Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Parenting Tips dan Trik Mengasuh Anak

Keajaiban dalam Pelukan

“Ayoook ngeden, Nduk! Bayangkan seperti lagi kesal ke mertua!” seru dukun beranak itu pada Lasiyah. Bukannya segera mengejan, Lasiyah malah mengerang lemah karena kelelahan.

“Pak, tolong panggilkan bu bidan saja. Emak sudah ga kuat … belum lahir juga ini.” suara Lasiyah begitu lirih, nyaris seperti tak terdengar. Saking kelelahan mengejan terus tetapi hanya sia-sia tanpa hasil.

Bukannya bergegas, Giman, suami Lasiyah, justru bergeming. Ia tengah berpikir keras tentang bagiamana cara akan membayar uang jasa bu bidan nantinya. Sedangkan untuk bisa makan dua kali dalam sehari saja merupakan keberuntungan baginya dan keluarga kecilnya.

Untuk biaya dukun beranak saja, ia bergantung sepenuhnya kepada bapak mertuanya.

“Pak, tolong panggilkan bu bidan … kalau gak mau, mending saya mati saja!” ujar Lasiyah mengeraskan suara, setengah mengancam. Meski ia tahu keadaan suaminya yang memang tak punya uang sepeserpun di hari menjelang kelahiran anak keduanya. Sama seperti kelahiran anak pertamanya dulu. Segala keperluan dibantu oleh bapaknya.

Namun, tadi ia terpaksa berkata demikian. Untuk membuat suaminya punya kesadaran dalam mengusahakan keselamatan dirinya dan bayinya. Meskipun pasti akan bingung untuk membayar jasa bidan.

Akan tetapi mau bagaimana lagi. Sebab dibantu dukun beranak hanya disuruh bersabar dan mengejan. Lasiyah takut sekali akan terjadi apa-apa pada dirinya. Seperti ibunya dulu yang meninggal ketika melahirkan adiknya.

Selang tak berapa lama….

“Wah … ini mah janinnya kerendam air seni, Pak. Sudah berapa lama seperti ini?” Giman hanya terbengong tak tahu harus menjawab apa kepada bu Bidan.

Melihat suami pasiennya diam saja, bu bidan langsung menjawab seraya bicara pada diri sendiri, “Ya sudah. Gak apa-apa Sekarang fokus sama ibu dan janinnya saja.”

Entah alat apa yang dipakai bu bidan, dengan beberapa kali sentuh di beberapa bagian perut, seketika mancurlah air seni yang merendam janin di perut.

Tak lama, dipandunya Lasiyah untuk mengejan. Ajaib! Hanya dengan beberapa kali mengejan, akhirnya Lasiyah melahirkan anak keduanya. Seorang anak perempuan yang mungil.

Sebagai istri, Lasiyah berharap sekali suaminya mau menggendong dan mendekap anak kedua mereka.

Tetapi apa daya, harapan itu kosong belaka. Hari-harinya mengurus dua anak sendirian. Padahal ia sangat ingin suaminya membantu kerepotannya. Namun, ia berusaha bersabar dan ikhlas.

***

“Sebenarnya bapak pernah mau gendong kamu sewaktu bayi. Tapi tiap mau digendong, kamu nangis sampai biru.” ucap mama padaku saat bercerita tentang masa kecilku.

Aku rindu pelukan bapak. Aku rindu bapak minta maaf lebih dulu atas semua luka batin yang pernah beliau torehkan sedari masa kecil hingga aku dewasa. Salah satu yang terngiang seumur hidup dan berkali-kali membuatku berpikir untuk bunuh diri karena merasa sangat terluka dan tidak berharga, “Lu bukan anak gua.”

***

Beberapa tahun terakhir, aku belajar Self Compassion (berbelas kasih pada diri sendiri) yang merupakan salah satu bahasan di Mindfulness Parenting.

Dikutip dari Myla dan Jon Kabat-Zinn, personal communication, Sept. 2012, Mindfulness parenting adalah proses kreatif yang berlangsung terus-menerus, bukan sebuah titik akhir. Proses ini melibatkan membawa kesadaran tidak menghakimi (non-judgemental), semampu yang orangtua bisa di dalam setiap momen. Termasuk juga di sini kesadaran tatanan dalam diri terhadap pikiran-pikiran, emosi-emosi, sensasi-sensasi tubuh, tatanan diluar diri orangtua terhadap anak-anak, rumah dan kultur yang lebih luas. (Supri Yatno. 2016. Mindfulness Parenting. Modul Mindfulness Parenting. Hal. 1).

Self compassin membuatku belajar lebih dulu memahami diriku sendiri sebagai orangtua dari kedua anakku. Kesadaranku dapat memastikan begitu banyak kekurangan dalam mengasuh Tyaga dan Jehan akibat warisan pola asuh yang telanjur melekat pada diriku.

Hal di atas yang menjadi dasar aku berbelas kasih kepada bapakku. Kesadaranku tidak lagi MENGHAKIMI bapakku bukanlah bapak yang baik, tetapi MENERIMA bahwa sampai kapan pun sepertinya bapak tidak akan mampu belajar menjadi bapak yang baik. Karena memang beliau tidak pernah merasakan kehadiran bapaknya bahkan sekadar mendekap dirinya semasa bayi atau kecil dulu.

Sebab ada satu alasan mendasar dan tidak dapat diubah seperti apa pun dan sampai kapan pun, selain aku mengubah penerimaanku. Yakni, bapak dari bapakku, yang merupakan kakekku, sudah meninggal sejak bapak dari dalam kandungan nenekku.

Akhirnya, aku memupuk kesadaran pikiran sehingga bisa menggangap wajar bahwa sampai kapan pun bapakku tidak akan pernah bisa menjadi bapak yang baik dengan rajin memelukku. Karena bapakku tidak pernah mendapat role modelmenjadi bapak yang baik. Bahkan hanya sekadar pelajaran memeluk anak dari kecil hingga dewasa.

Namun, dari cerita ibuku, setidaknya bapak sudah pernah berusaha mau menggendongku. Meskipun justru aku yang menangis sampai biru.

Aku mencoba menerima kenyataan itu semua. Aku belajar melepaskan harapan bahwa bapak akan mau memeluk diusiaku semakin mendewasa bahkan menua seperti sekarang ini.

Akan tetapi, aku yang sudah sadar lebih dulu dengan ilmu mindfulness parenting yang sudah aku pelajari sejak Agustus 2016, akhirnya aku mendahului datang dan memeluk bapak.

Ya, pada tanggal 28 Oktober 2017, setelah satu tahun dua bulan rentang waktu aku belajar mindfulness parenting di Agustus 2016, sambil terus berproses memaafkan dan menerima semua perlakuan bapakku. Akhirnya, aku datang menengok bapak di Jakarta.

Atas seizin Allah, aku sudah belajar mindfulness parenting dengan melepaskan semua harapan satu per satu. Bahkan untuk kemungkinan terburuk sekali pun. Jika nantinya bapakku tidak mau memaafkan, aku tetap tidak akan menyesali sebuah perjalanan sejauh 600 kilometer dari rumahku di Sokaraja, Banyumas menuju rumah orangtuaku di Kembangan, Jakarta Barat.

Aku tempuh bersama suami dan kedua anakku untuk menembus benteng ego dalam diriku sendiri lebih dulu. Demi sebuah babak baru dalam hidupku. Aku menempuhnya dengan tanpa beban dalam jiwa raga.

Pun sebuah perjalanan penuh perjuangan dalam mengumpulkan tekad dan dana. Hanya untuk meminta maaf lebih dulu kepada bapakku dan memeluk beliau secara spontan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Walaupun aku merasa beliau yang salah, harusnya beliaulah yang meminta maaf lebih dulu. Namun, aku belajar melepaskan harapan ini semua. Lalu aku mengambil tanggung jawab bahwa memaafkan adalah demi kebaikan dan kedamaian jiwaku. Bukan untuk orang lain, termasuk orangtuaku sendiri.

Ajaib! Hati ini merasa nyaman. Luruh semua satu per satu luka batin yang akarnya berasal dari dendamku ke bapak. Betapa ajaibnya sebuah pelukan. Aku tak lagi mempermasalahkan bahwa seumur hidupku tidak pernah dipeluk bapakku.

Sekarang yang terpenting bagiku, aku sudah menerima jalan hidup ini apapun bentuknya. Berganti fokus menatap masa depan. Menambah rasa syukurku mempunyai suami yang peduli sekali dengan kedua anaknya.

Bahkan sedari bayi, suamiku-lah yang pertama kali menggendong dan mendekap kedua anaknya. Karena justru aku tak berani menggendong dan memeluk kedua anakku sedari lahir. Mungkin ini pengaruh dari trauma masa kecil yang pernah merindukan pelukan dari bapakku.

Setelah itu, aku berjuang untuk belajar memeluk kedua anakku. Meski aku tidak merasakan pelukan hangat dari bapak, anak-anakku harus merasakan pelukan dari ayah dan bundanya sejak dini. Karena dalam pelukan ada keajaiban. Kedua anakku tidak perlu merasakan inner child (jiwa masa kecil) yang terluka akibat merindukan pelukan orangtua, seperti kakeknya dan bundanya. Cukup sampai di bundanya saja rantai perlukaan inner child ini terjadi.

Karena aku telah sadar, selalu ada keajaiban dalam pelukan sejak dini.

Pelukan saat inisiasi dini, sesaat bayi terlahir ke dunia, akan mentransfer sejenis mikroorganisme. Hal itu akan membuat daya tahan tubuh bayi akan semakin kuat. Dan ketika pelukan dengan rasa sayang ini diteruskan hingga masa kanak-kanak dapat menjadikan pribadi anak yang tidak gampang stress. (Penelitian Journal of Epidemiology and Community Health). (Arumbi, Wulan. 2017. Rahasia Keajaiban Pelukan Orangtua Bagi Anak. Tips memeluk anak. Psyline. https://psyline.id/rahasia-keajaiban-pelukan-orangtua-bagi-anak/Diakses 19 Oktober 2019).

With big hug,

-Ribka ImaRi-

imariscornerparenting/ribkaimari

rumahmediagroup/ribkaimari

Sumber gambar: RNB Challenge 1

0Shares

Anda mungkin juga suka...