Curahan Hati Hari Kesehatan Mental ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mindfulness Parenting

Distres Empati yang Bikin Baperan

DISTRES EMPATI YANG BIKIN BAPER

Senin sore nan syahdu … pukul 16.59 wib… ditemani rintik hujan. Suami masih kerja di area, Tyaga dan Jehan masih tidur sejak siang. Aku sedang menonton video klip terbaru dari BCL (Bunga Cerita) yang mengharu biru, “12 Tahun Terindah.” Sungguh suasana yang sangat mendukung untuk baper.

Alhamdulillah sudah tak ada setetes pun air mata. Kalau tiga tahun lebih yang lalu, aku pasti sudah menangis berderai-derai sampai capek sendiri. Kalau ingat masa-masa depresi kambuh (2016-2018) itu memang nggak enak sekali rasanya.

Sore ini, aku mendapati salah satu tanda bahwa aku sudah membaik dari DEPRESI (merasa terpuruk) & BIPOLAR (lagi happy dengan keadaan keluarga kecilku, tapi bisa tiba-tiba sedih mendalam keinget kenangan kelam masa sedihku). Tanda itu adalah ketika aku sudah bisa mengendalikan DISTRES EMPATI yang dulu-dulu sering memicu depresi dan bipolarku. Terlebih dalam keadaan menstruasi seperti saat ini.

Distres empati adalah empati yang justru membuat stres. Dulu, sering kali aku empati pada orang lain dengan memposisikan diriku yang mengalami seperti cerita orang yang sedang aku baca atau tonton. Namun justru membuatku sedih mendalam sampai terpuruk. Misal, keluarga, sahabat atau tetangga yang mengalami musibah. Atau bahkan sekadar dari melihat berita atau film di TV atau membaca sebuah novel atau postingan di FB atau internet.

Empati pada orang lain itu baik. Tanda bahwa diri ini peduli pada orang yang sedang tertimpa musibah. Akan tetapi distres empati (empati emosional) justru menyerang diri sendiri menjadi stres bahkan depresi seperti aku alami dulu.

Alhamdulillah setelah belajar Mindfulness sejak Agustus 2016, pelan-pelan membuatku SADAR sepenuhnya untuk hadir di sini sebagai diriku dalam kehidupan sendiri. Bukan merasuk dalam kehidupan orang yang tertimpa musibah, yang aku sedang baca atau tonton. Aku belajar agar bisa mengendalikan rasa empati.

Seperti halnya dalam video klip BCL ini, sebagai sesama istri bukan tidak mungkin suatu saat aku pun mengalami kejadian yang sama seperti BCL alami di bulan Febuari 2020 lalu. Kehilangan pasangan hidup adalah hal tersedih dalam hidup. Aku pasti empati pada BCL.

Namun aku harus tetap bisa SADAR SEPENUHNYA mengendalikan rasa empatiku. Karena pada dasarnya, empati ke orang lain itu baik adanya asalkan bisa terkendali sehingga tidak merugikan perasaan diri sendiri.

Sokaraja, Oktober 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 28 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020 sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 11 antologi menulis di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan