Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Dari Satu Momen Bisa Kupas Bawang Tiga Lapisan Inner Child Sekaligus

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s
Semoga semua tetap semangat sehat jiwa raga setiap saat meski masih dalam keadaan pandemi corona. Aamiin.

Sahabat, pernahkah merasakan kelebat rasa kesepian padahal sedang berada di keramaian sebuah pasar malam atau mall? Atau saat sedang bahagia berada di undangan pesta, tiba-tiba kelebat rasa sedih mendalam? Atau gembira berkumpul dengan sahabat dan sanak saudara, tetapi tiba-tiba takut mengabaikan anak. Tentu saja aku pernah mengalami itu semua. Ternyata itu ada akar penyebabnya. Mari kuperlihatkan teknik “kupas bawang” satu per satu lapisan inner child-ku ini melalui kejadian tepat dua tahun lalu di tanggal 5 Juni 2018.

***
Untuk bisa mengupas atau menggali akar inner child, dibutuhkan bantuan Mentor atau ahlinya. Bagi yang membutuhkan bimbingan bisa mendaftar Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Batch 6. Kelas ini diundur pelaksanaannya menjadi tanggal 14-21 Juni 2020. Silakan lihat flyer dibawah ini atau menghubungi Mentor Ribka ImaRi dengan wa 085217300183

Melihat foto bukber (buka puasa bersama) dirumahku seperti di bawah ini,

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku jadi punya satu kesempatan untuk mempraktikkan teknik KUPAS BAWANG guna mengetahui secara mendalam inner child-ku (jiwa masa kecil). Teknik ini kupelajari dari Mentorku, Bapak Supri Yatno. Kupas bawang bukan dalam arti harafiah, tetapi mengupas lapisan demi lapisan kejadian sampai menemukan intinya.

Apa yang sebenarnya terjadi saat masa kecilku sehingga pernah membuatku merasa sepi meski sedang berada di tengah keramaian dan juga rasa takut untuk bahagia.

Saat itu, sahur di bulan puasa tahun 2018, aku sedang menangis sejadi-jadinya saat mengamati foto-fotoku bersama keluarga besar BalKur. Dengan menangis, pelan-pelan aku mengenali emosi-emosiku yang terpendam dalam jiwa. Layaknya sedang mengupas bawang, biasanya selalu memicu keluar air mata. Seperti itulah juga teknik kupas bawang.

BalKur adalah sebuah grup ibu-ibu walimurid. Dari merekalah aku melakukan terapi salah satu luka batin semasa kecil. Terimakasih banyak BalKur yg telah mengajariku bahwa bahagia itu sangat sederhana. Sungguh, tak perlu mewah seperti bayangan masa kecilku.

Masa kecil yang ….ah, rasanya jarang sekali aku merasakan bahagia. Sekadar berkumpul dan makan bersama dengan bapakku. Sungguh, belum pernah rasanya melihat bapak duduk makan bersama dalam suasana penuh kehangatan. Itu semua hanya fatamorgana belaka. Bahkan momen makan adalah hal menyeramkan karena biasanya bapak mengamuk saat melihat lauk atau sayur yang dihidangkan mama, tidaklah berkenan menurut ekpektasi bapak. Biasanya bapak menyiram nasinya dengan air putih lalu ditaburi garam sebanyak-banyaknya. Menyaksikan itu semua membuat jantungku selalu berdegup kencang dan sakit.

Bagiku itu semua pernah sulit dan rumit pada masa kecilku. Hidup di bawah garis kemiskinan, aku pernah mendapati inner child-ku sering bermuram durja. Bukan, bukan berarti aku kurang bersyukur dengan kehidupanku yang sekarang. Alhamdulillah boleh dikatakan tercukupi. Sudah seharusnya aku bersyukur dianugerahi suami yang sangat bertanggung jawab dalam urusan finansial.

Namun, karena memang semasa kecil, aku belum pernah mengalami ada acara penuh keramaian di rumah orangtuaku. Hal ini pernah membuatku merasa canggung menghadapi tamu. Aku tetap merasa sepi meski kenyataannya, rumahku sedang ramai. Atau, aku juga pernah tetap merasa sepi saat aku berada di keramaian sebuah mall yang menggelar acara musik. Mungkin itu sebabnya, aku pernah tidak terlalu suka keramaian. Bagiku percuma saja berada di tempat ramai, toh aku selalu teringat kesepian seorang diri. Ketika aku kecil, rasanya tak pernah ada sosok–setidaknya dalam ingatanku–bapak atau mama yang sesekali menemaniku bermain di rumah. Karena keduanya harus mencari nafkah.

Mama yang seharusnya menjadi sosok mengisi kekosongan jiwa masa kecilku, terpaksa ikut mencari nafkah demi kami sekeluarga. Pun karena mama pernah satu kali kabur dari rumah. Yang pada masa dewasa, aku baru memahami dan menerima bahwa wajar mama melakukan itu akibat sudah tidak kuat menerima perlakuan kekerasan psikis dan ekonomi dari bapak.

Lalu hal lain yang membuatku merasa kosong, salah satu contohnya, di rumah masa kecilku, rumah orangtuaku, sama sekali belum pernah ada acara ramai berkumpul untuk sekadar makan-makan seperti yang terlihat pada foto. Apalagi ada lebih dari 20 orang dewasa dan anak yang datang. Seru. Ramai. Bahagia penuh gelak tawa. Seumur hidupku, rasanya belum pernah seperti ini sebelumnya. Benar-benar orang terdekat dan tersayang, aku undang dengan keinginan hati untuk berbahagia bersama.

Dulu, bahkan di hari pernihakanku sendiri, tidak ada acara sama sekali di rumah orangtuaku. Karena mama selalu bilang dari jauh hari sebelum tanggal pernikahanku, “Mama nggak mau repot-repot di rumah”. Deg! Rasanya sedih dan ada nyeri di hati.

Namun, aku berusaha merelakan keadaan saat itu. Akhirnya diputuskan bersama suamiku, harus menumpang menikah di kampung halaman suami di Tambak Banyumas. Ternyata, kejadian tersebut membuatku memendam luka pengabaian. Aku merasa bahwa acara penting dan berarti dalam hidupku menjadi tak penting bagi kedua orangtuaku. Terlebih bapak yang tidak turut hadir dipernikahanku.

Setelah semua terjadi, aku belajar memahami dan memaklumi banyak hal atas perlakuan kedua orangtuaku, ternyata juga berasal dari kejadian hidup masa lalu yang dialami bapak dan mamaku. Mereka juga menikah tanpa wali nikah dari orangtua. Akibat salah satu orangtua mereka sudah meninggal.

Nenekku dari pihak mama sudah meninggal saat mama masih duduk di bangku SMP. Entah bagaimana ceritanya, kakekku tidak menjadi wali nikah ketika mama menikah dengan bapak di tahun 1977. Pun, kakekku dari pihak bapak bahkan sudah meninggal ketika bapak masih dalam kandungan. Lagi-lagi, nenek dari pihak bapak pun tidak hadir dipernikahan bapak dan mamaku.

Sehingga ada banyak hal saat sudah berumah tangga, aku belum pernah belajar dari siapa pun mengenai cara menyiapkan kehidupan rumah tangga. Salah satu contoh menyiapkan semua hidangan untuk tamu. Bahkan dari mamaku sendri, aku belum pernah melihat di depan mataku, mama masak segini banyaknya untuk menyambut tamu yang tidak sedikit. Biasanya paling hanya saudara yang beberapa orang saja. Tak lebih dari belasan orang.

Dari semua sahabatku ini, aku jadi banyak belajar. Aku belajar bahagia yang sederhana. Sekadar makan bersama dalam banyak momen. Bahkan tak ada momen apa pun, salah satu anggota BalKur pernah mengundang untuk makan bersama bahkan sangat sepele seperti sarapan pagi. Sungguh tradisi yang jarang kujumpai selam hidupku. Aku belum pernah menyaksikan mamaku bergaul atau bersaudara seperti ini. Memang karena keadaan ekonomi sulit yang membuat mama belum pernah mengecap kebahagiaan seperti yang aku rasakan saat ini. Sebenarnya kasihan mama. Aku bersyukur bisa mengasuh inner childku yang berkekurangan menjadi bahagia.

Dari kejadian di atas, aku tak menyangka bisa ketemu satu per satu lagi akar inner childku. Aku jadi bisa menangis sepuasnya saat KUPAS BAWANG demi melepaskan satu per satu kesedihan di jiwa masa kecilku. Kemudian MENERIMANYA dengan ACCEPTANCE, “AKU TERIMA MASA LALUKU SATU PER SATU. AKU PERCAYA ALLAH PASTI PUNYA MAKSUD TERBAIK DALAM HIDUPKU. PALING TIDAK, JANGAN SAMPAI AKU MENGULANGI INNER CHILD NEGATIF KEPADA KEDUA ANAKKU, TYAGA JEHAN.”

Ya, Allah … lega rasanya setelah menangis. Aku bisa mendetox (lagi) tubuh dan jiwaku. Setelah bisa menerima kenyataan yang ada, sebagian beban di jiwaku terasa lebih ringan.

Aku menangisi inner child-ku lalu merangkulnya. Aku katakan padanya, “Kamu berhak bahagia. Jangan pernah lagi takut untuk bahagia. Biarkan masa kecilmu yang kelam seperti itu. Cukup sampai di kamu saja merasa tidak bahagia sewaktu kecil. Jangan lanjutkan ke anak-anakmu.”

Adult Self (diri dewasa) ku menjawab, “Ya, aku memang pernah hidup susah. Tapi aku dan anak-anakku berhak bahagia. Mulai saat ini aku ga akan takut bahagia lagi. Cukup aku saja yang pernah merasakan tidak bahagia. Anak-anakku harus bahagia. Bismilah aku harus menciptakan kebahagiaan itu sendiri demi diriku dan anak-anakku punya kenangan indah semasa kecil. Bertumbuh dan berkembang menjadi jiwa yang bahagia sejak masa kecilnya”.

Nyatanya Tyaga Jehan bahagia sekali kumpul bocah. Mulai saat ini aku akan belajar untuk tidak lagi khawatir jika anak-anakku akan terabaikan saat aku sibuk bercengkrama bersama ibu-ibu. Ternyata ini juga salah satu akar masalahku selama ini. Aku pernah sangat takut untuk ikut acara kumpul-kumpul dengan membawa serta kedua anakku.

Itu semua terjadi karena aku punya luka pengabaian dari orangtuaku. Luka yang bagiku mendalam. Membuatku keras pada diri sendiri untuk berusaha jangan sampai aku melakukan pengabaian kepada Tyaga dan Jehan. Pengabaian yang bagi ibu lain hanya hal sepele. Memang terkesan lebay, tapi bagiku, pernah membuatku merasa serba salah dan tertekan. Aku jadi mengabaikan kebahagiaanku berkumpul sesama ibu-ibu.

Akhirnya, aku berjuang menerima satu per satu keadaan di atas. Rasa kesepian di tengah keramaian, takut bahagia, kecemasan pada keadaan anak, rasa bersalah akan mengabaikan anak, semua aku alirkan dengan Body Scan atau yang sekarang aku sebut dengan BSE (Buang Sampah Emosi) bersama kegiatan cuci piring.

Sambil self talk, “Aku akan terus berjuang mengasuh inner childku yang banyak takutnya. Takut ini, takut itu, banyak sekali. Demi inner childku bahagia seterusnya. Agar aku bisa lanjut mengasuh Tyaga Jehan menjadi anak yang bahagia.” Cucian piring pun selesai. Berbarengan kesedihanku yang sudah bisa terkendali sekarang.

Pada dasarnya, semua emosi itu baik adanya jika secukupnya saja. Ada bahagia, gembira, sedih, marah, kecewa, sebal, kesal, terharu, dan lain-lain. Membuat mood jadi tetap seimbang, stabil dan terkendali. Alhamdulilllah.

Sokaraja, 9 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan