Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Bukan Hasil yang Utama, Melainkan Proses Sabar untuk Sebuah Performa

Beberapa waktu lalu Tyaga mendapat tugas dari guru Mata Pelajaran Bahasa Arab, ibu Itsna Luthfina Zuraida. Tugas menyanyikan lagu “Indonesia Tanah Air Beta” dalam versi bahasa Arab untuk divideokan. Jadilah Tyaga smule-an di handphone bunda. Hehe

Tahu nggak pemirsa? Ini benar-benar menjadi ladang belajar sabar buat ayah dan bundanya loh. Karena pengambilan video-nya bisa sampai belasan kali sampai puluhan kali deh sepertinya. Hahaha.

Iya, iklannya banyak sekali. Dari mulai minum dulu lah, pipis dulu lah, ulang lagi karena nada yang belum pas lah, sudah hampir selesai eh lupa syairnya. Hahaha. Dan masih banyak hal lainnya yang membuatku benar-benar berjuang sabar.

Padahal aslinya aku sangat geram. Perut terasa kram menahan gemas cenderung emosi. Rahangku kencang gemeretak. Tangan kukepal demi tidak reflek mencubit pipinya yang gembul atau menjitak kepalanya.

Aku segera mengerahkan pausing (salah satu teknik dalam minfulness parenting) dengan memejamkan mata beberapa detik. Kemudian menarik napas panjang dan dalam lalu menghembuskannya panjang dan dalam juga sambil mengucap istighfar. Hingga aku merasa lega tidak geram lagi.

Itu kulakukan hanya demi Tyaga tetap enjoy. Maklum Tyaga termasuk anak yang aktif dan banyak gerak. Jadi sempat bikin orangtuanya berjuang sabar menahan mulut supaya tidak mengomel. Ditambah ayahnya yang sedang ujian online di masa pandemi corona yang mengharuskan work from home. Jadi benar-benar terasa aura stres sekeluarga. Aku kuatkan tekad untuk stop rantai stres ini sampai di aku saja. Bismillah aku bisa💪💪

Sumber video: dokumentasi pribadi

Ternyata, benarlah pepatah itu,”hasil tidak berkhianat pada proses.”

Aku tancapkan dalam pikiranku, “Bukan hasil yang utama, melainkan proses untuk sebuah performa.”

Proses yang sabar dan tidak memburu-buru serta memaksa anak demi performa di video yang tampak tampil sempurna hanya untuk kebanggaanku sebagai orangtua karena mempunyai anak yang bisa menyanyi.

Namun yang utama, membuat anak tetap bahagia melakukan tugasnya tanpa diomeli setiap saat oleh orangtuanya yang pernah menyandang OCD perfeksionis. Dulu aku masih sering terobsesi selalu ingin anakku melakukan sesuatu dengan sempurna. Sekarang aku belajar banyak untuk MENERIMA APA ADANYA, APA PUN PENCAPAIAN ANAK, ASALKAN ANAK BISA TETAP BAHAGIA.

Aku berjuang tetap lembut demi anak merasa tidak tertekan akibat suara bising omelan orangtuanya. Supaya menjadi kenangan indah pernah membuat tugas sekolah yang didokumentasikan dalam video indah ini. MasyaAllah alhamdulillah.

Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...