Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Tema Ditentukan Tips dan Trik Mengasuh Anak Writing Challenge Rumedia (WCR)

Dampak Negatif Tik Tok Bagi Anak Usia Dini

Oleh: Ribka ImaRi

“Tik Tok-an yuk! Lucu-lucuan! Sini, lihat nih!” seru seorang ibu seraya memanggil anak-anak yang sedang kumpul bocah untuk mendekat. Kalau tidak salah, seingatku momen itu terjadi sekitar dua tahun lebih yang lalu saat kami sedang kumpul bersama sesama wali murid sewaktu Tyaga masih duduk di TK B.

Lalu si anak yang merupakan teman TK-nya Tyaga mulai beraksi berjoget-joget di depan kamera HP ibunya. Sang adik yang masih batita pun mulai menggerakkan wajah ke kiri dan ke kanan seraya memanyunkan bibirnya. Memang terlihat lucu.

Kemudian satu per satu teman-teman Tyaga mulai berkerumun di depan HP si ibu. Dari sekian banyak kanak-kanak, terlihat hanya Tyaga dan Jehan yang berbeda. Sama sekali tidak antusias mendekat pada HP ibu lain.

Terlebih saat melihat kepalaku menggeleng tanda tidak membolehkan sama sekali keduanya melihat gadget jika sedang di luar rumah. Aturan itu baru saja aku tegakkan sekitar beberapa bulan terakhir semenjak Tyaga masuk TK A. Karena dari hasil pengamatanku, jika sedang ada acara kumpulan walimurid, kedua anakku jadi tidak terkontrol terpapar gawai.

Padahal di rumah sendiri aku benar-benar membatasi dengan kesepakatan bersama bahwa boleh menonton gawai hanya pada hari sabtu atau minggu. Sedangkan jika di hari sekolah dan di luar rumah, Tyaga yang kala itu berusia hampir enam tahun dan Jehan yang baru berusia sama sekali 3,5 tahun benar-benar aku kondisikan tanpa gawai.

Dalam hati aku bergumam, “Apaan sih Tik Tok?” Seketika aku tersadar, mungkin hanya aku satu-satunya ibu yang kurang up date alias kudet sehingga tidak tahu apa itu Tik Tok.

Demi menutupi rasa malu, aku hanya diam saja. Sambil berniat bertanya pada satu-satunya sumber informasi valid, yaitu suamiku sendiri. Atau bisa saja aku googling, tetapi upss nanti saja di rumah, pikirku.

Aplikasi TikTok yang kita kenal seperti sekarang awalnya tidak muncul sebagai TikTok. Pada September 2016, perusahaan asal China, ByteDance meluncurkan aplikasi video pendek bernama Douyin. Dalam waktu 1 tahun, Douyin memiliki 100 juta pengguna dan 1 miliar tayangan video setiap hari.

Akibat meroketnya popularitas, Douyin melakukan ekspansi ke luar China dengan nama baru yang lebih eyecatching, yakni TikTok. (https://www.google.co.id/amp/s/m.kumparan.com/amp/berita-hari-ini/ini-asal-muasal-tiktok-yang-kini-mendunia-1ss18QadAEN)

Di Indonesia sendiri, Kemkominfo sebenarnya sempat memblokir Tik Tok pada 8 Juli 2018. Pemblokiran tersebut dilakukan berdasarkan hasil pemantauan tim AIS Kominfo, pelaporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, serta masyarakat luas. Mereka menemukan adanya konten yang mengandung pornografi, asusila, dan hal tidak senonoh. (https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/24/125922665/sempat-memblokir-kini-kemkominfo-punya-akun-resmi-di-tik-tok?page=all#page2)

Kalau secara psikologis efeknya macam-macam, walau tidak sama di setiap anak,” kata psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi kepada detikINET melalui telepon, Rabu (4/7/2018).

Tetapi menurut Ratih bahaya terbesar yang dihadapi anak yang menggunakan Tik Tok adalah grup dan komunitas Tik Tok yang isinya orang asing.

Tik Tok sendiri sebenarnya memiliki batas usia minimal 16 tahun untuk penggunanya. Tapi Ratih menemukan anak berusia delapan tahun yang menggunakan Tik Tok. (https://m.detik.com/inet/cyberlife/d-4098705/dampak-penggunaan-tik-tok-bagi-anak-dan-remaja).

Oleh sebab itu aku menjadi sangat miris ketika teman-teman anak sulungku yang bahkan belum genap berusia enam tahun malah sudah fasih menggunakan Tik Tok yang bahkan aplikasinya belum pernah terpasang di HP-ku.

Tanpa mencari tahu lebih mendalam lagi tentang dampak negatif dari Tik Tok, sebagai ibu dari dua orang anak yang masih dalam masa perkembangan usia keemasan, aku kuatir anak-anakku menjadi candu bergoyang di muka umum. Sudah terlihat nyata olehku bahwa goyangan itu bukan goyangan alamiah anak-anak. Justru terkesan goyang erotis ala orang dewasa yang sebaiknya jangan diperkenalkan dan dipertontonkan di depan anak-anak. Terlebih mengajak seperti mengajarkan anak pada hal yang bukan peruntukan usianya.

Pada dasarnya Tik Tok merupakan aplikasi yang baik, jika digunakan dengan benar. Tik Tok pun memiliki aneka fitur yang dapat memicu kreativitas anak dalam hal audio-visual. Namun, TikTok pun dapat menjadi pedang bermata dua tatkala dalam penggunaannya menyalahi aturan, norma, dan etika yang berlaku di masyarakat.

Serupa dengan situs-situs jejaring sosial lainnya, data pribadi yang terpampang dan kemudahan anak berinteraksi dengan orang asing, dapat menjadi bumerang yang mengundang orang untuk berbuat jahat terhadap anak kita. Misalnya, perundungan online hingga predator seksual yang mengincar anak-anak.

Selain itu, aplikasi yang sedang digandrungi, seperti Tik Tok, tanpa disadari mengubah kehidupan di sekitar kita dan cara anak mengakses hiburan. Aplikasi-aplikasi ini bisa membuat anak ketagihan. (https://www.google.co.id/amp/s/www.popmama.com/amp/big-kid/10-12-years-old/winda-carmelita/amankah-bermain-tiktok-untuk-anak-anak).

Mengetahui dampak negatifnya lebih mengerikan daripada positifnya seperti di atas, aku dan suami memutuskan untuk tidak pernah mengunduh aplikasi Tik Tok pada semua gawai kami. Aku sangat bersyukur ketika suamiku sepakat akan hal ini. Hal ini kami lakukan sebagai salah satu ikhtiar menjaga kedua anak kami yang masih usia dini dari candu sebuah aplikasi.

Bahkan tak ada satu pun game online pada HP-ku. Hanya demi bisa menjadi role model yang tidak jarkoni untuk kedua anakku (bisa berujar tetapi tidak bisa melakoni). Orangtua yang hanya bisa melarang anak tetapi dirinya sendiri malah bermain hingga kecanduan. Tidak! Jangan sampai kami seperti itu.

Namun, setelah suami memberi beberapa masukan, akhirnya kami sepakat untuk tetap mengenalkan aplikasi yang sedang booming kepada Tyaga dan Jehan hanya demi kedua tetap tahu apa yang sedang terjadi di kalangan anak sebayanya di sekitarnya. Baik di lingkungan sekolah atau pun rumah. Sekedar tahu agar tidak pula menjadi pribadi kudet (kurang up date) seperti bundanya semula.

Saat ini setelah berjalan dua tahun, semudah itu aku dan suami membuka konten Tik Tok yang bersliweran di beranda facebook kami berdua. Selepas kami menontonnya untuk memeriksa muatannya terlebih dahulu dan memastikan aman untuk pandangan mata dan stimulus otak anak usia dini, barulah kami tunjukkan kepada Tyaga dan Jehan. Biarlah kedua anakku tetap bisa banyak tahu meski hanya sekedar tahu, tetapi bukan sebagai pelaku yang rawan candu.

Kami menertawakan bersama beberapa video Tik Tok yang memang isinya membuat tergelak. Saking lucunya, kami menonton berulang-ulang.

“Kok anak itu boleh Tik Tok-an, Bun sama orangtuanya? Mas sama Dede nggak boleh?” tanya Tyaga dan Jehan kompak seraya menggerutu.

“Biarin, Nak. Mereka dengan pilihannya masing-masing orangtuanya. Maafkan kalau Ayah dan Bunda belum memperbolehkan Mas dan Dede untuk main Tik Tok atau game online apapun. Itu semua karena saking sayangnya Ayah dan Bunda sama mata dan otak Mas dan Dede.”

Karena jiwa anak belum sepenuhnya paham cara mengendalikan diri dari candu. Terlebih filosofi “tontonan menjadi tuntunan” membuatku benar-benar membatasi tontonan yang bisa di akses kedua anakku. Memang benar pilihan selalu ada di tangan kita masing-masing sebagai orangtua. Jadi untuk sementara, inilah pilihan yang bisa aku dan suami lakukan demi melindungi anak kami yang masih usia dini dari dampak negatifnya Tik Tok.

Sokaraja, Agustus 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 22 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020. Sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan