Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Kehilangan Pakde Kesayangan

Oleh: Ribka ImaRi

Perlahan aku masuk dan berdiri di sisi kanan pembaringan ruang ICU. Dinginnya ruangan serba putih ini membuatku sedikit takut. Aku takut kehilangan laki-laki paruh baya yang kusayang ini.

Kutatap lekat wajah Pakde yang sudah kepayahan bernapas. Dengan ekor mata kanan kumelihat beberapa alat bantu dipasang di dada Pakde. Mata Pakde menyiratkan masih ingin bicara padaku. Namun ia tak mampu mengucap sepatah kata lagi.

Penyakit TBC telah merenggut kesehatannya. Bahkan sebelum koma, Pakde masih sempat menelepon warung tetangga untuk dikirimi rokok beberapa bungkus. Ini yang memperparah sakitnya.

Hanya dengan mengenggam tangan dan angukkan kecil yang bisa kuberikan sebagai bahasa isyarat bahwa aku menyayanginya dan mendoakan kesembuhannya. Meski nampaknya tak mungkin. Namun aku berharap ada mukjizat untuk Pakde tersayang.

Aku menyayangi Pakde ketika aku tidak menemukan rasa sayang pada bapak kandungku sendiri. Pesona Pakde seolah mampu mengisi kekosongan jiwaku yang haus kasih sayang sosok seorang bapak. Pakde lebih sering kurindukan karena candanya membuatku bisa tergelak. Ketimbang bapakku yang hampir selalu membentak.

Ia adalah Pakde Karso. Kakak laki-laki dari mamaku yang menjadi pelindung kami selama ini. Pelindung dari kebengisan bapak yang memperlakukan mama dengan semena-mena.

Bapakku bisa tiba-tiba sangat santun jika bertemu Pakde. Beliau hanya takut pada Pakde Karso yang selama ini sering menasihati agar sayang pada istri dan anak. Ya, selama ini memang hanya Pakde yang didengar oleh Bapak.

Aku masih menggengam tangan kanan keriput Pakde dengan kedua tanganku. Sesekali aku mengusap-usap punggung tangannya. Pria berusia 65 tahun ini merespon dengan gerak jari-jarinya yang kian melemah. Segala kenangan kebaikan Pakde berkelebat.

Drrrttt … drrttt … telepon genggamku berbunyi tanda panggilan masuk. Ada sedikit penyesalan karena aku harus pamit untuk urusan pekerjaan. Jarak mobil yang kukendarai belum ak seberapa jauh dari rumah sakit tempat Pakde dirawat.

“Bapak sudah pergi, Tri.” Lirih suara sepupuku di seberang sana. Ia biasa memanggil nama kecilku dengan sebutan Tri.

Menjelang akhir tahun 2008, aku kehilangan Pakde kesayangan tanpa aku sempat menyaksikan di sisinya. Sampai kini, sudah 12 tahun berlalu sepeninggal Pakde, bayang wajahnya masih sangat membekas dipelupuk mataku.

Doaku, semoga Pakde tenang di sisi Allah SWT. Al-fatihah buat Pakde.

Sokaraja, 8 Agustus 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 22 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020. Sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan