Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Non Fiksi Parenting

Jika Kejadian Sepele Memicu Uring-uringan, Gali Inner Child-mu, Ibu!

Jika Kejadian Sepele Memicu Uring-uringan, Gali Inner Child-mu, Ibu!

Oleh: Ribka ImaRi

Meskipun aku sudah berkali-kali piknik bareng anak-anak sejak Desember lalu, terlebih saat libur sekolah. Kami bertiga ke Pantai Jetis. Bersama rombongan wali murid dalam rangka ke undangan pernikahan pak gurunya Tyaga. Lalu di minggu depannya, lanjut pergi bertiga ke mall untuk main salju, menonton bioskop dan makan bertiga. Pokoknya kemana-mana bertiga.

Namun, tetap saja aku merindu pergi berempat bersama suami, ayahnya anak-anak. Rasanya sudah beberapa akhir pekan belakangan, kami tidak bisa pergi bersama walaupun sudah tidak LDM-an lagi. Tetapi ada-ada saja urusan suami dengan pekerjaannya.

Sejak belajar Mindfulness Parenting sedari 3,5 tahun lalu, aku belajar menggali dan mengasuh inner childku secara intensif. Inner childku yang bagai benang kusut. Sebenarnya aku sudah paham bahwa uring-uringan pada suami bukan karena suami abai tetapi lebih dari itu akar penyebabnya.

Yaitu, luka pengabaian semasa kecil begitu membekas dan mendalam. Bapakku belum pernah mengajak kami jalan-jalan semasa kecilku. Karena memang keadaan keluarga kami yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, kala itu di tahun 1980-an. Tak ada satu pun foto masa kecilku bersama bapak. Apalagi momen piknik bersama.

Dengan RADICAL ACCEPTANCE, aku sudah bisa menerima masa laluku itu secara mendasar. Aku sadar untuk tidak lagi menuntut bapakku di masa kecilku. Karena memang saat itu beliau belum sanggup memenuhi kebutuhan tersier (piknik). Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan primer (makan) saja, beliau harus setengah mati berusaha menyediakannya untuk kami sekeluarga.

Aku sudah bisa tidak lagi menyesali masa laluku. Menerima secara mendasar tentang keadaan orangtuaku dulu. Aku yakin kedua orangtuaku sudah berjuang memberi sebisanya.

Justru hal yang terjadi dimasa kecil, aku jadikan pembelajaran agar kedua anakku tidak perlu mengalaminya. Anak-anakku sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama ayahnya. Namun ada kalanya aku begitu menuntut suami agar selalu menyediakan waktu di akhir pekan untuk kami pergi bersama berempat.

Meskipun di hari biasa, aku sudah sering pergi berdua saja dengan suami di saat Tyaga dan Jehan sekolah. Kali ini memang suami benar-benar belum bisa diajak pergi karena ada urusan pekerjaan.

Akan tetapi, tetap saja ada kelebat-kelebat perasaan terabaikan walaupun itu bukan salah suami sepenuhnya. Perasaan uring-uringan bagai diabaikan itu bukan karena kurang bersyukur, tetapi memang ada satu akar inner child yang terpicu.

Beruntung sudah mengenal Mindfulness Parenting, jadi sudah paham penyebab uring-uringanku. Aku TERIMA PERASAAN itu.

Aku segera sadar untuk memilih bertanggung jawab demi memperjuangkan kebahagiaanku bersama kedua anakku. Segera Buang Sampah Emosi (BSE) bersama aliran air cucian piring tadi pagi. Hempaskan sesak di dada dengan latihan pernapasan selama di sepeda motor.

LEPASKAN HARAPAN dan kemelekatan pada suami. TERIMA KENYATAAN bahwa suami sedang tidak bisa diajak jalan-jalan. Sadari terus menerus dan fokus untuk menciptakan bahagia versiku dan duo TJ. Berjuang menjadi istri yang tidak menuntut suami. Supaya bisa menjadi contoh nyata untuk Tyaga dan Jehan. Agar keduanya tumbuh menjadi pribadi yang tidak selalu menuntut kepada keadaan atau pun kepada siapapun. Tetapi berusaha menciptakan bahagia versinya sendiri.

Tyaga dan Jehan tetap bisa bahagia pergi jalan-jalan bersama bunda. Tidak uring-uringan sama sekali. Karena anak hanya mencontoh bundanya yang sudah bisa tidak uring-uringan. Sebab dalam Mindfulness Parenting, “Mengasuh Anak adalah Mengasuh Diri Sendiri Lebih Dulu.” Jika mau anak anteng tidaj uring-uringan, ibu lebih dulu memberi contoh anteng.

Meski perasaan sedang tidak enak karena berkali-kali kecewa ketika menghadapi kenyataan bahwa suami tak selalu bisa hadir di akhir pekan. TERIMA KENYATAAN harus bertiga lagi. Hanya bersama anak-anak. Segera AFIRMASI diri, “Yuk, Ribka kecil, dewasakan dirimu. Tak usah uring-uringan lagi. Kamu pasti bisa membawa kedua anakmu jalan-jalan. Kamu pasti bisa tetap bahagia meski hanya bertiga saja.”

Hasilnya? Alhamdulillah bisa tetap bahagia bersama anak-anak. Meski hanya sekadar makan nasi kuning di warung nasi langganan di kawasan kampus Unsoed, keliling-keliling sampai Baturraden menikmati indahnya pemandangan Gunung Slamet, lalu singgah di toko roti dan terakhir belanja sayuran. Semua aku lakukan dengan senyum bahagia tanpa kesal lagi.

Sesampainya di rumah, aku tetap bisa menyapa lembut suami. Menyediakan sarapannya dan hubungan kami tetap membaik meski sempat ada rasa dongkol dan kecewa suami tidak bisa diajak jalan-jalan tadi pagi.

Karena bahagia itu, sebaiknya istri atau ibu yang ciptakan demi kebahagiaan serumah. Istri lebih dulu belajar membahagiakan inner childnya yang mudah terpicu saat suami tak mampu memenuhi kebutuhan batin atau bahkan tidak memahami luka batin istrinya.

Yuk! Belajar Bersama di Kulwap GRATIS

“Mengenali Inner Child Diri Sendiri, Suami dan Anak dari Hal Sepele dalam Aktivitas Sehari-hari”

Mentor : Ribka ImaRi (Penyintas Trauma Inner Child)

Hari: Jumat, 24 Januari 2020

Pukul: 19-22 wib

Silakan klik tautan di bawah ini:

https://chat.whatsapp.com/Da67YMqinap18vEcLRP6zd

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan