Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

Diam Kamu!

Diam Kamu!

Oleh: Ribka ImaRi

“Diam kamu!” Suara bentakan suamiku diawal pernikahan kami pada bulan Agustus 2010. Bentakan itu sebenarnya sangat biasa didengar bagi sebagian orang. Tetapi tidak bagiku.

Bentakan halus sekali pun mampu membuat air mataku berlinang bahkan berderai bak air hujan. Entah mengapa hatiku teramat hancur berkeping bagai kaca sesaat setelah mendengar bentakan itu.

Padahal mataku sedang bersirobok dengan mata suamiku. Demi Tuhan, suamiku adalah suami yang 90% perilakunya sangat baik pada istrinya dan juga kedua anaknya. Namun, melihat wajah suamiku disaat marah seketika mirip bengisnya dengan bapakku sewaktu aku masih tinggal serumah bersama orangtua.

Tidak, tidak, tidak. Sebenarnya tidaklah separah itu. Bukan ingin mengumbar aib rumah tangga. Tetapi sungguh, setiap kali suamiku marah, aku sangat membencinya hanya karena rekaman marah bapakku memang begitu melekat di otak, pikiran dan perasaan.

Bahkan di mataku saat terpejam. Membuatku sangat membenci orang lain marah. Meskipun itu suamiku. Aku tidak mau lagi melihat orang marah disekitarku. Sebab aku sudah lelah melihat bapakku marah setiap detik disepanjang 30 tahun usiaku sebelum menikah.

Aku menjadi takut. Takut sekaligus sangat membenci ekspresi wajah suamiku ketika marah. Padahal belum tentu juga suamiku semarah bapakku. Tetapi keadaan “marah” menjadi pemicu ketakutanku yang membuat aku jadi nangis berderai.

Perasaan benci dan cintaku pada suami menjadi sangat tipis batasnya. Bahkan pada suamiku sendiri, aku menjadi begitu sulit menjelaskan tentang perasaanku ini.

Hal tersebut seringkali memicu pertengkaran dalam rumah tangga kami. Bertahun lamanya aku terbelenggu perasaan itu. Namun saat itu aku masih mempunyai kesadaran untuk tetap berlaku baik kepada kedua anakku.

Sedari mereka masih bayi lalu tumbuh dan berkembang menjadi baduta, batita serta balita, aku berjuang jangan sampai kedua anakku aku bentak dengan bentakan yang sama, “Diam Kamu!” Karena aku tahu benar rasa nyeri di hati ketika mendapat bentakan itu. Aku hanya tidak ingin kedua anakku mengalami hal yang sama yang aku alami semasa kecil hingga dewasa saat masih bersama bapakku.

Aku akui hal ini membuatku sangat bersyukur. Karena sampai delapan tahun aku menjadi ibu, aku belum pernah membentak bahkan sekadar melotot saat menyuruh anakku untuk diam. Sebab aku tahu benar rasanya nyeri hati saat dihardik bapakku dulu.

Aku bisa mengendalikan perasaan ingin membentak itu. Tetapi entah kenapa, aku sangat sulit mengendalikan sedihku ketika suamiku membentak. Seketika aku menangis berderai justru semakin membuat suamiku semakin kalap.

Ada apa dengan rumah tangga kami?

Kami yang menikah dengan dilandasi saling mencinta tetapi entah apa yang terjadi. Disaat sedang marah, kami bisa saling menyakiti satu sama lain. Begitu terus menerus hingga pernikahan kami telah memasuki usia tahun ke-enam.

Aku frustasi. Kulihat suamiku pun frustasi mengadapi kecengenganku. Kami bingung harus berlaku bagaimana lagi agar tidak saling memicu dan saling menyakiti terus menerus. Jujur, ini semua membuatku sangat lelah. Aku berusaha pasrah kepada Tuhan.

Ada rasa ingin bercerita kepada orangtua atau mungkin kepada para senior yang sudah lebih pengalaman berumah tangga. Tetapi … ah, rasanya aku malu. Pun, aku takut justru dipersalahkan akibat kelakuanku yang memancing kemarahan suami sendiri.

Sampai akhirnya, pada bulan Agustus 2016, tepat enam tahun usia pernikahan kami, Tuhan Maha Baik mempertemukan aku dengan Mentor Mindfulness Parenting, Bapak Supri Yatno. Dari beliau lah aku menjadi tahu bahwa masalah rumah tanggaku berakar dari inner child-ku (IC) dan suami.

Selama 3,5 tahun aku dan suami berproses bersama mengasuh IC kami masing-masing. Hingga akhirnya, kami bisa berdamai dalam banyak hal. Termasuk dalam hal sepele seperti bentakan, “Diam Kamu!” Benar-benar sepele. Tetapi akarnya sangat dalam berasal dari jiwa masa kecilku yang terluka akibat bentakan bapakku. Membuatku ketakutan ketika suami membentak.

Kini, menjelang 10 tahun usia pernikahan kami, setelah berbagai macam IC kami yang saling memicu, telah terasuh dengan baik, kami pun bisa menjadi pasangan suami istri yang bisa saling memahami satu sama lain. Tidak lagi saling menyakiti karena pertengkaran sepele.

Aku memilih menghentikan pertengkaran karena IC-ku sudah bisa kuat mental. Tidak lagi menangis berderai yang biasanya semakin memicu suamiku. Aku berjuang memutus lingkaran perlukaan IC.

Cukup sampai di aku saja. Sehingga tak perlu berlanjut menjadi pertengkaran hebat. Aku hanya ingin menua dalam persabahatan bersama suami. Aku tidak mau bernasib sama seperti rumah tangga kedua orangtuaku yang selama 40 tahun diwarnai dengan amarah bapakku.

Cukup sampai di aku saja nasib ini. Aku ingin berjuang memperbaiki nasib demi rumah tangga yang harmonis yang bisa aku wariskan kepada kedua anakku, Tyaga dan Jehan.

rumahmediagroup/ribkaimari

Yuk! Belajar Bersama di Kulwap GRATIS

“Mengenali Inner Child Diri Sendiri, Suami dan Anak dari Hal Sepele dalam Aktivitas Sehari-hari”

Mentor : Ribka ImaRi (Penyintas Trauma Inner Child)

Hari: Jumat, 24 Januari 2020

Pukul: 19-22 wib

Silakan klik tautan di bawah ini:

https://chat.whatsapp.com/Da67YMqinap18vEcLRP6zd

0Shares

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. Aamiin yra. 💓💓🌹🌹

Tinggalkan Balasan