Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Tips dan Trik Mengasuh Anak

8 Cara Menumbuhkan Minat Makan Buah dan Sayur pada Anak Sejak Dini

Oleh : Ribka ImaRi

“Pinter ya … doyan makan buah … itu ada jajanan, tetap pilih melon. Pinter ih!” puji seorang ibu muda saat melihat Tyaga atau Jehan sedang memakan bekalnya dengan lahap.

“Iya, alhamdulillah nih, Tante. Pilih melon daripada jajanan apalagi ada MSG-nya. Sudah tahu itu ngggak baik buat tubuh. Lebih baik pilih buah. Sehat buat tubuh.” jawabku panjang lebar menjelaskan. Karena melihat ibu muda itu melongo takjub melihat Jehan yang kala itu baru akan berumur 5 tahun.

“Anakku nggak doyan buah. Apalagi sayuran,” katanya lagi.

Selama ini, ke mana pun aku dan kedua anakku pergi, hampir selalu memilih membawa bekal buah atau roti oles selai atau isi mesis ketimbang jajanan instan seperti yang terlihat di depan Jehan. Memang disediakan oleh bengkel tempat kami sedang menyervis sepeda motor.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

“Gimana ya Mbak supaya anak doyan makan buah dan sayuran?” tanyanya kemudian. Sambil terus memperhatikan Tyaga atau Jehan yang hampir menandaskan bekal buahnya hanya dalam waktu sekejap saja.

Memang ada banyak orangtua yang mengeluhkan anaknya susah makan terutama makan buah dan sayur.

Ujung-ujungnya menyerah dengan menyatakan pembenaran, “Dulu waktu kecil ayah bundanya juga nggak doyan makan sayur.

Melihat gurat sedih di wajah ibu muda itu, dengan antusias aku berbagi pengalamanku. Sekarang ini memang sudah bisa kusyukuri sekali bahwa hari-hariku yang penuh perjuangan dalam mengiring tahapan belajar makan Tyaga dan Jehan, akhirnya terlewati dengan baik. Setidaknya sampai keduanya melewati masa balitanya di usia 5 tahun.

Karena sedari awal hamil aku menyadari bahwa aku adalah ibu yang kurang suka makan sayur dan buah sedari kecil. Namun hal ini disebabkan karena keterbatasan kehidupan semasa kecilku yang dibawah garis kemiskinan. Jadi aku tak mengenal banyak variasi buah dan sayur. Sehingga saat dewasa aku jadi pilih-pilih makanan. Oleh karena hal itulah, aku menjadi semakin sadar untuk belajar berjuang mendidik kedua anakku untuk mengenal buah dan sayur sejak dalam kandungan.

Langkah-langkah yang kutempuh sejak awal hamil di tahun 2011 adalah sebagai berikut:

1. Mengenalkan buah dan sayur sejak dalam kandungan

Aku berjuang makan buah dan sayur jenis apa pun dengan melawan ketidaksukaanku terhadap suatu jenis sayur atau buah tertentu yang memang belum pernah kumakan sama sekali. Langkah ini benar-benar kumulai saat aku hamil anak pertama di bulan Agustus 2011. Buah durian dan tomat disayur, misalnya. Aku coba icip demi janinku mengenal semua jenis buah dan sayur sejak dalam kandungan. Meski dalam prosesnya hampir selalu ada insiden muntah. Bahkan sekadar makan buah apel bisa membuatku muntah sampai lelah saking menohok ulu hati. Karena sebenarnya aku sama sekali tidak suka. Jadi sulit menerima keadaan makan buah atau sayur. Belum apa-apa sudah takut muntah duluan.

Namun aku terus berjuang memakannya, sambil ke janin. Mengajaknya berjuang untuk tidak kontraksi muntah dengan mengobrol santai menyebutkan nama-nama buah atau sayur yang sedang kumakan. “Sayang, Bunda lagi makan buah apel loh. Meski Bunda nggak suka, tetapi Bunda tetap berjuang makan ini. Demi Dede sehat dan bisa suka buah sampai lahir dan besar nanti. Kita sama-sama berjuang demi kebaikan kita ya, Sayang.” Setelah mengalami tahapan muntah, aku berjuang afirmasi terus agar kembali nyaman.

2. Rajin mengajak mengobrol bayi tentang isi ASI

“Kita ngASI yuk Dek! Baca doa dulu ya. Tadi Bunda makan buah pepaya sama sayur bening bayam, jagung, kacang panjang, labu siam, tomat. Sehat semua Dek. Yuk cobain ya. Pasti enak.”

Saat memberi ASI, aku rajin mengajak mengobrol bayiku tentang apa saja terlebih menyebutkan nama-nama dan manfaat dari buah dan sayur yang aku makan selama seharian.

Sounding secara terus-menerus tanpa berpikir, “Memangnya bayi bisa mengerti?” tapi aku menanamkan rasa yakin pada diriku sendiri lebih dulu, “Bismillah … kelak pada waktu-Nya Tyaga atau Jehan akan mengerti semua yang Bunda sounding.

Sumbet foto: dokumentasi pribadi

3. Ajak bayi ikut serta saat menyiapkan bahan makanan

Memang terlihat berlebihan saat mengajak bayi menyiapkan MPASI-nya. Mulai dari berbelanja ke abang sayur, menyiangi sayuran dan bahan MPASI lainnya, aku selalu mengajak bayiku mengobrol tentang menu MPASI. Terlebih pada malam hari, aku menyebutkan (sounding) menu yang akan kumasak dan kusuapi untuk Tyaga atau Jeyan.

Inilah yang aku lakukan selama hampir 8 tahun lalu. Ketika memulai MPASI di bulan September 2012. Sampai Tyaga beranjak membesar sudah bisa membantu menyiapkan bahan masakan untuk dirinya (baca:bantu mengacak-acak. Hehe).

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sampai Tyaga besar usia 8 tahun, ia tetap mendekat membantu bunda menyiangi sayuran.

Sumber foto: dokumentasi pribadi.

4. Rajin membacakan buku tentang manfaat buah dan sayur

Lalu tanpa kenal lelah aku rajin membacakan buku tentang manfaat buah dan sayur. Sejak Tyaga atau Jehan masih bayi masih ASI. Lantas saat batita (bayi usia 3 tahun) dan kemudian sampai keduanya usia balita (bayi usia lima tahun).

Lalu memasuki fase batita dan balita yang ada kalanya susah makan yang pernah membuat stres bahkan sampai depresi, bundanya tetap melakukan sounding menarik dan antusias untuk menerima semua jenis makanan yang bunda sediakan dirumah.

Sejak Tyaga Jehan bayi sampai keduanya membesar, aku hampir selalu membacakan buku menu makanan sehat untuk merangsang minat makan buah dan sayur.

5. Rajin memberitahu dan menjelaskan menu makanan untuk esok hari

Poin ini yang masih terus aku lakukan sejak hamil hingga semalam, aku tetap menyampaikan kepada Tyaga Jehan, “Sayang besok Bunda mau masak sayur bening labu siam, wortel, jagung dan tomat. Sama goreng tempe. Dimakan ya … semua sehat. Labu siam bagus untuk otak karena mengandung asam folat. Wortel bagus untuk anak karena mengandung vitamin A untuk mata. Jagung itu karbohidrat, baik untuk energi anak-anak. Tempe itu protein nabati untuk tulang Mas dan Dede. Jadi sehat dan kuat kan kalau makan masakan Bunda .”

6. Rajin membuat bentuk hidangan yang menarik

Meski kadang masih menolak satu jenis sayur atau buah, bunda berusaha menyediakannya dalam bentuk yang lucu dan menarik. Wortel dibuat bentuk bunga, misalnya. Buah alpukat dibuat puding. Buah jambu dibuat puding lucu seperti di bawah ini.

Jadi saat Tyaga atau Jehan yang tidak menyukai satu atau beberapa jenis buah atau sayur, tetap mau menikmatinya setelah disediakan dalam bentuk olahan. Lalu dihidangkan dalam wadah yang juga menarik.

Sehingga menggugah selera makan. Tak lupa berdoa dan yakin terus dalam hati, bismillah kedua anakku akan menerima dan lahap memakan menu yang aku sediakan.

Bunda memberitahu, “Dengan menerima apa pun yang Bunda sediakan, memakannya dengan penuh rasa senang adalah wujud terima kasih ke Ayah yang sudah mencari nafkah untuk kita sekeluarga. Juga rasa terima kasih ke Bunda yang sudah menyiapkan dan menghidangkan semua dengan dibantu Mas dan Dede tentunya. Terlebih rasa syukur Tyaga atau Jehan kepada Allah SWT. Karena Allah SWT lah yang memberi rezeki makanan lewat ayah dan bunda (orangtua).

7. Berusaha membawakan bekal sekolah dengan selalu berisi menu buah dan sayur

Sejak Tyaga masuk TK A di tahun ajaran 2016, aku selalu membawakan bekal buah. Memang ia menjadi berbeda dengan lingkungannya yang masih membawa jajanan instan, tetapi aku terus menerus memberi tahu bahwa bekal yang bunda bawakan itu semua demi kesehatan Tyaga dan Jehan. Proses yang luar biasa menguras tenaga dan emosi, tetapi aku terus berjuang demi tujuan anakku tetap suka buah dan sayur sampai besar.

Sampai sekarang Tyaga sudah kelas 2 dan Jehan masih TK A, alhamdulillah sudah bisa bertanggung jawab menghabiskan bekalnya berisi buah dan sayur seperti ini.

8. Berjuang SKST (Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten)

Sebenarnya sangat tak mudah. Segala suka, duka, stres, bahkan depresi karena terpicu trauma masa kecil yang selalu kekurangan makan. Bahkan aku serinh harus makan nasi hanya dengan lauk garam atau terasi. Dulu aku sering terpicu saat kedua anakku sedang susah makan.

Namun kendala pemicu itu semua aku hadapi demi kedua anakku bisa melewati tahapan proses makan yang baik.

Tak ada kata menyerah dalam mengenalkan semua jenis buah dan sayur. Meski pernah ditolak dengan gerakan tutup mulut atau dimuntahkan kembali, aku tetap lanjut dan terus mencoba memberikan bermacam jenis buah dan sayur. Dari mulai bentuk, rasa dan warna. Semua usaha kulakukan untuk membuat makanan homemade–seperti screen shoot album foto Hidangan Sehat Tyaga di bawah ini–hanya demi kedua anakku terbiasa makan masakan rumahan yang sehat alami.

Alhamdulillah nyata betul bahwa proses panjang selama 8 tahun lamanya, akhirnya usaha tak pernah berkhianat pada hasil. Dengan Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten (SKST) telah membuahkan hasil terbaik dari Allah SWT.

Sekarang aku jadi bisa berbagi 8 cara ini kepada banyak orangtua ketika Tyaga berusia 8,3 tahun dan Jehan usia 5,9 tahun sudah dengan mudahnya suka semua jenis makanan yang terhidang tanpa pilih-pilih. Tanpa drama sembunyi-sembunyi (menyembunyikan) sayuran di dalam tumpukan mi atau dadar telur.

Meski hanya tersedia lauk telur rebus saja. Bahkan buah naga merah yang bundanya tidak suka, Tyaga lahap saja saat makannya. Lalu makan jenis sayuran yang tak lazim dimakan anak, misalnya kacang kapri, oyong, pokcoy, terong, dan lain-lain.

Sebab Tyaga sudah paham makanan apa yang pantas untuk tubuhnya. Ataupun makanan yang benar-benar tidak boleh dimakan karena berbahaya untuk tubuhnya yang masih dalam masa pertumbuhan. Sebab sudah menancap sounding tentang manfaat makanan.

Walaupun pada Jehan terkadang masih ada penolakan, terus berusaha SKST. Sampai nanti Jehan pun bisa lulus fase makan dengan baik, seperti masnya.

Salam SKST (Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten).

Sokaraja, 10 Juni 2020
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

2 Komentar

  1. firafaradillah says:

    selalu menginspirasi

  2. Ribka ImaRi says:

    Terima kasih kakak😘😘

Tinggalkan Balasan