaga. Agar Jehan tak perlu mengalami hal yang sama sepertiku.

Ya, ternyata aku pernah trauma berat akibat dibully kakak kandung dan pernah dilecehkan adik kandung laki-laki. Saat masih usia kanak-kanak kami sudah melakukan perbuatan tidak senonoh akibat ketidaktahuan kami tentang permainan ala orang dewasa. Sungguh, itu terjadi bahkan sudah 32 tahun lampau.

Kenyataan tersebut aku temukan setelah aku belajar kelas online Mindfulness Parenting pada Agustus 2016. Dari Mentorku yang bernama Bapak Supri Yatno, aku belajar mengurai satu per satu sumber ledakan marahku.

Kutemui pula kejadian lainnya. Aku pernah dilecehkan orang asing yang melintas di dekatku pada tahun 2003. Aku terluka, geram dan marah. Tetapi bingung harus melampiaskan semua perasaanku kepada siapa.

Kejadian yang membuatku depresi saat kelebat seringai dari pelaku pemegang payudaraku dalam waktu beberapa detik itu. Kejadian yang sangat cepat. Namun terpendam lama di otak bawah sadarku.

Peristiwa yang terjadi 13 tahun silam masih mampu membuatku mengalami serangan panik. Monster inner child yang pernah terluka semasa kecil kembali murka. Seketika aku melampiaskan dendamku dari perlakuan kakak kandung laki-laki, rasa jijik dari perlakuan adik kandung laki-laki dan benci luar biasa pada seringai orang asing yang memegang payudaraku.

Semua emosi itu campur aduk menjadi satu. Seketika mendaratkan bogem mentah yang berasal dari tanganku ke tubuh mungil Tyaga. Kala itu, di tahun 2016, Tyaga baru berusia 4,5 tahun.

Sebenarnya, aktivitas Tyaga dan Jehan bercengkrama adalah kejadian yang sangat sepele. Namum ternyata itu memicu trauma inner child-ku. Melihat Tyaga menindih Jehan, ada rasa ingin membalaskan semua dendamku akibat pelecehan dimasa silam.

Aku merasa ada yang tak beres dengan jiwaku. Mengapa sekadar melihat Tyaga dan Jehan bercengkrama seperti di foto bisa membuatku sebegitu marahnya hingga sulit terkendali dan jadi melukai fisik serta psikis Tyaga.

Aku memukul, memaki, melotot dan menghardik habis-habisan. Saat melihat Tyaga dengan wajah kebingungan penuh tanya, “Bunda kenapa mukul, Mas?” Justru membuatku semakin kalap.

Ya, aku trauma. Ketika sudah menjadi ibu, trauma-trauma itu muncul satu per satu, begitu nyata, tanpa bisa dibendung lagi.

Akhirnya, dengan pertolongan Tuhan melalui mindfulness parenting, pelan-pelan aku belajar menggali, mengurai, mengupas satu per satu penyebab kemarahanku yang terpicu oleh hal yang sangat sepele. Semua berakar dari inner child dan juga trauma ketika sudah dewasa.

-Ribka ImaRi-

Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari
rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. Anonim says:

    Tes

Tinggalkan Balasan