Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Distres Empati dan Kabar Kematian

Oleh: Ribka ImaRi

Awal Oktober 2017,

Sekujur tubuhku gemetar, tulangku terai copot dari tempatnya, mataku panas dan jantungku nyeri. Sakit sekali. Aku lemah tiada berdaya seperti rasa ingin mati saja. Napasku sesak. Aku tersadar, aku terkena serangan panik.

Demi mendengar kabar kematian suami dari wali murid teman TK-nya Tyaga. Entah mengapa, ini bukan sekali atau dua kali, tetapi seingatku sering timbul sejak aku remaja. Terus saja berlangsung sampai aku berusia paruh baya (usia 35-58 tahun) tanpa bisa memahami apa yang sedang terjadi. Yang pasti, setiap mendapat kabar kematian, aku ketakutan setengah mati.

Namun, semenjak aku mengenal Mindfulness Parenting yang aku ikuti pelatihannya secara online di bulan Agustus 2016, pada sesi yang membahas distres empati, aku jadi paham bahwa ternyata aku mengalaminya sejak tahun 1993 kala masih remaja.

Empati (dari Bahasa Yunani εμπάθεια yang berarti “ketertarikan fisik”) didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain.[1] Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.[1] Kata empati dalam bahasa inggris (Empathy) ditemukan pada tahun 1909 oleh E.B. Titchener sebagai usaha dari menerjemahkan kata bahasa Jerman “Einfühlungsvermögen”, fenomena baru yang dieksplorasi oleh Theodor Lipps pada akhir abad 19. Setelah itu, diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Jerman sebagai “Empathie” dan digunakan di sana.[2] (Wikipedia).

Sementara distres berarti stres yang sifatnya negatif. Jadi kalau mau diartikan secara bahasa awam, distres empati adalah empati pada orang lain tetapi justru membuat diri sendiri stres.

Ya, aku memang menjadi stres luar biasa saat mendengar kabar kematian akibat sakit. Aku menemukan penyebabnya karena trauma inner child-ku ketika kehilangan kakak kandung yang meninggal gara-gara sakit sampai koma waktu aku masih duduk di kelas 5 SD.

Kemudian, aku membayangkan di posisi wali murid teman Tyaga tersebut. Apa jadinya ia menjalani hidup tanpa suami di sisi? Bagaimana ia akan menghidupi dan membiayai diri dan anaknya. Semua itu menambah stresku yang bermutasi menjadi distres empati.

Tak terasa bulir bening menderas bak anak sungai. Seketika darahku terkesip. Stres bertubi-tubi menyergapku. Berbagai perasaan berkelebat dan berkecamuk. Aku memang empati kepada wali murid tersebut, akan tetapi justru menghadirkan stres yang sangat mengganggu pada diriku sendiri.

Atau jangan-jangan aku distres empati pada diriku sendiri? Ya, ternyata aku pun distres empati pada diri sendiri. Rasa empatiku pada wali murid tersebut telah membuatku memposisikan diri di posisi ibu wali murid teman Tyaga.

Aku takut … sungguh takut. Ya, aku takut mati. Aku takut jika aku mati, siapa yang akan mengurus kedua anakku. Belum lagi aku takut karena amal ibadahku belum seujung kuku. Apa yang hendak kuwariskan kepada kedua anakku. Hidup rasa tak berguna. Menjadi ibu rumah tangga yang biasa-biasa saja. Bahkan membantu perekonomian suami pun aku tak mampu.

Lagi-lagi depresi mendera dan aku merasa terpuruk. Terlebih sejak kejadian kecelakaan motor bersama Tyaga dan Jehan, membutku semakin takut mati. Baca di sini Titik Kulminasi Keikhlasan Ibu Depresi. Sebab, kala itu aku masih mendendam marah kepada mereka yang telah membesarkanku. Membuatku semakin ketakutan jika ajal telanjur menjemput namun waktuku tak cukup untuk meminta maaf kepada kedua orangtuaku.

Dalam perjalananku mengendarai sepeda motor tatkala menjemput sekolah Tyaga, aku berjuang terus menerus ACCEPTANCE, “Aku menerima kedua orangtuaku. Aku tak ingin mendendam lagi segala macam emosi yang disebabkan oleh mama dan bapak.” Baca kisahku berdamai dengan orangtua di Radical Acceptance Tak Ingin Membawa Luka Batin Sampai Mati

Tak ada yang tahu rahasia Illahi, aku tak ingin membawa dendamku sampai mati. Bergegas aku mengambil wudu dan salat di sepertiga malam. Kuluahkan semua rasa yang menyiksa batin.

Tiba-tiba, ada rindu menelusup di relung hati dan perasaan berdesir dan membatin, “Aku sudah memaafkan mama dan bapak sampai ke akar-akarnya,” membuatku benar-benar bersyukur. Ini pencapaian tertinggi dalam hidupku. Manakala dendam kesumat itu telah Allah ubah menjadi welas asih kepada kedua orangtuaku.

Meski ragaku belum bisa memeluk keduanya, aku sudah bisa mendekap mereka dalam doa. Seketika hatiku tenang. Perlahan kabut rasa takut itu perlahan menipis. Bismillah bisa segera sirna. Aku harus sungguh-sungguh berjuang memaafkan banyak orang meski apapun terjadi. Walaupun mungkin mereka semua tidak pernah meminta maaf padaku lebih dulu.

Aku ingin mati dengan damai. Akhirnya di penghujung bulan Oktober 2017 aku memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah orangtuaku. Mendadak rasa takut itu, berganti rasa lega ketika aku melihat kedua anakku telah belajar cara berdamai melalui bundanya sebagai role model.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Perasaan lapang ketika mama dan bapak pun mengucap minta maaf kepada diriku. Meskipun kami masih berbeda keyakinan, tetapi aku tetap yakin karena hingga kini, hanya satu pintaku pada Sang Khalik agar mempertemukan kami di surga-Nya kelak. Walaupun aku pernah sangat membenci bapakku. Proses Islah dengan Bapakku yang Paling Kubenci Selama 37 Tahun Usiaku

“Segerakan diri untuk berproses dan belajar MENERIMA (ACCEPTANCE) satu per satu kesalahan agar dapat memaafkan orangtua atau siapa pun sebelum hari esok tak ada lagi.”

Sungguhpun sangat tak mudah untuk menerima (acceptance) kenyataan akan hari kematian. Meski hanya sekedar mendengar kabar kematian dari orang terdekat. Pernah membuatku distres empati hebat sampai serangan panik. Namun aku berjuang untuk tidak menolak kematian. Justru menjadi pengingat diri untuk terus memperbaiki pribadi terutama melepaskan segala dendam di hati.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Alhmdulillah ketika membaca kabar duka x seperti yang ada pada foto chat di atas, aku sudah bisa tenang. Sama sekali tidak terkena serangan panik akibat distres empati.

Berdasarkan firman Allah ini telah jelas bahwa manusia pasti akan menghadapi kematian kapan pun, di mana pun dan dalam keadaan apa pun. Orang yang pintar adalah orang yang bisa mengingat mati dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengingat kematian manusia akan lebih bijak dan berhati-hati dalam meningkatkan keimanan dan ketawaan pada Allah SWT. Rasululah SAW bersabda,”Banyak-banyaklah mengingat mati sebab mengingat mati itu menhapuskan dosa dan mengkikis ambisi seseorang terhadap dunia serta cukuplah mati sebagai pemberi peringatan.” (HR Bukhori Muslim)- (https://www.beritasatu.com/ramadansatu/jalan-pulang/562566/kematian-adalah-kesempurnaan).

Sokaraja, 25 Juli 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan