Artikel Curahan Hati Motivasi dan Inspirasi

Cinta Pertama Anak Perempuan

Sumber foto : dokumentasi pribadi

Cinta Pertama Anak Perempuan

Pada sebagian ibu muda, pemandangan seperti di foto mungkin menghadirkan rasa biasa saja. Tapi tidak bagiku. Ibu beranak dua yang saat ini mempunyai anak laki-laki berusia 7,5 tahun dan anak perempuan berumur 5 tahun.

Dalam perjalanan membesarkan kedua anakku hanya berdua suami, tanpa bantuan pihak manapun, kecuali atas pertolongan Allah SWT tentunya. Bagiku, suamiku adalah ayah terhebat yang Allah SWT anugerahkan kepada kedua anakku, terutama bagi gadis kecilku, bunga cantikku, Jehan Xaviera Putri Imari.

Betapa beruntungnya kau, Nak. Sebab sedari lahir, Jehan sudah digendong dan diurus ayahnya.

Jadi, melihat foto ini menghadirkan sejuta rasa syukur di hatiku. Aku bersyukur anak perempuanku bisa merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, pada ayahnya.

Pada cinta pertamanya, Jehan sering berucap, “Ayah … De sayaaaang banget sama ayah.” Ditutup keduanya saling berpelukan mesra sekali.

Seharusnya hidupku terasa indah ketika melihat pemandangan menyejukkan jiwa ini. Karena dulu aku pernah sangat takut jika anak-anakku tak memiliki ayah yang baik menurut impianku.

Semua ada akar penyebab dari ketakutan-ketakutanku. Ya, semasa kecil, aku tak pernah merasa dekat dengan bapakku, yang seharusnya menjadi cinta pertamaku sebagai anak perempuan pada umumnya.

Karenanya, aku merasa jiwaku pernah terluka. Aku yang tak pernah menyicip cinta pertama itu, mencari dan terus mencari.

Namun tak jua kutemui rasa cinta pertama itu. Karena memang aku sangat sedikit menyimpan kenangan indah tentang sosok bapakku.

Akan tetapi yang ada hanya kenangan tentang rasa kebencianku pada bapak. Akibat luka pengabaian yang mendalam. Menyebabkan aku pernah selalu ingin cepat keluar dari rumah. Aku ingin pergi jauh dari bapakku.

Luka kebencian itu teramat dalam. Hingga akhirnya aku nekad menikah dengan laki-laki berbeda agama sebagai bentuk protesku pada bapak. Tetapi memang ini sudah jalan hidup dari-Nya, menjadikanku mualaf. Hanya karena Allah SWT saja, pada akhir membuatku sangat menyukuri perjalanan hidupku ini. Karena Allah SWT punya maksud indah yang tersembunyi.

Sampai akhirnya aku bisa merasa beruntung bisa belajar SELF COMPASSION dari mentorku di kelas online Mindfulness Parenting di bulan Agustus 2016.

Dari situlah, aku belajar mencintai dan menerima diriku apa adanya, yang pastinya banyak kekurangan sebagai ibu dan orangtua dari kedua anakku. Membuatku menjadi tahu bahwa pasti bapakku telah berusaha menjadi bapak yang baik. Hanya saja keterbatasan pengetahuan beliau akan ilmu parenting membuat beliau tak mampu mengungkapkan perasaannya sebagai bapak yang menghadirkan perasaan cinta pertama pada diriku semasa kecil.

Memang benar, aku tidak pernah merasakan cinta pertama pada bapakku. Tapi aku tidak mau selamanya terpuruk dan menuntut. Tetapi sebaliknya, aku belajar menerima keadaan masa kecilku. Aku jadi belajar membedakan situasi bahwa keadaan masa kecil Jehan tidak lah sama denganku.

Membuatku akhirnya memilih untuk tidak berlarut-larut memupuk rasa benci pada bapakku. Masa kecilku kujadikan pembelajaran. Alhamdulillah aku sudah bisa memaafkan beliau sampai seakar-akarnya.

Sekarang berganti rasa syukur luar biasa. Bahwa jehan, adalah anak gadisku yang paling beruntung. Sebab memiliki ayah yang luar biasa mau terlibat dalam pengasuhan bahkan memberi perhatian sampai hal rinci. Sekadar rajin memakaikan hand and body lotion pada Jehan.

Bersyukurlah Nak, kau bisa mengecap indahnya cinta pertama. Sehingga tak perlu merasakan hal pahit yang pernah bunda rasakan semasa kecil dulu. Cukup sampai di bunda saja.

Berdasarkan informasi yang kudapat dari ilmu parenting bahwa “cinta pertama anak perempuan pada sosok ayah bisa menumbuhkan rasa percaya diri yang besar hingga dewasa kelak”.

Anak yang memiliki percaya diri bermula dari pengasuhan yang lengkap. Bukan hanya Ibu yang terlibat, namun juga Ayah di tengah kesibukannya dalam mencari nafkah. (https://ayahuntuksemua.wordpress.com/2013/09/02/ayah-membangun-dan-membentuk-rasa-percaya-diri-anak/).

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 9 September 2019
Menulis adalah caraku merasakan banyak nikmat syukur dari Allah SWT.

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan