Cerita Anak Latihan Menulis Komunitas Non Fiksi Parenting Tips dan Trik

Jehan Berjuang Mengendalikan EGO (Emosi, Galau, Obsesi)

Jehan Berjuang Mengendalikan EGO (Emosi, Galau, Obsesi)

Oleh: Ribka ImaRi

Bunda tahu ini sangat tak mudah diusiamu yang baru akan 5 tahun 5 bulan, Nak. Mengingat sejak usiamu dua tahun, selepas disapih Air Susu Ibu (ASI), mas Tyaga yang kala itu masih berusia 4 tahun 5 bulan, dengan ringannya ikut sounding, “Enggak apa-apa ngempong terus, Dek sampai masuk sekolah nanti.” Jadi lah itu menancap dipikiran bawah sadarmu hingga bertahun-tahun. Sebab memang harus sangat berhati-hati dalam menyusun kalimat sounding karena sekali didengar, akan menancap seterusnya.

Bunda rasanya ingin marah kepada mas Tyaga dan keadaan saat itu. Karena runtuh semua sounding yang bunda tanamkan sedari dede Jehan usia satu tahun sampai lepas ASI diusia dua tahun kurang satu minggu.

Jatuh dan bangun kita berjuang bersama untuk bekerjasama selama hampir 3,5 tahun. Melihatmu berpose seperti ini saja sudah bikin bunda takjub dengan caramu berjuang mengendalikan diri dari keinginan (obsesi) “ngempong” (mengisap jempol tangan) sebelum tidur.

Yeeey! Akhirnya, belakangan ini dede Jehan selalu bisa on the way tidur tanpa ngempong. Meski saat nyenyak kadang-kadang masih tidak sadar ngempong sejenak saja. Akan tetapi bisa langsung rela, tidak pakai tangis seperti dulu saat bunda pamit cabut jempolnya.

Karena dulu ketika fase tantrum (mengamuk) sedang dipuncaknya usia tiga tahun, dede Jehan pernah mengamuk dengan menangis histeris ketika jempolnya yang sedang dihisap selagi tidur bunda cabut dengan paksa. Saat itu bunda hanya ingin tetap konsisten menegakkan aturan “tidur tanpa mengempong.” Jadi bunda biarkan Jehan menangis dalam pelukan bunda. Dengan mengelus-elus punggung Jehan sambil membisikkan kalimat sounding ditelinganya.

Menemani Jehan menangis sampai reda dan memberi pengertian sampai benar-benar mengerti, itu demi memberi pembelajaran pengendalian emosinya.

Akhirnya dede Jehan benar-benar mau mendengar sounding bunda selama 3,5 tahun berjalan.

Dengan semangat, konsisten, sabar dan telaten, bunda terus menerus sounding “Enggak pakai ngempong ya, Dek. Berjuang ya, Sayang. Bunda percaya Dede pasti bisa mengendalikan rasa ingin menghisap jempol. Bunda yakin tidak lama lagi Dede pasti bisa lulus sehari-hari 24 jam tanpa ngempong. Kita kerjasama ya, Sayang. Demi kebaikan Dede supaya bisa mengendalikan diri sejak dini sampai dewasa nanti. Semangat ya, Sayang. Bunda bangga dan bersyukur punya anak seperti Dede yang luar biasa pengertian. Terimakasih ya, Nak.”

Inilah pentingnya pendidikan pengendalian diri sejak dini, terutama fase tantrumnya. Supaya anak bisa belajar mengendalikan EGO (Emosi, Galau, Obsesi) hingga kelak dewasa. Agar anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang mudah diatur selepas lulus fase balitanya, diusia 5 tahun.

Lalu diusia 7 tahun bisa terkendali dalam banyak hal tanpa paksaan. Karena terbiasa diberi pengertian sedari kecil. Jadi tumbuh dan berkembang menjadi anak yang penuh pengertian.

Apakah itu semudah membalik telapak tangan? Tentu tidak. Namun dengan Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten, niscaya akan ada hasil terbaik.

Salam SKST! (Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten)

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan