Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting

Kamu Becanda, Aku Baper. Ada Apa denganku? Ternyata Ini Penyebabnya

Aku mencoba mengingat-ingat, rasanya pertama kali mengenal singkatan HSP adalah dari Mentorku, Pak Supri Yatno. Karena aku belum pernah membaca singkatan ini sebelumnya. Atau mungkin saja pernah, tapi belum sadar sepenuhnya tentang arti HSP.

Sampai akhirnya aku bisa mengikuti kelas online Mindfulness Parenting 2 pada akhir Agustus 2016. Pelatihan selama 8 minggu yang selesai di bulan Oktober 2016.

Dari kelas inilah aku menjadi tahu bahasan HSP. Setelah mengetahui salah satu cirinya, terutama poin nomor 5, 11 dan 16 yang terangkum di bawah ini adalah ciri yang melekat di diriku.

Terutama paling sensitif saat cuaca sangat panas, ramai dan bising. Lalu poin nomor 10, merasakan segala perasaan yang muncul secara mendalam serta poin nomor 15, luka masa lalu yang tidak sembuh sempurna bisa membawa dampak jangka panjang bagi HSP.

HSP adalah singkatan dari Highly Sensitive Person.

Adalah 17 karakteristik Highly Sensitive Person yang memberi gambaran yang lebih jelas (sumber google.com) :
1. Memiliki tingkat imajinasi yang sangat tinggi
2. Kreatif

3. Punya rasa ingin tahu yang besar
4. Sangat berempati terhadap masalah dan perasaan orang lain
5. Mudah merasa tidak nyaman di tengah situasi yang ramai, terlalu terang, bau yang menyengat dan banyak bunyi berisik.
6. Orang dengan tingkat sensitivitas tinggi sudah memiliki sistem dalam tubuhnya untuk memberi tahu saat dia tidak nyaman berada di sebuah lingkungan.
7. Memiliki kemampuan intelektual yang baik
8. Pekerja keras
9. Bisa memecahkan masalah dengan baik
10. Butuh waktu sendiri di tengah waktu sibuk atau setelah berinteraksi dengan orang lain secara intens
11. Merasakan segala perasaan yang muncul secara mendalam
12. Punya kemampuan estetika yang baik
13. Memberikan penghargaan tinggi terhadap alam, seni, dan musik
14. Sering menghindari menonton tayangan yang menampilkan adegan kekerasan
15. Memiliki intuisi dan sisi spiritual yang kuat.
16. Luka masa lalu yang tidak sembuh sempurna bisa membawa dampak jangka panjang bagi HSP
17. Mampu memandang permasalahan secara objektif

Ternyata oh ternyata … memang benar adanya kalau aku ini adalah seorang HSP. Bahwa cuaca extrim yang panasnya sampai 32º seperti siang kemarin seperti yang tertangkap pada foto di bawah ini adalah menjadi salah satu pemicu depresi dan bipolarku. Membuat kepalaku menjadi sangat sakit, pusing, tegang pada kening, pelipis dan tengkuk.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Hal tersebut membuatku flashback. Mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi pada diriku selama ini. Salah satu hal yang menyebabkan aku uring-uringan dan marah-marah tidak jelas. Aku pun sering tiba-tiba mood swing, dari yang tadinya sangat bersemangat bisa tiba-tiba low mood (tidak semangat).

Pun, sering tiba-tiba mood extrim dari ibu peri yang sangat sabar tiba-tiba menjadi ibu monster yang meradang karena mendengar Tyaga Jehan bercandaan, berebutan, hingga berujung suara tangisan yang sangat memicu amarahku.

Ditambah suara tangis anak tetangga depan rumah yang semakin memicu. Semua itu terjadi di saat cuaca sangat panas. Seperti memantik amarahku seketika.

Belum lagi saat teringat candaan nylekit dari tetangga depan rumah yang kalau kuingat banyak sekali terpendam di hati dan perasaan selama bertahun-tahun. Saat teringat, dada dan ulu hatiku nyeri sekali rasanya. Membuatku sangat sulit memaafkannya. Bahkan sekadar candaan dari suamiku pun bisa membuatku tingkat tinggi.

Sungguh … aku tak kuat menghadapi situasi dan kondisi di depan mata. Akibat ketidakmampuanku mengelola emosi, beberapa tahun lalu, pernah membuatku secara otomatis melampiaskan kemarahanku kepada Tyaga dan Jehan.

Padahal bukan ulah Tyaga dan Jehan yang harus dipersalahkan. Namun akar masalahnya adalah HSP yang kuidap sejak dalam kandungan. Bisa saja ibuku adalah seorang HSP juga. Aku sangat ingat bahwa segala keadaanku sekarang sangat mirip sekali dengan keadaan bapakku dulu semasa aku kecil. Bapakku pasti marah-marah saat keadaan bising dan panas.

Dengan mengetahui keadan inilah, pelan-pelan aku berusaha memaafkan perlakuanku kepada Tyaga dan Jehan. Dengan langkah ini, aku jadi bisa memaafkan bapakku sampai ke akar-akarnya. Aku memaafkan bapak yang pemarah. Karena dulu bapak belum tahu salah satu penyebab kemarahannya yang sama persis denganku, yaitu akibat HSP yang juga diidapnya.

Sehingga menjadi penting bagiku untuk mengetahui apakah aku mendapat warisan sifat HSP atau tidak. Sebab setelah aku mengetahui arti HSP dan cirinya, aku menjadi belajar MENERIMA KEADAAN DIRIKU SENDIRI DAN KEADAAN SEKITAR. Karena sebenarnya HSP tidak bisa hilang disembuhkan. Akan tetapi bisa dikendalikan supaya tidak memicu kemarahan.

Dengan mengenali aku yang mulai sakit kepala akibat cuaca panas, berusaha segera mencari solusi. Mengganti baju yang nyaman dan menyalakan kipas. Serta akhirnya harus rela MENERIMA keadaan menyalakan AC demi mencegah terpantik akibat hawa panas. Meski ada rasa distress empati ke suami. Kasian suami beli pulsa listrik mahal. “Sayang-sayang” pulsa token listrik kalau aku pakai buat ngadem setiap saat.

Tapi segera aku ACCEPTANCE keadaan di atas satu per satu. Afirmasi positif “tak mengapa sebentar saja menyalakan AC supaya kepalaku cepat mendingin lagi”

Alhamdulillah siang itu aku sukses tanpa terpicu. Karena aku sudah belajar mengenali diri sendiri yang HSP. Yang sangat mudah terpicu oleh cuaca panas yang membuat otak ngebul.

Kemudian aku pun belajar mengendalikan baper akibat omongan orang lain dengan cara melepaskan satu per satu omongan yang nyelekit bersama aliran cucian piring atau cucian baju. Aku berjuang memakai pekerjaan rumah tangga sebagai media aku detox emosi setiap hari bahkan setiap saat. Kerjaan selesai, emosi terkuras bersih. Jadi tidak menumpuk dan terpendam lagi seperti dulu sebelum mengenal mindfulness parenting.

Karena HSP ini juga, aku jadi belajar memaklumi bahwa orang yang bicaranya nyelekit adalah orang yang terluka hatinya. Dengan memahami ini, aku jadi bisa berjuang memaafkan orang yang pernah melukai hatiku dengan ucapannya. Aku pun belajar untuk memutus perlukaan sakit hati akibat omongan nyelekit dengan belajar bersikap empati kepada orang lain.

rumahmediagroup/ribkaimari

imariscornerparenting/ribkaimari

Sumber foto: Bbm.com

Sokaraja, Februari 2019

-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan