ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Arloji, Sebuah Kenangan Menjadi Kenyataan

Oleh: Ribka ImaRi

Desember 2007

“Mbak, aku jadi ambil yang model ini ya. Sepasang. Buat yang cewek, satu. Buat yang cowok, satu.” kataku pada pramuniaga toko jam tangan ternama di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Setelah cukup lama memilih, menimbang dan sepakat dengan harganya, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada arloji berwarna silver. Jam tangan dengan merk terkenal berasal dari Jepang ini telah memikat hatiku. Harganya pun masih cukup rasional. Apalagi jika mengambil paket membeli sepasang akan mendapat diskon.

Bentuknya yang persegi panjang memang sangat sederhana. Karena tak ada satu pun angka di dalam kaca arloji. Hanya ada dua bulatan kecil batu hias sebagai pemanis yang aku sendiri tidak tahu itu batu jenis apa. Dua batu hias itu sebagai penanda pukul 6 dan 12 serta dua garis di sisi kiri dan kanan sebagai penanda pukul 9 dan 15.

“Aku juga, yang ini Mbak. Sama ya modelnya. Sepasang juga,” kata Duddint yang berada di sebelah kananku.

Pria hitam manis ini adalah temanku satu kantor dan satu tim selama sembilan bulan ini. Sedari tadi ia hanya menemani dan perhatikan aku memilih-milih arloji. Lelaki yang seniorku perempuan bilang good looking ini memang tergolong pendiam.

Makanya aku kaget saat ia ikutan membeli sepasang jam tangan dengan merk dan model yang sama pula. Pasalnya, rencana semula ia hanya ingin menemaniku dan melihat-lihat saja. Tak ada niat untuk ikut membeli.

Meski aku tahu ia sudah punya seseorang yang spesial di hatinya. Seperti aku yang sedang menjalin Long Distance Relationship dengan si dia nun jauh di Kota Padang. Duddint pun mempunyai calon istri yang tak lama lagi akan dinikahinya. Begitulah kira-kira yang aku ketahui dari ceritanya selama ini.

Pramuniaga toko pun ikutan kaget, “Loh, mas-nya beli juga? Saya kira Mbak beli untuk berdua. Kirain ini pacarnya, Mbak.” Masih kaget dan heran, si mbak pramuniaga memandangku lalu beralih ke Duddint. Hingga beberapa kali. Namun kami berdua hanya cengar-cengir saja.

“Nggak, Mbak. Aku beli buat pacarku di Padang. Dia mah beli buat pacarnya di Majenang.” Buru-buru aku menjawab kebingungan mbak pramugari. Aku tahu rinci tentang calon istrinya Duddint, karena selama ini kami memang sering cerita-cerita saat bersenda gurau di kantor.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan salah kiranya si mbak pramuniaga. Namun entah mengapa, tiba-tiba hatiku berdesir aneh dan membatin, “Jangan-jangan beneran dia yang jadi jodohku. Ish, apa sih, Ribka? Aneh-aneh saja pikiranmu. Kamu kan sudah punya calon. Dia juga. Nggak akan mungkin kalian jadian. Lagi pula kalian kan berbeda agama. Nggak akan mungkin kamu jadi mualaf. Sadar itu Ribka!”

Aku memang menganggapnya hanya hubungan pertemanan biasa. Karena aku masih teguh pada agamaku dan juga berjuang tetap setia pada calonku di Pulau Sumatera sana. Dengannya aku sudah menjadi hubungan selama hampir tiga tahun. Kabarnya Duddint pun sama begitu. Ia malah akan menikah bulan Januari nanti.

Arloji pasangan kami masing-masing telah sampai ke pemiliknya. Aku mengantar langsung ketika aku berlibur ke rumah calon mertuaku di Tanah Minang. Begitu pula Duddint telah mengunjungi calon mertuanya di Majenang.

Febuari 2008

Namun siang itu, di akhir Febuari 2008, dua bulan setelah kami berbelanja di Pasar Baru, ia bercerita padaku baru saja putus hubungan dengan calonnya. Sementara itu, tanpa bercerita sebelumnya, aku pun telah memutuskan hubungan dengan calonku di Padang.

Tepat satu tahun menjalin hubungan dengan pria berdarah Nias, jarak antara Padang dan Jakarta nyatanya menyulitkan pembuktian untuk saling kepercayaan. Karena lelah dicurigai terus menerus, aku memutuskan mengakhiri hubungan yang kujalin di awal kehidupan baruku ketika berdinas di kota Padang.

April 2008

Tak disangka, tak diduga, dalam keadaan kami yang sama-sama sendiri, entah bagaimana …. Benih-benih cinta itu mulai bersemi pada saat perusahaan tempat kami bekerja mengadakan National Meeting. Bertemu intens dengannya selama seminggu, di tengah banyak teman dari se-Indonesia, tetap tak bisa menutupi bunga-bunga cinta yang terhampar di meja meeting Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Aku masih sama. Masih memakai arloji yang kubeli bersamanya.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

“Matamu indah, Na.” Sebaris SMS (Short Message Service), pesan pendek darinya. Padahal kami hanya berjarak selingkaran meja bundar yang akhirnya bisa berfoto berdampingan.

Aku tak bisa menolak rasa yang berdesir, meski hati masih bimbang. Sampai akhirnya, Allah yang Maha membolak-balikkan hatiku. IA pula Yang Maha mengatur jodoh hamba-Nya, meski Duddint memanggilku NA, yang artinya No Access.

Agustus 2010

Walaupun pada awalnya, semua seakan mustahil. Akhirnya, hanya kuasa Allah yang nyata mampu menyatukan hati kami di pelaminan. Setelah 2,4 tahun menjalin hubungan yang up and down dan hampir menyerah karena perbedaan agama.

MasyaAllah, membatin dalam hati akhirnya menjadi kenyataan. Dia, teman sekantorku kini resmi berganti predikat menjadi suami. Setelah kami menikah di KUA Tambak, Banyumas tepat dihari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Ya, benar! Ia mengucap ijab kabul setelah menunggu pak penghulu melaksanakan upacara bendera. Karena kami menikah di tanggal 17 Agustus 2010. Sebuah tanggal yang tak lazim tetapi unik. Akan mudah mengingatnya seumur hidup menjadi kenangan tak terlupakan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Lihatlah! Pada foto di atas, arloji kenangan itu masih tetap kupakai saat berfoto selepas aku dan suami menanggalkan jas dan kebaya pernikahan. Jam tangan yang betul-betul menjadi pengingatku bahwa aku pernah membatin dalam hati, “Jangan-jangan beneran dia yang jadi jodohku.” Bagai doa yang diucapkan dalam hati.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Jam tangan yang sama masih loyal menemaniku menyetir ketika pindah dari Kota Depok, Jawa Barat ke Kota Getuk Goreng Sokaraja, Banyumas. Entah mengapa aku merasa menyatu dengan arloji ini. Aku tak ingin yang lainya.

Menjelang usia pernikahan kami yang ke-10 tahun, sudah tak terhitung berapa kali suamiku menggiringku ke depan etalase toko jam tangan bermerk keren. Namun masih tetap berakhir dengan gelengan kepalak.

Aku selalu selalu menjawab, “Jam tangan Bunda masih bagus dan menyala, Yah. Masih cukup satu ini saja.”

Aku sudah merasa cukup dengan Allah mengabulkan doa sederhanaku kala itu. Kenangan indah hampir 13 tahun lalu, sampai kini tetap menjadi kenyataan yang indah. Arloji ini masih setia melingkar di pergelangan tanganku, menjadi satu-satunya jam tangan yang kumiliki sejak Desember 2007 hingga pagi ini tanggal 4 Juli 2020.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Maha Besar Allah dengan segala rahasia kehidupan dari-Nya. Aku tak pernah tahu kisah cintaku akan bermuaranya seperti ini. Namun, yang aku tahu, aku akan berjuang tetap setia menjaga pernikahanku denganmu, wahai teman sekantor yang akhirnya menjadi teman sehidup. Seperti aku menjaga arloji yang kita beli bersama, memaknainya sebagai sebuah kenangan menjadi kenyataan indah. Selamanya. Aamiin

Sokaraja, 4 Juli 2020

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

2 Komentar

  1. kubaca berulang kali, ko’ aku suka selalu tulisan-tulisan mb Ribka, yang ini apalagi ada nuansa
    romantic😍

  2. Ribka ImaRi says:

    Terima kasih bundaku sayaaang😘😘atas apresiasinya.

Tinggalkan Balasan