Bipolar Curahan Hati Depresi ImaRi's Blog ImaRi's Corner Parenting Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Kisah Hikmah Mindfulness

Inner Child Membenci Bangun Pagi

Tuhan, terima kasih sudah membangunkanku dengan penuh KESADARAN.

Pagi, terima kasih sudah menyambutku dengan energi baru.

Tuhan dan semesta, aku meminta maaf. Dulu, aku begitu membenci pagi dan begitu menantikan malam. Puluhan tahun aku menjalani hidup dalam keadaan membenci yang tak seharusnya kubenci. Padahal tak ada yang salah dengan pagi.

Tergali akar INNER CHILD-ku. Persepsiku lah yang salah tentang pagi. Karena ketika pagi menyapa dengan ramahnya itu arti yang sebaliknya karena harus bersiap mendengar omelan dan ocehan bapak sepanjang hari mulai dari bangun tidur sampai menutup mata berangkat tidur di malam hari.

Dan ketemu akar INNER CHILD-ku yang mendamba malam untuk segera berangkat tidur, karena disitulah berhenti semua suara yang membuat jantung berdebar kencang karena kaget mendengar dan melihat bapak membanting bahkan menghancurkan barang. Setiap hari. Sepanjang hari. Sejak aku janin dalam kandungan sampai menjelang menikah di usia 30 tahun. Hanya berjeda saat aku nge kos selama 7 tahun sejak kuliah dan bekerja.

Bisa dibayangkan seperti apa emosi benciku. Menumpuk puluhan tahun menjadi cikal bakal depresi sejak janin. Aku membenci pagi, tapi tanpa kusadar, tubuhku otomatis bangun sepagi mungkin hanya demi tidak kena omelan sebangun pagi. Yang dalam kamus bapak, bangun subuh itu sudah terlambat.

Tanpa kusadari, bertahun-tahun lalu aku mempunyai gangguan tidur yang selu otomatis buka mata sebelum jam 3 dini hari dan tak bisa tidur lagi. Aku membenci bangun pagi, tapi justru Pikiran Bawah Sadarku memaksa aku bangun pagi dengan alarm panggilan alam ke WC. Setelah itu, otakku tersetting untuk langsung mengerjakan pekerjaan rumah.

Dulu, aku pernah membenci diri sendiri yang tidak bisa santai bangun siang meski hari libur seperti hari ini. Banyak emosi terpendam yang aku rilis sejak mengenal ilmu Mindfulness for Inner Child sejak Agustus 2016. Salah satunya emosi membenci bangun pagi yang berakar dari emosi membenci omelan bapak.

Justru membuatku bangun selalu dini hari demi tidak diomelin bapak. Ribka kecil haus membuktikan bahwa, “Tak perlu diomelin, aku bisa bangun pagi. Bapak, tolong jangan ngomel, aku sudah bangun lebih pagi setiap harinya.” Walau tak urung bapak tetap mengomel karena hal sepele lainnya.

Sekarang, setelah banyak luka INNER CHILD-ku membaik, aku jadi bisa sangat bersyukur, Tuhan menciptaku dasyat dengan alarm biologis yang otomatis. Aku bersyukur jadi punya banyak waktu melakukan banyak hal sebelum serumah terbangun di subuh. Aku sudah bisa bangun pagi dengan santai. Tanpa napas memburu, ngos-ngosan dan debar jantung terkontrol dengan tenang serta terkendali.

Butuh menyembuhkan luka-luka INNER CHILD untuk bisa mensyukuri keadaan saat ini. Tak lagi mendendam dan membenci yang telah berlalu. Termasuk tak lagi membenci dan mendendam atas perlakuan bapak dan orang-orang di masa kecilku yang telah menoreh luka INNER CHILD.

Lega
Plong
Bersyukur

Selamat pagi untuk semua Sahabat ImaRi’s
Semangat menjalani hari dengan sukacita di hati

www.imariscornerparenting.com

“Sehat Jiwa Keluarga Bahagia”

Jika kamu merasakan hal yang sama sepertiku dulu, membenci bangun pagi jadi selalu bangun pagi atau sebaliknya jadi susah bangun pagi, yuk gali akar INNER CHILD-mu!

Hubungi Ribka ImaRi WA.me/85217300183

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan