Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting

Inner Child Seorang Ibu yang Membenci Anak Pertama

Reaksi kita saat dewasa pada orang lain (suami, anak, mertua, saudara kandung, ipar, tetangga, dan lainnya) semua berakar dari apa yang kita dengar, lihat, alami dan rasakan sewaktu kecil. Reaksi ini muncul dari sosok “anak” dalam diri kita, atau jiwa masa kecil kita yang bernama inner child (IC). Kita semua punya IC yang membuat kita bereaksi kuat terhadap sesuatu, tanpa sepenuhnya menyadari “aku ini kenapa?”

Inner Child adalah sisi kepribadian kita yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil. (On Marissa’s Mind : Menyembuhkan Luka Masa Kecil. http://youtu.be/-e_DWK0bv3w. Diakses 24 Oktober 2019).

Dulu, ketika anak pertamaku, Tyaga, masih berusia sembilan bulan di bulan September 2012, untuk pertama kalinya ia muntah dengan kuantitas banyak dan intensitas yang berulang. Saat muntah, Tyaga kecil berguling-guling di kasur membuat reaksiku di luar dugaan. Ada semacam kemarahan yang ingin aku luapkan. Namun, saat itu masih bisa aku tahan dan bersabar. Tidak kuluapkan di hadapan suami dan bayi Tyaga.

Aku masih belum paham, hal apa yang menyebabkan aku sangat ingin marah? Namun yang pasti aku sangat ingin menyalahkan adikku yang sudah membuat bayi Tyaga sakit. Aku membenci keadaan yang tengah terjadi.

Marah pada adik yang membutuh tanda tanganku untuk suatu urusan. Keadaan yang membuatku harus menyetir sendirian dan menempuh jarak sejauh 35 km dari Depok ke Jakarta Barat. Karena saat itu suamiku sedang tidak bisa mengantar.

Selama pergi dan pulang, bayi Tyaga duduk di car seat sementara aku menyetir. Mungkin karena bayi Tyaga lelah, ia jadi sakit. Aku marah, karena merasa harus mengorbankan bayi Tyaga demi kepentingan adikku.

Setelah aku mereka-reka … sepertinya kemarahanku bukan karena hal itu saja. Tetapi juga karena melihat Tyaga muntah. Di satu sisi aku kasihan melihat bayi Tyaga yang muntah-muntah parah di usia yang masih sembilan bulan.

Di sisi lain, ternyata aku marah karena mendadak otakku mengingat kejadian semasa kecil hingga dewasa yang hampir selalu sakit dengan disertai muntah. Sewaktu aku masih duduk di bangku SD pernah sampai keluar cacing bersamaan muntahnya. Terlebih saat aku sudah mengalami fase menstruasi dan mengidap kista endometriosis selama 17 tahun lamanya.

Ya, sejak usia 14 tahun, aku selalu saja muntah setiap bulan saat menjelang dan H1 menstruasi. Hingga akhirnya bisa sembuh setelah hamil Tyaga di usiaku yang menginjak 31 tahun.

Setelah mempunyai anak, tak disangka aku harus menghadapi kejadian anak muntah. Bayi Tyaga jadi sering sakit disertai muntah sejak usia sembilan bulan. Hampir setiap bulan (persis kejadian menstruasiku) dan baru berakhir saat Tyaga sudah berusia 6,5 tahun.

Membuatku pernah begitu membenci Tyaga setiap kali ia muntah. Bahkan hanya disebabkan kejadian sepele, seperti tersedak atau batuk saja, Tyaga bisa muntah hingga seluruh makanan yang dimakannya keluar sampai satu piring penuh. Benar-benar membuatku heran dan tak habis pikir.

Lama kelamaan, hal tersebut ternyata benar-benar memicu depresi dan bipolarku. Aku bisa marah meledak-ledak saat melihat Tyaga muntah seperti pada foto di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku membenci setengah mati saat melihat Tyaga muntah. Aku seperti melihat rekaman hidupku sendiri ada pada Tyaga. Layaknya sedang bercermin dan menonton Tyaga yang persis masa laluku.

Dengan bengis aku mencaci maki dan berteriak di depan wajah Tyaga yang sedang kepayahan muntah, “Kamu kenapa sih muntah-muntah terus! Kamu tahu ga, bunda benci banget lihat kamu muntah. Benci banget. Sialan kamu ya!”

Ya, Tuhan ada apa denganku? Bukannya kasihan melihat Tyaga, aku justru menambah penderitaan Tyaga. Mengapa bisa sedemikian dalamnya aku membenci anak pertamaku?

Aku mencoba mereka-reka lagi. Apa karena aku yang selalu sakit setiap bulannya?

Sakit menstruasi disertai muntah yang aku alami selama 17 tahun lamanya dan baru bisa sembuh setelah aku hamil anak pertamaku, Tyaga.

Ya, ini dia jawabannya. Setelah aku mengenal Mindfulness Parenting pada Juni 2016, aku baru tahu bahwa ini adalah bagian inner child (jiwa masa kecilku) yang pernah trauma pada muntah. Membuatku pernah benci melihat anak kandung muntah.

Normalnya seorang ibu, ia akan iba melihat anaknya muntah. Tapi IC-ku yang belum dewasa justru marah dan bengis setiap kali Tyaga muntah. Karena IC-ku masih membenci diriku sendiri yang “tukang muntah.”

Terseok-seok aku mengasuh IC-ku. Menghiburkan IC-ku. Kukatakan padanya, “Sayangilah ia yang sedang muntah, ia sakit, jangan kau benci dia. Sebaiknya kau hiburkan dia. Puk … puk … peluk jiwa masa kecilmu yang pernah sendirian saat sakit muntah dan tak ada seorangpun yang memeluk. Sekarang lihatlah Tyaga anak pertamamu, ia pun sakit sekarang. Sama sepertimu yang pernah sakit sewaktu kecil. Jadi sekarang kasihi Tyaga. Sayangi dia. Tyaga tersiksa karena sakit muntahnya. Jangan kau tambahkan siksa akibat kebencianmu pada Tyaga akibat masa kecilmu.Peluk Tyaga. Rangkul Tyaga. Seperti kau ingin memeluk IC-mu yang bersedih. Cukup sampai di dirimu saja segala kesedihanmu. Jangan kau teruskan ke Tyaga menjadi menderita sendirian saat muntah.”

Berbaris kalimat Acceptance (penerimaan) di atas aku ucapkan terus menerus. Sampai akhirnya aku bisa menerima keadaan Tyaga yang muntah tanpa aku terpicu lagi. Aku tidak lagi marah meledak-ledak. Ketika Tyaga sudah berusia 7,5 tahun, aku sudah bisa tanpa sensasi stres sama sekali. Yang biasanya berupa kepala sakit, rahang kencang, leher tegang.

Ajaibnya Allah, ketika semua rasa cemas dan takut akan trauma muntah saat menghadapi fase menstruasiku, sudah bisa aku kendalikan dengan baik, Tyaga jadi terhitung jarang muntah. Bahkan lebih sering sehat di usianya yang telah menginjak delapan tahun.

Dinyatakan sehat jiwanya oleh Psikolog anak, Ibu Kurniasih Dwi, P. Tubuhnya pun tumbuh semakin sehat. Alhamdulillah sehat jiwa raga seiring fase menstruasiku yang semakin membaik.

Sepertinya benar pepatah mengatakan, “anak akan anteng karena ibunya tenang lebih dulu,” pun berlaku, “anak akan sehat (tidak tukang muntah) karena ibunya berjuang sehat jiwa raga lebih dulu (tidak khawatir, panik, cemas anak sakit),” dan “anak tidak akan stres kalau ibunya belajar mengendalikan stres lebih dulu”. Sejatinya batin ibu menyetrum pada anak.

Betapa IC ini, jika tidak diasuh dengan baik, ia akan menjadi penghalang hubungan kasih sayang antara orang tua terutama ibu kepada anaknya.

Sokaraja, 24 Oktober 2019

rumahmediagroup/ribkaimari

-Ribka ImaRi-
Seorang ibu yang pernah sangat membenci anak pertama akibat inner child (jiwa masa kecil)

(Proyek Buku Solo “Inner Child Ribka ImaRi”)

Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...