Acceptance Curahan Hati Depresi ImaRi's Blog ImaRi's Corner Parenting Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kisah Hikmah Mindfulness Parenting Tulisan Ribka ImaRi (Owner)

Hari Sumpah Pemuda, Hari Aku Berdamai dengan Kedua Orangtua

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat Pagi Sahabat ImaRi’s!

Apa kabar di Hari Sumpah Pemuda yang penuh dengan makna?

Ya, hari Sumpah Pemuda memang sangat bermakna buatku. Mari izinkan aku menceritakan maknanya.

Jakarta, 28 Oktober 2017

Aku ingin menulis banyak tentang semua cara yang kutempuhi untuk sampai di posisi ini, di hari Sumpah Pemuda yang secara harafiah mengandung makna janji yang membangkitkan semangat rakyat Indonesia, terutama para anak muda untuk menegaskan kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam hal ini, semangatku untuk berdamai dengan kedua orangtua demi kemerdekaan jiwaku.

Tak lagi kuingat berapa banyak nasehat yang menghakimi, “Jangan sampai jadi anak durhaka!” Aku bahkan tak peduli lagi. karena memang pada kenyataannya, pernah ada keinginan kuat tak ingin menjenguk mamaku bila mungkin ajal mama telah dekat. (Empat tahun kemudian, akhirnya beliau almarhumah pada 16 Juni 2021). Egoku begitu tinggi.

Aku lelah. Sangat lelah. Aku bingung dari mana harus memulai memperbaiki segalanya. Segala hubunganku dengan kedua orangtua yang terus menerus berseteru. Namun cara-Nya yang luar biasa membolak-balikkan hati kami masing-masing.

Pertama kali mau memeluk mama setelah 9 bulan putus komunikasi sama sekali

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Foto di atas kupersembahkan untuk mentorku Pak Supri Yatno yang luar biasa sabar menunggu waktuNYA sampai aku siap menghadapi semua. 1 tahun lebih aku berproses. Pak Pri sangatlah sabar membimbingku mengurai satu per satu akar serabut masalahku hingga aku bisa menemukan akar tunggang hingga aku bisa mengendalikan ego dan emosiku sampai pada titik kurva yang flat. Tak ada sensasi negatif apapun saat memeluk mama dan bapakku. Berganti compassion luar biasa.

Sumber foto: dokumentasi dari FB pribadi

Lepas semua ego diri berganti pelukan hangat pipi ketemu pipi

Dan aku begitu plong saat memeluk mama, justru mama yang pertama kali mengucapkan, “Maafin mama ya Nok sering bikin kamu nangis.”

“Sama-sama Ma. Maaafin Nok juga ya Ma, baru jenguk mama sekarang.”

Bapakpun dengan ringannya mengucap, “Maafin Bapak juga ya Nduk”

Sumber foto: dokumentasi dari FB pribadi

MasyAllah … terasa sangat ringan semunya, bebas lepas segala penatku selama ini. Aku memang tak butuh apa-apa berupa materi,.selain pelukan tulus dan permintaan maaf yang tulus atas luka pengabaian selama ini.

Kusadari, aku pun pernah membalas melukai kedua orangtua dengan pemberotakan dan pembangkanganku. Karena menurut ilmu dari Mentorku, “hati yang terluka akan balas melukai.” Begitu seterusnya menjadi lingkaran setan yang belum terputus.

Jadi akulah yang harus berjuang memutus rantai perlukaan itu demi aku dan anak-anakku. Tak terbesit lagi seperti dulu, “Kupikir aku sudah memaafkan keduanya” tetapi pada kenyataannya aku terluka lagi.

Kini, aku bahkan sudah memaafkan kedua orangtuaku jauh hari sebelum keduanya berbicara langsung meminta maaf padaku.

Aku tak mau lagi mendengar nasihat, “Sudahlah … yang buruk-buruk jangan diingat-ingat lagi.” Itu tidaklah benar. Karena apa yang sudah menancap di memori otakku sangatlah sulit untuk dihapus seumur hidup. Yang benar adalah MENERIMA-nya (ACCEPTANCE). Jadi ketika mengingatnya, emosiku sudah bisa sangat terkendali dan tidak menimbulkan sensasi sedih, marah atau apa pun itu yang buruk dan membuat terpurul mendalam menjad depresi, yang merusak baik ke dalam diri sendiri ataupun ke luar dari diri sendiri.

Subhanallah … walhamdulillah … benar-benar plong, tak ada ada emosi negatif sama sekali.
Karena akar dari segala luka batinku seumur hidup sampai usia 37 tahun telah kucabut pada tanggal 28 Oktober 2017.

Semua atas seijin Allah SWT, semua atas doa banyak sahabat, semua atas bimbingan mentor yang sudah pengalaman dengan trauma dan luka batin lainnya, semua atas dukungan suami dan anak-anakku, Tyaga dan Jehan.

Yang paling utama adalah diri ini sendiri. Daya juang yang tinggi, semangat yang tinggi, konsisten, sabar dan telaten, mau melewati setiap prosesnya yang sangat menyakitkan. Namun kemauan yang besar untuk mengubah diri menjadi pribadi yang dilembutkan Allah SWT. Itu kuncinya. MasyaAllah.

Ditulis ulang di Sokaraja, Banyumas pada tanggal 28 Oktober 2021. Postingan aslinya dari FB Ribka ImaRi

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 38 buku Antologi sejak Januari 2019 (Sebanyak 34 antologi sudah terbit, 25 dari Penerbit Rumedia, 8 dari Wonderland Publisher dan 1 dari Aksana Publisher)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/Desember 2019-Sekarang)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Be Mindfulness Wife (BMW/Mei 2021-Sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (Desember 2019-sekarang)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020-sekarang)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan