Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Gadis Rapuh Menjelma Menjadi Wanita Tangguh

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi dari Banyumas😍😍

Salam sehat jiwa raga untuk semua Sahabat ImaRi’s di mana pun berada.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku sedang merasa takjub pada semesta ciptaan Allah yang Maha Indah dan takjub pada anugerah kesehatan dan kesembuhan dari Allah untukku.

“AKU TAK MAU SEUMUR HIDUP SELALU DIBELENGGU PENYAKIT TERUTAMA SAAT MENSTRUASI DIMULAI SAAT USIAKU MASIH 14 TAHUN. CUKUP SUDAH SELAMA 26 TAHUN AKU MENDERITA SETIAP BULANNYA. KINI, DIUSIAKU MENJELANG 40 TAHUN, AKU MAU BERJUANG BAHAGIA DAN SEHAT SELALU. BISMILLAH YAKIN SELALU ALLAH IZINKAN SETIAP IKHTIAR YANG MENJADI JALAN KESEMBUHAN SERTA KESEHATAN UNTUK JIWA RAGAKU.” Beginilah radical acceptance-ku sejak aku sudah mengenal Mindfulness Parenting di bulan Agustus 2016.

Mindfulness Parenting, adalah sebuah ilmu pengasuhan untuk diri sendiri terlebih dulu agar SADAR PENUH untuk PENUH SABAR dalam mengasuh dan memperbaiki diri sendiri.

Selama empat tahun berproses terus memperbaiki diriku. Melalui teknik ACCEPTANCE, aku berjuang menerima satu per satu keadaan diriku apa adanya. Diriku yang sejak kecil hingga dewasa masih saja penyakitan, aku terima satu per satu sakitnya. Ajaib, semakin aku menerima sakitku, menjelang masa keemasan menapaki hidup di usia 40 tahun, semakin tua, justru aku benar-benar merasa semakin sehat jiwa dan raga.

“Sehat itu mahal!” Pepatah ini sungguh benar adanya.

Sebagai insan yang sedari kecil dirundung penyakit, jujur aku lelah berhadapan dengan biaya rumah sakit. Yang sekadar berobat batuk pilek saja bisa menghabiskan nominal Rp. 500.000 pada tahun 2012 di salah satu rumah sakit di Depok, Jawa Barat. Tempat kami tinggal dulu. Beruntung kala itu aku memakai asuransi dari kantor suami. Jadi tidak terlalu terbebani.

Namun, sejak saat itu aku bertekad ingin selalu sehat. Bukan saja demi mengirit biaya berobat. Terutama demi bisa mendampingi anakku membesar tanpa aku sakit-sakit lagi.

Cukup sudah sakitku saat menjadk ibu. Sakit batuk pilek selama 10 hari dan harus memakai masker ketika Tyaga masih berusia 1,5 bulan sangat menyiksaku. Sebab selain suami, aku tidak punya siapa-siapa yang bisa diandalkan untuk menggantikan aku mengurus anak saat aku sakit. Terlebih ketika LDM (Long Distance Marriage) selama 2,7 tahun di bulan Juni 2016 sampai Febuari 2019.

Membuatku benar-benar berjuang sehat karena hanya ada Allah yang mendampingiku mengurus kedua anakku tatkala suami belum pulang dari Depok atau Cirebon, kota tempatnya bekerja.

Ya, seingatku … memang ada benarnya label “penyakitan” disematkan pada ribka kecil hingga menjadi ibu. Aku bahkan mempunyai foto balita dalam keadaan kepala digundul akibat bisul di kepalaku yang merata, saking banyaknya bisul di kepala, sehingga sulit dibersihkan jika masih dalam keadaan rambut yang lebat. Sayangnya foto itu kini hanya ada di rekaman otakku. Entah masih ada atau tidak di rumah orangtuaku.

Berlanjut masa anak-anak, hampir setiap minggu aku batuk pilek. Bahkan sejak balita, aku bolak balik sakit muntaber sampai keluar cacing setiap muntah. Sakit sariawan dan radang tenggorokan pun jadi langgananku hampir setiap bulan. Benar-benar tiada bulan tanpa sakit.

Pun, aku masih mengingat betul kala duduk di kelas 5 SD dan teman-teman sekelas datang menjengukku. Saat itu aku sakit batuk yang setiap kali berdehem atau sekadar menelan ludah pasti sampai menjengking-jengking. Karena saking sakitnya.

Juga pilek yang tiada henti sampai luka lecet sampai berdarah di dalam lubang hidung dan di bawah hidung akibat lendir yang mengering lalu basah lagi, sudah mengering tetapi kemudian basah lagi. Begitu terus berulang tiada henti. Aku ingat sekali rasa stres ala anak kecil usia SD yang sedang ujian akhir tahun. Aku tidak bisa berkonsentrasi penuh mengerjakan soal akibat lendir pilek yang terus saja mengalir sementara bagian bawah hidungku sudah luka berdarah akibat di lap sapu tangan yang kering.

Kemudian ketika masih duduk di kelas 5 SD juga, sepeninggal kakakku menghadap Yang Kuasa, aku sakit cacar air berbarengan dengan adikku laki-laki. Penyakit yang pernah sangat kubenci saat itu karena teringat tersiksanya akibat rasa nyeri sekaligus gatal pada bintil luka bekas cacar. Seingatku, kala itu aku tidak mendapat pengajaran rasa sabar dalam menghadapi sakit. Jadi sampai aku membesar masih saja uring-uringan saat sakit.

Lalu berlanjut masa remajaku. Disinilah dimulai penderitaan sakitku yang seakan tiada akhirnya sebelum aku mati. Begitulah pikirku ketika masih berusia belasan. Sebab sejak aku mendapat siklus haid pertama kali di usia 14 tahun, setiap bulannya aku pasti terkapar akibat terkena serangan nyeri haid hebat.

Membuatku susah makan hingga terkena tifus yang membuat kepalaku botak sebagian. Pun, nyeri haid hebat itu berlangsung selama 17 tahun. Muntah setiap detik dengan bulir keringat sebesar jagung, wajah dan bibir membiru, tubuh menggigil, perut bagian bawah bagai diperas, vagina kram terasa mau ambrol saat berdiri, sekujur tubuh nyeri.

Membuatku tidak mampu bangun dari tempat tidur. Bahkan mengharuskanku muntah di ember yang diletakkan di samping tempat tidurku sejak subuh sampai magrib. Tidak terkatakan lelah jiwa raga.

Sejak aku duduk di kelas 2 SMP diusia 14 tahun sampai sebelum hamil Tyaga di usia 31 tahun, setiap bulan terkapar seperti itu. Akibat kista endometriosis yang belum terbaca alat USG semenjak aku berobat pertama kali ke ahli kandungan pada usia 23 tahun ketika aku masih menjadi mahasiswi Fakultas Hukum Undip, Semarang. Aku memberanikan diri memeriksakan diri di RS. Elisabeth, Semarang pada tahun 2003.

Tak sampai disitu, aku pun harus merasakan di opname di RS. Yos Sudarso pada tahun 2006 ketika aku bekerja di Padang, Sumatera Barat. Akibat kolaborasi nyeri haid dan tipus lagi.

Besaran kistaku baru ketahuan 6,5 cm setelah aku berobat ke dokter kandungan yang kesembilan di RSCM saat usiaku hampir ke-31 pada tahun 2011. Sebuah perjalanan panjang dalam mencari kesembuhan.

Belum lagi penyakit herpes simplex yang pertama kali sadar kuidap saat kelas 2 SMP. Luka bernanah di bibir bagian kiri atas yang sering membuatku malu bertemu teman-teman sekolah. Aku semakin tidak percaya diri. Sementara aku merasa dibiarkan begitu saja oleh kedua orangtuaku.

Aku baru tahu nama penyakitnya dan baru paham mencegahnya agar tidak telanjur parah setiap kali imun tubuhku drop, setelah konsultasi dengan salah satu dokter di Padang pada tahun 2005. Rentang waktu selama 10 tahun sejak pertama kali menyadari tiba-tiba ada bintil berisi nanah yang muncul di bibir.

Ditambah rasa nyeri akibat kesemutan di kedua tangan yang kuidap sejak usia 28 tahun hingga kini menjelang 40 tahun. Tidak ada yang tahu jika aku tidak jujur menyebutkan keluhanku pada suami. Setelah di periksa dengan seksama oleh dokter ahli syaraf bahkan dengan rontgen.

Namun, tetap belum tidak diketahui penyakit apa yang menyerangku hingga aku pernah menangis pilu ketika menyusui bayi Jehan di tahun 2014. Karena saking nyerinya.

Aku lelah jiwa raga, frustasi bahkan sampai depresi menghadapi sakitku yang beruntun dan tiada berjeda. Belasan tahun hingga puluhan tahun selalu sakit. Terakhir aku mendapat diagnosa di tahun 2017, saat aku sudah mempunya dua anak yang sehat dan lucu, aku harus menerima kenyataan bahwa aku memang mengidap depresi dan bipolar.

Aku bersyukur Allah memberi daya juang tinggi. Berjuang terus menerus untuk berikhtiar sembuh dan sehat. Ikhtiar terus, ikhtiar lagi. Aku berjuang memperbaiki pola hubungan dengan Sang Pencipta juga manusia. Belajar menerima ketetapan Allah dalam hidupku. Tidak lagi menolak kejadian-kejadian dalam hidup, tetapi belajar menerimanya (seni ACCEPTANCE).

Atas seizin Allah, aku lakukan satu per satu ikhtiar untuk sembuh. Diantaranya, belajar memaafkan semua orang yang pernah membuatku terluka batin. Belajar memperbaiki pola hidup agar tidak memforsir tubuhku. Aku pun belajar memperbaiki pola makan dengan menghentikan sementara makanan yang berupa junk food, fast food dan makanan instan terutama indom*e instan yang membuatku candu sejak usia sembilan tahun.

Lalu aku juga belajar mengubah pola pikir yang semula sering negatif berjuang jadi positif terus sejak mengenal mindfulness parenting. Membuatku mulai melatih diri untuk terus bisa berani dan kuat beraktivitas di luar rumah saat menstruasi.

Ribka kecil dulu rapuh jiwa dan raga, melekat label penyakitan dari balita dan seumur hidup paling malas berolah raga. Apalagi saat menstruasi, sudah pasti rebahan selama dua hari dua malam di rumah saja. Selama 26 tahun sering kali tidak berani ke mana-mana. Karena sangat takut terkena serangan nyeri haid hebat yang membuatnya meringkuk di mana pun berada. Tak peduli di meja kelas, kamar mandi sekolah, halte, trotoar, kursi ruang kuliah, kampus, di meja kantor, di atas stang motor atau setir mobil saat menepi di pinggir jalan. Juga dapat dipastikan seringnya uring-uringan dan mengamuk saat PMS (Pre Menstrually Syndrom).

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Kini menjelma menjadi wanita tangguh yang mampu tegar berdiri menaklukan dirinya sendiri di saat menstruasi H2. Ribka dewasa yang bisa sangat sehat bahkan sekadar sakit umum seperti batuk, pilek dan demam biasa pun sudah tidak pernah lagi sejak dua tahun terakhir. Ribka dewasa juga sudah bisa matang emosinya. Sudah bisa sangat stabil fisik dan psikis.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Ribka dewasa yang ceria dan berani beraktivitas di luar rumah saat menstruasi bahkan mampu gowes sejauh 30 km PP Sokaraja sampai alun-alun Banyumas. Sujud syukur alhamdulillah. Semua anugerah Allah Yang Maha Kuasa. Yang mampu menyembuhkan. Bismillah bisa terus istikamah beriktiar sehat jiwa dan raga. Aamiin.

Sokaraja, 7 Agustus 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 22 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020. Sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan