Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Parenting Online Mindfulness Parenting

Berjuang Melepaskan Mental Korban

Oleh: Ribka ImaRi

“Mengapa ku yang harus selalu mengalah … tak pernahkah kau berpikir sedikit tentang hatiku?”

Penggalan lagu dari Seventeen di atas pernah merasuk ke jiwaku. Lagu yang dirilis tahun 2008 itu pernah membuat hidupku yang sedang terpuruk semakin terpuruk. Hanya karena mengingat kata-kata dalam syair lagu itu membuat perasaanku menjadi semakin melow terus.

“Masa aku terus yang harus mengalah? Masa aku terus yang harus minta maaf duluan? Enak saja dia nggak pernah mau minta maaf! Makin ngelunjak dia nanti!” Bisikan-bisikan dipikiranku itu pernah membuatku enggan memulai memperbaiki hubungan dengan suami.

“Sudah ada suami, kok tetap aku yang beli gas. Mana pakai motor gigi. Repot gini!” Selalu saja ada bisikan-bisikan yang membuat down. Aku pernah merasa menjadi istri dan ibu yang harus berkorban untuk orang serumah di sepanjang usia pernikahan kami selama enam tahun.

Nah ini! Ternyata, ini salah satu hal yang menghalangi hubunganku dengan suami selama ini. Karena aku merasa menjadi pihak yang paling terluka dan paling menderita sedunia.

Setelah enam tahun menikah, aku mengenal Mindfulness Parenting (ilmu mengasuh dengan kesadaran) di Agustus 2016, aku menjadi tahu dan sadar bahwa mental korban ini adalah bagian dari inner child-ku yang terluka semasa kecil. Karena pernah selalu disalahkan dan tindas terus menerus oleh bapak. Padahal aku tidak melakukan kesalahan. Jadi merasa lelah untuk memperbaiki keadaan.

Aku dendam. Aku ingin sekali-sekali sebagai pihak yang dihargai dan disayangi serta tidak dituntut untuk melakukan sesuatu untuk kebahagiaan semua pihak. Akan tetapi sebaliknya, biarlah orang lain yang ganti sekali-sekali melakukannya dan berkorban untukku.

Dengan merasa berada di posisi korban, aku berharap semua yang ada disekitar bisa memperhatikanku. Padahal, saat diri ini merasa menjadi korban, bisa jadi yang menjadi akulah pelakunya. Pihak lain seperti, suami, orangtua, anak, saudara, sebenarnya juga tersakiti atau direpotkan oleh keadaanku.

Dari Mindfulness Parenting aku belajar MELEPASKAN MENTAL KORBAN, lalu BERGANTI MENTAL PEJUANG membuatku mampu melepaskan ego diri sendiri lebih dahulu.

Melepaskan mental korban membuatku mampu mengendalikan diri dari emosi lebih dulu meski pasangan, orangtua, saudara, atau siapa pun itu tidak pernah mau berubah.

Akhirnya aku tanamkan dalam pikiran, “Suamiku mau berubah atau tidak, biar itu menjadi urusan dia dengan Tuhan. Hal paling penting adalah akulah yang berubah lebih dulu demi kedamaian jiwaku.”

Maka ketika suami, anak, ortu, saudara, sahabat ngambek, marah, memancing emosinya, aku TERIMA SEMUANYA. Akhirnya, membuatku bisa tetap santai dan tidak terpancing emosi saat menghadapinya.

Meski pun pihak lain membuat kesal, aku akan tetap berjuang jalani kehidupanku yang seharusnya. Tidak lagi terpuruk, bersedih dan merasa paling menderita sedunia. Seperti contoh kasus ini, harus membeli gas sendiri meski sudah tidak LDM (Long Distance Marriage).

Aku belajar memahami keadaan bahwa masalah dalam hidupku atau ibu lain sebagai ibu rumah tangga, selama ini pasti berat. Bahkan berat sekali rasanya. Meski intensitasnya berbeda-beda satu sama lain.

Walaupun sering mendengar kata, “Allah tidak akan menguji diluar kemampuan hamba-Nya”. Namun, jika tidak belajar menerimanya, membuatku sering merasa tidak mampu dan benar-benar tidak sanggup. Bahkan sekedar hal sepele membeli gas 3 kg memakai motor Supra, buka motor matic yang bisa membantu memudahkan membawa gasnya. Aku pernah merasa nelangsa, merasa repot sendirian begini.

Mindfulness, mengajarkan aku untuk sadar MENERIMA KEADAAN (ACCEPTANCE) bahwa meskipun sedang memegang HP, ternyata suamiku sedang bekerja online bukan karena tidak tahu kerepotanku di dapur mengganti gas. Aku menerima keadaan, bukan saja demi suami, melainkan demi kedamaian dan kebaikan jiwaku sendiri yang mampu mendewasa menerima keadaan di depan mata jadi tidak lagi uring-uringan atau nyesek karena berpikiran, “Tega suamiku lagi repot begini malah nggak bisa bantu-bantu pekerjaan rumah.”

Atau kedaanku yang meminta maaf lebih dulu jika ada ribut kecil dengan suami. Aku tidak lagi menahan ego menunggu meminta maaf sampai keributan menjadi lebih besar lagi.

Segera aku lakukan PENERIMAAN (ACCEPTANCE), mau gimana lagi. Ini harus aku terima dan jalani. Karena aku sedang tidak bisa meminta tolong suami. Sebab suami sedang ada pekerjaaan yang tidak bisa ditinggalkan. Toh, selama ini beliau mau bantu-bantu pekerjaan lainnya. Pikiran positif ini membuatku bisa fokus memandang kebaikan suami dalam hal lain.

Kemudian aku afirmasi positif, “Bismillah, aku pasti bisa!” Jadi bisa ambil tanggung jawabku. Lalu aku melepaskan mental korban dan kuganti dengan metal pejuang. Sambil mengajak dirku, “Yuk lakukan dengan hati lapang.”

Seperti itu afirmasi positifku pada pikiran. Sehingga tindakanku menjadi positif juga, mengikuti pikiran yang sudah positif.

Pikiran aku ajak untuk berpikir positif, aku afirmasi diriku bahwa pada akhirnya memang keadaan seperti ini harus aku jalani. Sebab penjual gas langgananku sedang tidak ada stok. Jadi aku harus berjuang mencari ke penjual lain. Sementara aku tidak ada nomor telepon penjual lain, jadi aku tidak bisa melakukan pesan antar. Melainkan aku yang langsung membawa tabung kosongnya saat membeli gas.

Aku terima keadaan aku yang harus membeli gas meski sudah seatap dengan suami, tetapi beliau sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda hanya untuk sekedar membantu membeli gas. Hal ini sangat sepele. Namun, tanpa disadari, jiwa mental korban yang merupakan bagian dari inner child-ku pernah membuatku merengek pada suami yang memancing pertengkaran hanya gara-gara hal sepele.

Akan tetapi jiwa dewasaku, akhirnya memilih berjuang dan menerima keadaan hadapi sendirian demi kebutuhan orang tersayang serumah bisa terpenuhi.

“Saat diri ini merasa berkorban, semua yang dijalani justru menjadi beban. Namun, mengubah mental menjadi mental pejuang membuat beban berat itu menjadi ringan dengan penerimaan. Maju terus pantang mundur menjadi pejuang kehidupan. Demi kebaikan diri sendiri. Bukan demi apa pun atau siapa pun.”

Sokaraja, 23 April 2020
Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
Founder support grup ImaRi’s Corner Parenting (2020)
Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...