Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Bukan Pasangan Sempurna Tanpa Konflik

Bukan Pasangan Sempurna Tanpa Konflik

Oleh: Ribka ImaRi

Apa yang terlintas dipikiran kita saat membuka akun media sosial, seketika melihat unggahan teman berisi foto berdua pasangannya? Foto dengan wajah bahagia dan latar belakang pemandangan yang indah. Seakan menyiratkan pesan sebuah pembuktian bahwa, “Aku bahagia bersamamu.”

Eaaaaaaa….

Sementara, apa yang terjadi padaku? Jujur, dulu aku iri. Aku pun ingin menguggah fotoku bersama suami.

Akan tetapi, jujur pula bahwa ketika aku menggunggah fotoku bersama suami, disaat yang bersamaan aku pun menyangkali keadaan diriku sendiri. Mengapa bisa terjadi demikian?

Ya, ternyata begitulah keadaan perasaan seorang penyintas bipolar sepertiku. Aku yang tak pernah lupa untuk berjuang bahagia seperti tagline yang berseliweran di media sosial, “jangan lupa bahagia.” Ternyata menyangkali keadaan diriku, “apakah aku sudah benar-benar berbahagia bersama suamiku?”

Satu sisi, aku sangat berbahagia menjadi istrinya. Ia adalah suami yang sangat baik, bertanggung jawab dan sangat peduli pada istri serta anaknya. Namun disisi lain, aku bahkan pernah membencinya sampai ingin bercerai dan lebih ekstrimnya lagi, aah tak tega aku menuliskannya di sini.

Jadi, meskipun banyak komentar positif tertulis mengomentari fotoku bersama suami, aku seperti menolak kenyataan yang ada. Aku bahkan muak dengan pencitraan di media sosial bahwa aku dan suamiku adalah pasangan yang selalu berbahagia. Karena pada kenyataannya, keadaan kami naik turun bahkan tertatih meniti kebahagiaan dalam berumah tangga.

Aku bertanya ke sana ke mari tentang bagaimana cara bisa berbahagia yang hakiki dalam hubungan suami istri? Jawaban yang apliakitf tak jua kutemui. Melainkan pernyataan retorika belaka “memang seperti itulah suami kita. Terima aja apa adanya. Mau gimana juga itu suami kita. Dia itu pakaian kita. Ibarat pakaian, saling membutuhkan pakaian satu sama lain. ”

Demi mendengar nasihat panjang lebar, aku justru semakin terpuruk. Aku merasa diriku ini bukan pakaian yang pantas buat suamiku. Alih-alih berjuang jadi istri yang baik, justru membuatku merasa semakin memburuk.

Ini aib! Ketika berkeluh kesah menceritakan keadaan rumah tanggaku. Sebab pertengkaran demi pertengkaran tak bisa dihindari bahkan karena hal yang benar-benar sangat sepele dan tak perlu diributkan.

Konflik batin setiap hari merajai. Ada apa ini? Aku harus bagaimana?

Aku lelah. Aku sangat ingin suamiku berubah jadi baik menurut keinginanku. Namun apa aku dapatkan? Semakin aku menuntut suamiku berubah, konflik dalam rumah tangga kami semakin menjadi-jadi.

Terutama konflik batin dalam diriku sendiri. Sakit hati rasanya atas perlakuan suami setiap harinya. Padahal, saat aku membuat daftar kebaikan suami, itu 90% baiknya. Namun, entah mengapa masih sangat sulit menerima 10% kekurangan suamiku.

Hingga Juni 2016, Tuhan izinkan aku belajar mindfulness parenting melalui kelas online oleh mentor Bapak Supri Yatno. Beliau benar-benar mengubah hidupku dan kehidupan rumah tanggaku. Beliau memberi banyak pelajaran yang mengubah cara pandangku terhadap suami.

Bahwa menerima 10% kekurangan suamiku yang kelihatan sifat dan sikapnya mirip bapakku yang pernah paling aku benci. Ternyata konflik ini sangat erat kaitannya dengan inner child (IC).

Mindfulness parenting adalah sebuah ilmu tentang kesadaran. Sadar diri untuk berada disini dan sekarang. Ini suamiku, bukan bapakku. Bukan hanya ilmu untuk mengasuh anak. Akan tetapi juga bisa digunakan mengasuh suami atau istri. Asalkan, kita para istri atau suami, lebih dahulu sadar untuk melakukan perubahan.

Aku pun tersadar untuk mengubah diri sendiri lebih dulu tanpa berharap suami bisa berubah sesuai keinginanku. Kemudian aku belajar menyadari bahwa justru konflik ini terjadi tak luput karena aku pun turut andil memperburuk keadaan setiap harinya.

Akhirnya aku tersadar, mau suami berubah atau tidak suatu saat nanti, aku tetap berjuang belajar mengubah diri demi kebaikan diriku sendiri. Bukan demi suami atau orang lain. Untuk sampai pada tahap ini, butuh proses panjang belajar mindfulness parenting selama 3 tahun. Aku belajar mengupas satu per satu akar masalah konflik kami.

Sebagai contoh, aku sangat tidak bisa dibentak suami. Bahkan sekadar kata “diam kamu!” dengan nada biasa saja, ternyata memicuku, membuat nada suaraku naik sebagai bentuk protes atas bentakan suami. Karena ternyata IC-ku yang sudah lelah mendengar bentakan dari bapakku sedari aku kecil.

Semantara, saat suami mendengar aku protes dengan nada suara tinggi menjadi kalap. Ternyata ini disebabkan oleh karena IC suamiku yang ketika kecil melawan saat protes, ia akan mendapat perlakuan keras dari orangtuanya. Padahal, sebenarnya suamiku baik. Ia memberiku ruang untuk protes, tapi nanti saat emosinya sudah mereda.

Namun, istri mana yang rela mengalah terus menerus tidak protes atau melawan ketika dibentak saat itu juga, ya kan? Meski aku tahu maksud suamiku itu sangat baik. Demi mendidikku tentang suatu hal. Hanya saja caranya yang belum tepat menyentuh sisi perasaan wanita yang ingin dimengerti dengan kelembutan.

Jadi selalu ada sebab akibat pertengkaran kami. Setiap hari bahkan setiap saat IC kami saling memicu bagai lingkaran setan yang tak bisa putus. Dengan mindfulness parenting aku jadi tumbuh kesadaran untuk memutus rantai lingkaran itu.

Aku belajar untuk STOP sampai di aku. Ketika suami membentak, toh nadanya juga tidak sekasar perkiraanku, aku yang harus berjuang diam lebih dulu. Karena aku sudah paham dalam momen ini, IC kami sedang saling memicu. Jadi aku yang harus kuat menerimanya dengan teknik acceptance. Sebuah teknik untuk menerima dulu apa saja dan semua maksud suami tanpa melebeli atau menghakimi “suami tidak baik” pada saat berlaku kasar.

Aku belajar untuk tidak reaktif pada bentakan suami. Akan tetapi, aku belajar merespon dengan lebih baik diam lebih dulu. Sampai batas waktu suami mereda emosinya.

Hal diatas bisa kulakukan dengan salah satu teknik dari mindfulness parenting, yaitu pausing. Pausing adalah jeda sesaat. Biasanya pausing aku lakukan dengan beralih ke aktivitas cuci piring atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Kesal hilang, kerjaan kelar! Begitulah sloganku sekarang. Tidak seperti dulu. Aku balik melawan suami karena rasa tidak terima. Alhasil, ribut tiada berkesudahan. Lalu mengambek berhari-hari. Alhamdulillah seiring aku membaik emosinya, suami pun ikut membaik emosinya.

Dan ada banyak contoh lain dari IC pasangan ini. Sebaiknya memang harus diurai, dirunut dan dirinci satu per satu sampai benar-benar ketemu akar masalahnya. Bahwa masalah aku sekarang berkonflik dengan suami itu adalah karena memang IC-ku yang bermasalah dengan bapakku sebagai sosok suami ibuku. Bapakku sebagai sosok cinta pertama, jauh dari harapanku yang membuat jiwaku kosong. Lalu menuntut pemenuhan kekosongan jiwa itu dari suamiku.

Aku mengurainya satu per satu selama tiga tahun lamanya. Ibarat memetiki biji dalam kulit tanaman kacang tanah. Satu per satu aku cabuti dan aku selesaikan sampai tuntas.

Hingga hasilnya sekarang, aku tidak lagi mengalami penyangkalan diri saat memposting foto berdua suami. Melainkan bangga dan bersyukur, alhamdulillah … akhirnya justru karena konfliklah kami bisa tumbuh mendewasa bersama secara emosi.

Hal yang membuatku tak lagi menyerah menghadapi suamiku, bahwa kami ini memang prematur secara emosi dalam berumah tangga. Sebab kedua orangtua kami belum mengajarkan hal ini. Karena memang belum mempunyai ilmu parenting dalam mendidik emosi kami semasa kecil.

Aku tak lagi menyalahkan apa dan siapa. Akan tetapi sadar mengambil tanggung jawab untuk memperbaiki diri dan menciptakan bahagia sendiri lebih dahulu. Akhirnya, aku dan suami sadar harus berjuang belajar sendiri demi mewariskan contoh pasangan harmonis versi kami kepada kedua anak, Tyaga dan Jehan.

Aku tidak menjadi pamer di media sosial karena memang kami bukan pasangan sempurna tanpa konflik. Melainkan pasangan yang mau belajar menggunakan konflik sebagai alat pembelajaran perbaikan dan pengendalian emosi untuk tahapan berikutnya. Demi meniti masa depan rumah tanggga yang saling menerima apa adanya satu sama lain.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...