Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Dendam Kesumat, Senjataku untuk Bangkit!

Oleh: Ribka ImaRi

Halooo semangat hari Minggu sahabat ImaRi’s😍

Apa kabar perasaan pada hari Minggu ini?

Loh, kok semangat hari Minggu? Loh, kok ditanya kabar perasaan dihari Minggu? Aneh ya? Hehe. Kalau bagiku, ini tidak aneh. Sewaktu memposting ini memang dihari Minggu. Hari dimana aku pernah bahkan seringkali harus terseok-seok berjuang untuk tetap semangat ketika menyambut hari Minggu.

Manakala perasaanku sedang tidak enak, rasanya ingin sekali melanjutkan tidur atau sekadar berleyeh-leyeh sebentar saja, tetapi belum bisa. Karena mau tidak mau, aku harus bangun dari tempat tidur untuk mengurus keluarga kecilku.

Bagi orang kebanyakan, hari Minggu adalah waktu bersantai bersama keluarga. Sementara bagiku penyintas depresi, memang sangat tidak mudah menghadapi low mood dihari Minggu pagi. Sejujurnya, aju juga ingin sesekali bersantai ria tetapi otakku memerintahkan untuk kerja kerja kerja mengurus keluarga. Memang seperti dua kutub yang berlawanan. Selalu ada perang batin.

Namun kini, aku sangat bersyukur, meskipun dalam keadaan pandemi corona, kondisi kejiwaanku sudah sangat stabil kala menyambut hari di setiap pagi. Bahkan sudah tidak ada lagi sensasi depresi seperti dulu lagi. Perasan yang pernah tidak jelas membuatku tidak bersemangat sama sekali. Aku sudah bisa santai. Tidak lagi kemrungsung segera menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Mungkin karena Duo ImaRi sudah besar, sudah bisa disambi mengerjakan pekerjaan dapur.

Tidak seperti hampir enam tahun lalu, aku pernah tertatih dihari Minggu. Rasanya ingin aku tenggelam ke dasar laut terdalam. Agar tidak menghadapi hari yang membuatku pernah sangat terpuruk.

Mari kuceritakan kisahku ….

24 Agustus 2014

Hari itu pernah menjadi hari Minggu terberat dalam hidupku. Walau dalam hati tetap ada rasa syukur dan haru luar biasa karena Allah SWT memampukan aku Melewati masa-masa sulit itu. Sebenarnya, bagiku, hari Minggu sama saja seperti hari lainnya. Meskipun hari libur dan ada suami yang membantu mengasuh dua anak, tetapi untuk urusan pekerjaan domestik tetap aku yang mengurus semuanya sendiri tanpa ada yang membantu.

Karena memang aku tidak mempunyai asisten rumah tangga. Jadi dari mulai memasak, mencuci, menyetrika dan mengurus Tyaga yang masih batita berumur 2 tahun 5 bulan 9 hari, semua kulakukan disela mengurus dan menyusui bayi Jehan yang baru saja berusia lima hari.

Padahal saat itu keadaan tubuhku masih belum mampu untuk berjalan normal apalagi melakukan aktivitas ibu rumah tangga seperti biasanya. Karena lima hari pasca operasi caesar melahirkan bayi Jehan masih menyisakan nyeri hebat di bagian perut. Ketika kakiku melangkah menimbulkan getaran yang menambah nyeri. Rasanya ingin merangkak saja.

Namun semua rasa itu aku tekan sedemikian rupa agar nyerinya tidak menghalangi tekadku untuk berjuang mengerjakan pekerjaan rumah yang benar-benar prioritas dan semampuku. Bukan, bukan aku zalim pada tubuhku. Aku memang sengaja tidak meminta bantuan suami kecuali menjaga Tyaga batita dan bayi Jehan saat aku sedang di dapur.

Hari Minggu itu, aku benar-benar berniat melatih diriku sendiri agar besok pagi, hari Senin, aku sudah siap mental dan fisik saat ditinggal suami untuk kembali bekerja. Setelah cuti bekerja dari hari rabu tanggal 20-24 Agustus 2014 untuk menemaniku melahirkan bayi Jehan secara Sectio Caesarea (operasi caesar). Sebuah proses melahirkan yang sangat dramatis dan traumatis buatku.

“Yah, ini benar kita mau berangkat ke RS? Bunda mau melahirkan ya, Yah? Apa Mas (Tyaga) akan baik-baik saja di rumah Mama Faza (tetangga sebelah rumah), Yah? Kita kapan bakal pulang dari RS, Yah?” tanyaku beruntutan bagai orang linglung. Air mataku tak henti berderai.

Suamiku yang sedang mengemudikan mobil menuju RS, hanya mengangguk perlahan seraya ikut bingung. Rasanya, semua pasangan suami istri pun akan bingung jika menghadapi masalah yang sama dengan kami.

Seolah mimpi buruk ketika tiba di RS. Hermina Depok, Jawa Barat, hanya berdua dengan suami yang menemaniku menjalani serangkaian proses persiapan melahirkan. Tubuhku berada di RS, memeluk perutku dalam senyum yang kuperjuangakan demi bersiap penyambut kelahiran putri keduaku yang telah dijawalkan malam hatinya.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Namun pikiranku melayang ke rumah tetangga sebelah. Tempat aku menitipkan anak lelaki pertamaku, Tyaga. Aku sedih sekali. Karena Tyaga terpaksa dititipkan pada tetangga. Dalam tersenyum aku bersedih meratapi nasibku tidak seberuntung ibu muda lain yang dengan mudah meminta bantuan orangtua.

Seketika aku tersadar bahwa jika meratapi nasib terus menerus membuat tubuhku terasa tidak bersemangat. Ini tidak baik, pikirku. Aku harus bangkit! Berjuang sehat raga untuk melahirkan secara operasi caesar untuk kehamilanku yang unik seperti menyembunyikan bola dalam baju. Seperti itu pula aku harus bangkit untuk sehat jiwa tetap tersenyum demi menyembunyikan luka batin akibat pengabaian dari mama. Tertoreh dalam di lubuk hatiku. Tiada seorang pun tahu bahkan suamiku sendiri.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku benar-benar harus berjuang tetap tersenyum di depan bayi Jehan meski apapun yang terjadi. Walaupun dalam hatiku ingin menangis terus. Dengan berat hati aku harus menerima kenyataan untuk pertama kalinya menitipkan Tyaga pada orang lain. Kendatipun itu tetangga sebelah rumah yang sangat baik hati. Karena aku dan suami tidak mempunyai siapa-siapa yang bisa membantu menjaga dan mengurus Tyaga batita selama empat hari kami menginap di rumah sakit.

Sebuah keputusan yang sangat berat harus kuambil. Setelah dua minggu sebelum aku melahirkan bayi Jehan, mamaku dengan ringan mengatakan melalui sambungan telepon genggam, “Maaf ya, Nok … Mama nggak bisa nemenin kamu lahiran. Lagi banyak setoran di pasar. Kamu ada yang bantuin kan? Tyaga sama siapa nanti?”

Bertepatan dengan berhentinya secara tiba-tiba asisten rumah tangga yang sudah kupesan agar bersedia mengurus Tyaga selama kami di RS. Ujian sepertii bertubi-tubi.

“Iya Ma, nggak apa-apa. Ada yang bantu kok. Bisa titip Tyaga selama Nok lahiran.” jawabku berbohong demi mama tenang.

“Oh, syukurlah kalau begitu.” jawab mama yang benar saja menjadi tenang. Padahal rumahku di Depok dan rumah mama di Kembangan, Jakarta Barat hanya berjarak 35 Km. Namun seakan sangat jauh terhalang oleh kata “setoran pasar.”

Seketika duniaku terasa runtuh ketika menutup sambungan telepon kala itu. Air mataku menganak sungai. Dalam tangis aku bergumam dihati, “Teganya mama mementingkan setoran pasar ketimbang menemani putri pertamanya melahirkan.” Batinku terluka. Aku sedih mendalam akibat luka pengabaian itu.

Rasa kagumku pada mama sebagai sosok wanita tangguh mendadak sirna. Berubah menjadi rasa benci luar biasa. Dendam kesumat yang tidak terkatakan dan tak ada seorangpun memahami hancurnya perasaanku. Akibat memiliki mama yang seperti tak ada empati sama sekali.

Namun, aku bersyukur, Allah terus menjagaku untuk bisa tetap sadar dan tidak melakukan tindakan nekat merusak diri sendiri sebagai bentuk protes atas rasa hancur hatiku. Akan tetapi dendam itu membuatku berjanji pada diri sendiri untuk membuktikan bahwa pasca melahirkan nanti aku tetap mampu mengurus semua sendiri tanpa pertolongan siapa pun. Kecuali berharap pada pertolongan Allah saja.

Aku tidak lagi berharap pada mama yang tega menelantarkan anak perempuannya melahirkan sendirian. Aku juga tidak lagi berharap pada asisten rumah tangga yang tega berhenti menjelang aku melahirkan. Aku pernah dendam pada dua orang itu.

Namun, aku harus bangkit! Demi dua buah hatiku. Aku benar-benar berjanji pada diriku sendiri untuk kuat dan sehat. Dendam kesumat itu kujadikan senjata untuk bangkit. Berubah menjadi energi luar biasa seperti tenaga kuda.

Tanpa sadar membuat tubuhku seketika kuat mengerjakan semuanya sendiri. Bahkan atas pertolongan Allah, aku mampu memandikan bayi perempuanku, Jehan Xaviera Putri Imari, sepulang dari RS Hermina Depok pada hari Sabtu sore, tanggal 23 Agustus 2014.

Padahal jahitan operasiku masih basah karena baru saja lima hari pulang dari rumah sakit. Namun, ajaib! MasyaAllah … dihari Minggu kelabu itu aku sudah bisa memandikan bayi Jehan dengan posisi berlutut seperti yang terlihat pada foto di atas. Dendam kesumat itu justru membuatku merasa sehat dan kuat.

Suster RS. Hermina yang datang berkunjung seminggu pasca aku melahirkan pun ngilu melihat fotoku bersama bayi Jehan. Berulang kali bu Suster bertanya,”Apa nggak sakit, Bu?”

Sakit hatiku berubah menjadi kekuatan. Jadi sakit tubuh tidak kurasakan. Semua kuabaikan demi aku kuat mengurus Tyaga batita dan bayi Jehan. Dua makhluk kecil yang menjadi sumber kekuatan dari Sang Pemberi Hidup untukku kala menjalani hari yang berat.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku, Tyaga batita dan bayi Jehan benar-benar hanya bertiga saja di rumah selama suamiku berangkat bekerja.

Melihat aku yang meringis menahan nyeri, suamiku pun berulang kali bertanya demi meyakinkan dirinya sendiri, “Bisa nggak, Bun ditinggal ayah kerja besok? Bunda harus sendirian urus semuanya.”

Dalam duduk diamku merasakan nyeri hebat di leher belakang, panas menjalar hingga tulang belakang, mungkin efek anastesi yang masih terasa, aku selalu menjawab dengan mantap, “Bismillah bisa, Yah!” Meski dalam hati aku ingin menangis. Aku harus kuat! Aku masih bisa sangat bersyukur Allah memberi suami yang sangat bertanggung jawab pada keluarga kecilnya dari dulu sampai sekarang ini.

Walau aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tetapi aku tetap yakin bahwa Allah SWT pasti menolong dan memberi kekuatan untuk membesarkan kedua amanah dari-Nya. Mendadak rasa nyeri hebat itu hilang dan menguap entah ke mana.

Meski aku sakit. Sakit hati. Meski aku dendam. Dendam kesumat. Aku pernah dendam pada mama yang tega padaku. Apalagi bapak yang tidak pernah hadir saat aku melahirkan. Aku marah. Bahkan aku pernah marah pada Tuhan yang telah memberi hidup terasa tak adil padaku. Nasibku tidak sama seperti ibu muda lainnya, seperti para tetangga yang ditemani bapak ibunya bahkan semenjak beberapa minggu menjelang melahirkan.

Baca juga Tuhan Aku Tak Marah Lagi Pada-Mu

Namun aku tetap bersyukur, Allah masih memberi rasa sadar untuk segara bangkit dari rasa terpuruk tidak berharga. Aku harus bangkit demi membesarkan Duo ImaRi-ku. Hingga kini keduanya membesar dalam keadaan yang bahagia dan sehat jiwanya meskipun terlahir dari ibu yang pernah depresi dulu.

Setelah mengenal Mindfulness Parenting di bulan Agustus 2016, aku belajar cara melepaskan dendam kesumat pada mamaku dan pada siapapun yang pernah hadir dalam hidupku. Agar hidupku terasa ringan.

Baca juga Radical Acceptance Tak Ingin Membawa Luka Batin Sampai Mati

Kelak aku juga akan mengajarkan pada Tyaga dan Jehan cara melepaskan dendam kesumat. Seperti aku akhirnya bisa memaafkan Mbahti mereka.

Baca juga Terapi Writing to Healing Caraku Memaafkan Mama Sampai ke Dasarnya

Kini, rasa dendam kesumat dulu sudah bisa berganti rasa welas asih ke mama. Karena akhirnya aku pun sadar bahwa mama juga mempunyai pengalaman pahit yang sama saat melahirkan adikku dulu, ia pun harus berjuang mengurus semua sendirian. Tak ada mertua dan tak ada orangtua. Keadaan yang sama persis denganku. Lebih kasihan mama karena dalam kondisi keuangan yang serba kekurangan.

Keadaan hidupku yang masih jauh lebih baik menjadi pelajaran berharga untuk memutus rantai luka pengabaian itu. Stop sampai diaku saja dendam kesumat itu. Aku tidak akan membiarkan Jehan mengalami hal yang sama sepertiku saat melahirkan anaknya kelak. Aku akan menemaninya melewati masa sulit diawal kehidupannya menjadi ibu muda. Bismillah, Allah cukupkan usiaku. Aamiin.

Sokaraja, 21 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 20 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Penulis 20 buku Antologi
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan