Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Dalam Keterbatasan Keadaan Pandemi Covid-19, Stop Jadikan Anak Pelampiasan

Oleh: Ribka ImaRi

“Ya Allah, cukupkanlah rezeki semua ibu yang mungkin sedang dalam keterbatasan keuangan. Terutama di saat pandemi Covid-19 seperti ini. Ada ibu banyak yang terkena imbasnya karena keadaan pekerjaan suaminya. Kumohon cukupkan seperti Engkau selalu mencukupkan semua kebutuhanku sedari dulu. Selalu saja ada jalan rezeki dari-Mu.” Selama ini, sebaris doa panjang lebar seperti ini selalu kuucapkan setiap kali aku berbelanja bahan makan sehari-hari. Terutama dalam kondisi seperti sekarang ini, yang memaksa hampir semua rakyat Indonesia untuk stay at home. Tak terkecuali para ibu.

Sebab dulu aku pernah berada di titik depresi dalam keadaan keuangan yang terbatas. Depresi yang memang sudah penyakit bawaan genetik dari orangtua. Ditambah tertekan karena keadaan. Jadi paham betul rasanya tertekan akibat keterbatasan keuangan. Aku rasa, hampir sebagian besar istri dan ibu mengalami tantangan ini dalam rumah tangganya masing-masing. Bersyukurnya, jika bukan penyandang depresi, tidak akan terlalu berat perjuangan pengendalian emosinya.

Padaku, penyandang depresi kombinasi bipolar jadi mudah mood swing. Ternyata ini menjadi salah satu pemicu ledakan kemarahan kepada Tyaga dan Jehan. Padahal keduanya masih kecil-kecil saat itu. Tyaga baru berusia 4,5 tahun dan Jehan berusia 2 tahun. Aku yang semula bisa sangat sabar, bisa tiba-tiba mengamuki anak jika terpicu anak yang berisik, berantem, berebutan, pecicilan, menangis dan masih banyak lagi tingkah anak yang memicuku dulu.

Foto ini menjadi pengingatku saat masa sulit empat tahun lalu.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Bahwa aku pernah berjuang tetap waras ketika hanya ada 5 lembar uang pecahan dua ribu rupiah di dompetku. Terpikir keras olehku, besok mau makan apa. Anakku sudah dua. Ayahnya belum pulang dari LDR-an Purwokerto-Depok. Mau ke ATM pun sudah kosong. Nggak bisa numpang makan sama orangtua karena jauh di Jakarta Barat. Nggak juga bisa minta tolong sama saudara yang jaraknya 25 km di Maos. Sementara minta tolong sahabat yang jarak rumah hanya 2 km, aku sangat malu. Apalagi mau pinjam ke tetangga, rasanya nggak enak hati.

Dalam keterpurukan, aku berdoa dan berusaha tetap positif thinking. Berusaha yakin Allah akan selalu mencukupi meski di detik-detik terakhir. Aku berjuang tetap sabar dan menerima. Yakin pertolongan Allah akan datang tepat waktu.

Ajaib! Nyata benar kuasa dan janji Allah. Ada-ada saja rezeki yang tiba-tiba datang menghampiri. Tiba-tiba ketemu uang di saku celana atau baju, tiba-tiba suami ada rezeki tambahan sebelum gajian, jadi bisa transfer, tiba-tiba ada saudara atau sahabat yang datang ke rumah bawa beras dan beberapa makanan. Semua terjadi saat aku benar-benar berniat tidak mau meminjam uang, tetapi Allah malah memberi lebih dari yang aku sangkakan. Maha Besar Allah.

Sejak aku mengenal ilmu mindfulness parenting di Agustus 2016,, ilmu mengasuh anak dengan kesadaran untuk bersabar. Jadi aku berjuang untuk benar-benar sabar dan bisa mengendalikan ledakan amarah. Atas seizin Allah, aku bisa! Setelah benar-benar berjuang dan bertekad sekuat baja, dengan terus menerus mengucap istighfar, acceptance (menerima) dan afirmasi positif seperti ini,

AKU TERIMA KEADAAN SEDANG KEKURANGAN. MESKIPUN AKU SEDANG STRES DAN TERTEKAN MASALAH KEUANGAN, JANGAN SAMPAI AKU MELAMPIASKAN STRESKU DENGAN MARAH-MARAH KE TYAGA DAN JEHAN. STOP STRESNYA SAMPAI DIAKU SAJA. JANGAN AKU TERUSKAN LAGI KE ANAK-ANAKKU. TYAGA DAN JEHAN ADALAH PEMBERIAN TUHAN YANG TERLALU BERHARGA UNTUK KUJADIKAN TEMPAT PELAMPIASAN AMARAH DAN EMOSIKU.”

Alhamdulillah, semakin bisa mengendalikan emosi, terasa benar Allah semakin melimpahkan rezeki yang luar biasa. Terutama rezeki dicintai oleh anak-anak manis seperti Tyaga dan Jehan yang memeluk dan menciumku setulus hati dan jiwa. Rezeki yang sering terasa tidak tampak dan ternilai. Padahal ada di depan mata. Namun karena dulu pernah tertutuo kabut depresi, jadi sering kali tidak terlihat oleh otak sadarku untuk melihat rezeki yang satu ini.

Sekarang, semakin aku bisa menerima dan berdamai dengan keadaan, ajaib masyaAllah terasa keadaan semakin membaik. Pelan-pelan Allah luaskan satu oer satu, dari yang tadinya serba terbatas. Bahkan ditengah keadaan pandemi seperti ini, aku bisa merasakan kebebasan finansial. Maha Besar Allah. Dalam keadaan perasaanku yang penuh syukur, tak lupa selalu ada doa untuk semua ibu. Agar bisa merasakan kelegaan juga sepertiku. Terutama bisa tetap mengendalikan emosi saat mengasuh anak. Walaupun menghadapi keadaan apa pun yang sedang membuat tertekan.

Contoh lain, keterbatasan waktu membuat ibu terburu-buru mengerjakan ini itu, anak sedang tidak bisa dikondisikan, akhirnya ibu marah-marah. Lagi-lagi anak menjadi tempat pelampiasan ketidakmampuan ibu mengendalikan emosi dan keadaan.

Keterbatasan kesehatan fisik, ibu sedang sakit, tidak enak badan karena kecapekan, ujung-ujungnya melampiaskannya pada anak.

Dan masih banyak keterbatasn keadaan lainnya yang sangat memicu kemarahan orangtua kepada anak. Bukan saja sekadar membentak, melotot bahkan tak jarang sampai mendaratkan cubitan, seperti aku melakukannya terakhir di tahun 2018.

Sungguh, semua itu mempunyai dampak negatif bagi perkembangan psikologis anak. Sampai akhirnya, di awal Febuari 2020, pada sesi konseling, Tyaga dan Jehan dinyatakan sehat jiwanya oleh Psikolog Anak ibu Kurniasih Dwi, P., M.Psi (Psikolog Klinis di RSUD Purbalingga dan RS. Ananda, Purwokerto, Jawa Tengah.

Sokaraja, 6 Mei 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi (16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan