Latihan Menulis Komunitas Parenting

Cerdas Tak Sebatas di Atas Kertas

Cerdas Tak Sebatas di Atas Kertas

Oleh : Ribka ImaRi

“Bunda … Mas mau cerita. Tadi Mas ada masalah sampai enggak bisa ikut ekskul menggambar,” ucap Tyaga lirih ketika kami baru saja berjumpa, saat aku sedang menjemputnya sepulang sekolah.

Tyaga, meski anak laki-laki, tapi aku mengajarinya untuk terbiasa mencurahkan isi hatinya. Agar sampai dewasa kelak, ia terbiasa terbuka tentang semua kejadian dan apa yang dirasakan serta dialaminya.

“Iya kenapa, Sayang?” tanyaku sambil mendekatkan wajah dan telingaku ke arah Tyaga sebagai rasa antusias saat mendengar setiap cerita anak lelakiku ini.

Seketika Tyaga bercerita panjang lebar sambil aku memakaikan masker penutup hidung dan mulut, “Tadi Mas tidak sempat ikut ekskul, Bun. Kan, dibagikan kartu untuk ujian. Tapi punya Mas enggak ada. Mas cari-cari juga enggak ketemu-ketemu. Waktu belum ketemu juga Mas tetap cari terus sampai bisa ketemuⁿ. Waktu selesai mencari, ternyata ekskul menggambar sudah selesai. Nanti Mas cerita lagi di atas motor ya, Bun.”

“Oke!” seruku bersamaan dengan bunyi starter motor. Lalu melaju si matic menuju rumah.

Sepanjang perjalanan di atas motor, Tyaga melanjutkan ceritanya, “Mas cari-cari kartunya, di loker dan dilaci. Tapi belum juga ketemu. Akhirnya Mas pinjam kartu Andra. Mas catat di kertas saja Bun itu jadwal ujian buat Hari Senin. Biar bisa buat jadwal belajar. Tadi Mas stres, Bun. Apalagi waktu ada teman kelas lain datang, malah berantakin kelas Mas.”

Seperti itulah Tyaga kalau sudah bercerita. Ceritanya runut, rinci dan disampaikan dengan intonasi yang lembut dan lambat. Jadi sangat jelas duduk masalahnya.

Aku pun membiasakan diri mendengarkan terlebih dulu sampai tuntas.

“Alhamdulillah … anak Bunda cerdas deh! Bisa punya pikiran seperti itu. Mencatat jadwal demi bisa tahu jadwal di Hari Senin,” ujarku panjang lebar juga menimpali cerita Tyaga yang penuh semangat.

Singkat cerita, aku jadi tahu bentuk kertas yang Tyaga maksud. Memang benar Tyaga mencatat jadwal ujian. Seperti yang terlihat pada foto.

Malam hari tadi saat ia sedang membereskan buku-buku untuk jadwal pelajaran besok, ditunjukkannya kertas jadwal pakai tulisan tangan.

“Setelah Mas tulis di kertas, eh ada kartunya dibawah laci meja!” seru Tyaga agak sedikit kecewa.

“Tidak apa-apa, Nak … ini buat kenang-kenangan. Yang penting Mas sudah usaha. Bunda bangga, Nak. Mas cerdas gitu pikirannya. Bukan sebatas kertas saja. Tapi kesadaran dan tanggung jawab Mas pada kebutuhan dan kepentingan diri sendiri.” ujarku panjang lebar pada Tyaga sambil sounding tentang beberapa hal.

Diantaranya bahwa cerdas bukan sebatas nilai di atas kertas mendapat nilai-nilai ujian secara gemilang. Namun bagaimana bisa cerdas emosi. Tyaga tidak pantang menyerah, inisiatif dan berusaha mencari jalan keluar untuk diri sendiri di usia dininya.

Ya, ia baru saja kelas 2 SD. Tapi aku sudah bisa merasa lega. Karena Tyaga telah mempunyai kesadaran dan pemikiran yang dewasa demi keperluan dan kepentingan dirinya sendiri.

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan