Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Writing Challenge Rumedia (WCR)

Inner Child Itu Nyata

Oleh: Ribka ImaRi (Mentor Kelas Mengasuh Inner Child)

Ketika menuliskan kisah perjuanganku yang telah lalu ini, aku bersyukur karena Allah telah memberi anugerah kesembuhan padaku sebagai penyandang depresi dan bipolar. Pun sudah memaafkan kedua orangtua sebagai sumber penyebab inner child-ku.

Kini sudah mempunyai emosi yang sangat stabil sejak terakhir aku mengamuki Tyaga di bulan September 2018. Kedua anakku pun telah dinyatakan sehat oleh Psikolog Anak ibu Kurniasih Dwi, P., M.Psi di RS. Ananda, Purwokerto.

Semua kisah yang kutuliskan tentang Inner Child ini akan aku kumpulkan menjadi buku solo “Aku dan semua Inner Child-ku.” Doakan bisa segera terealisasi dan bermanfaat buat banyak ibu yang masih belum sadar terbelenggu inner child-nya. Padahal itu menghalangi proses pengasuhan anak yang normal, sehat jiwa dan raga.

========

Juli 2016

“Mati aja kamu sekalian! Pergi sana keluar rumah! Anak diurusin pada gak tahu diri!” Panjang lebar aku merepet kasar. Entah setan apa yang merasukiku.

Sedetik aku tersadar … kok, suaraku mirip sumpah serapah bapak dan mama saat memarahiku dulu?

Ya, baru saja aku sangat tega menghardik Tyaga, putra sulungku yang baru berusia 4 tahun 3 bulan. Hanya karena ia menangis kesal akibat salah pilih ukuran dan karakter sandal yang diinginkannya.

Sebenarnya aku juga salah. Karena setengah memaksa Tyaga memilih sandal yang aku sarankan. Namun, aku seperti kesetanan melempar sandal baru Tyaga ke dalam tabung mesin cuci. Hampir saja aku mencabik-cabiknya sekuat tenaga menjadi serpihan.

Deg!

Lagi-lagi teringat olehku. Kelakuanku ini mirip bapakku yang pernah menggunting-gunting dompet pemberianku. Dompet yang aku beli dengan cara menyisihkan uang gajian di tahun 2008. Kala itu berubah bentuk menjadi serpihan kulit akibat bapak marah padaku lalu melampiaskannya pada barang pemberianku.

Sedetik aku tersadar bahwa perlakuan dari bapak kala itu sangat menyakitkan batinku. Setelah teringat peristiwa bapakku mengamuk dan merusak dompet itu, mendadak aku tersadar untuk tidak melanjutkan amukanku kepada Tyaga kala itu. Karena pasti akan menyakiti batin Tyaga.

Akan tetapi, Tyaga masih tetap menangis. Aku benci melihat raut mukanya yang menangis. Ia sama persis denganku ketika menangis sangat lah sedih. Telingaku pekak saat mendengar tangis Tyaga yang sesegukan.

Dulu, aku merasa betapa anehnya aku sebagai ibu. Entah kenapa aku benar-benar tidak tahan mendengar dan melihat Tyaga menangis. Apalagi melihatnya menangis lama di kamar mandi membuatku semakin kalap.

Ya, Tuhan … kelebat itu datang. Aku benci kenangan masa remajaku yang sangat sering menangis di kamar mandi. Karena saking sedihnya atas semua perlakuan bapak yang membuat hatiku sangat terluka dan hancur saat itu.

Aku menyembunyikan tangisku yang tertahan dengan cara menangis sambil mandi. Supaya tidak terdengar oleh orang lain. Pun, bersama air di ember yang kusiramkan ke wajahku dapat meluruhkan air mata yang meleleh di pipi. Aku sedih. Sedih sekali. Sampai sekarang, aku tak bisa melukiskan sedihku kala itu. Karena saking sedihnya.

Setelah menjadi ibu, aku bertekad tidak ingin mengulangi hal yang sama dengan kebengisan bapakku. Namun, apalah dayaku. Pikiran bawah sadarku telanjur merekam yang buruk. Hingga membuatku sangat sulit mengendalikan amukan saat Tyaga menangis. Aku memperlakukan Tyaga, sangat mirip dengan aku diperlakukan bapakku. Ini inner child-ku. Masa kecilku yang kelam dulu membuncah tak terkendali di depan Tyaga.

Dengan sisa kesadaran yang ada, aku menghentikan amukanku. Aku takut kebablasan dan membahayakan Tyaga.

Batinku bertekad merasa harus mencari bantuan ahlinya untuk mengajariku cara mengendalikan emosi di depan anak. Atas petunjuk Alah, saat itu ada postingan dari FB bapak Supri Yatno. Beliau membuka pelatihan online kelas mindfulness parenting di bulan Agustus 2016. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendaftar.

Sepanjang tahun 2016-2018 adalah tahun-tahun terberatku menjadi ibu. Sebab semua rekaman masa kecilku (inner child) bermunculan semua bagai rekaman film yang diputar ulang.

Melalui mindfulness parenting, ilmu mengasuh dengan kesadaran jiwa yang sehat, aku belajar menyembuhkan satu per satu luka batinku yang terpendam sedari aku kecil bahkan sejak janin dalam kandungan.

Semakin aku berjuang sembuh, semakin datang kelebat-kelebat nyata rekaman masa kecil itu. Berbarengan dengan momen aku mengasuh anak.

Berat … sungguh berat. Perih. Padahal aku sangat ingin menghindarinya. Namun tidak bisa. Karena yang aku hadapi adalah kedua darah dagingku sendiri.

Setiap kali mengasuh kedua anakku Tyaga (4,5 tahun) dan Jehan (2 tahun) kala itu, aku selalu saja meledak-ledak. Kadang meledak marah. Kadang meledak sedih. Terutama saat menghadapi tangis kedua anakku. Kadang meledak dendam kesumat.

Namun, atas pertolongan Tuhan, akhirnya aku bisa mengendikan amukanku di bulan September 2018. Sejak saat itu, sudah tidak ada lagi amukan berarti. Sudah tidak ada lagi tanganku menyakiti tubuh mungil Tyaga. Sudah tak ada lagi caci maki menyayat hati.

Atas kemurahan Tuhan juga, akhirnya aku bisa mengasuh kelas parenting online di akhir tahun 2018. Ternyata ada banyak ibu yang saat ini yang juga mengalami hal yang sama sepertiku dulu.

Oleh karena itu, aku akan terus berbagi kisahku saat bangkit menyembuhkan luka batin inner child yang memicu ledakan kemarahan hanya karena hal sepele. Salah satunya ketika anak menangis.

Ketika aku mengasuh grup whatsapp Keluarga Bahagia, banyak kutemui kasus yang mirip dengan inner child-ku dulu.

Seperti contoh di bawah ini,

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku semakin menemukan kenyataan bahwa inner child itu benar-benar nyata. Sebaiknya diasuh agar jiwa masa kecil dalam diri orangtua bisa mendewasa. Sehingga siap menjadi orangtua yang matang jiwanya untuk anak-anaknya. Agar bisa mengasuh jiwa anaknya yang juga siap mendewasa sesuai tahapan perkembangan jiwa anak.

Sokaraja, 6 Mei 2019
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

IKUTI KULWAP GRATIS

KOLABORASI DENGAN PSIKOLOG ANAK

Klik link di bawah ini:

https://chat.whatsapp.com/IIXSzldjGvwH0lvOjFDHSr

0Shares

Anda mungkin juga suka...

2 Komentar

  1. Terimakasih share ilmunya, mbaa…
    artikel bagus sekali ini mb Imari, ibu merasa terlambat akan pengetahuan seperti ini, but better late than never kan, akan ibu save, juga share ke anak-anak ibu biar manfaat kelak mereka mendidik anak-anak nya harus seperti yg semestinya, tidak temperamental seperti ibunya.

  2. Ribka ImaRi says:

    Assalamualaikum Ibu…maaf kan baru balas. Baru ngeh ada komen. Terima kasih dibilang bagus. Bismillah bisa bermanfaat untuk Ibu Isna dan anak-anak ibu dan juga banyak orangtua lainnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan