Blog Umum Curahan Hati Hari Kesehatan Mental Tulisan Wenny Kartika Sari

Berjiwa Besar Hadapi Badai Hidup (Oleh: Wenny Kartika Sari)

Dalam rangka ikut partisipasi Hari Kesehatan Mental Dunia, aku mau menceritakan kisah tragis dalam hidup yang terjadi tepat di tahun 1993. Sebuah kejadian yang menghantarkanku sampai ke negeri antah berantah. Itu hanya istilahku. Hehe. Saat ada orang yang mulai putus asa menghadapi badai hidup, justru aku akan menceritakan “black history” yang malah membuat hidupku bersinar. Seperti buku Ibu Kartini, memang benar “ Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Belum juga usai ujian berat setelah mengalami kecelakaan parah dengan motor pada tanggal 22 Januari 1992, sudah datang lagi masalah baru. Waktu itu aku harus menjalani operasi kepala yang membuat rambutku digundul habis untuk mempermudah proses operasi. Saat itu tulang belakang kepalaku patah akibat terkena benturan helm yang saat itu masih model helm proyek.

Lalu aku mengunjungi dokter kulit untuk menumbuhkan rambut. Ketika itu, keraguan muncul dalam hati, tetapi besarnya keinginan menumbuhkan rambut membuatku tetap ke dokter. Sebenarnya dokter itu sudah diberi surat rujukan oleh dokter yang menanganiku sebelumnya, yang memberitahu bahwa aku belum lama operasi kepala.

Beberapa minggu setelah minum obat dari dokter kulit untuk menumbuhkan rambut, aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Kemudian aku kembali kontrol ke dokter kulit tersebut. Lalu menceritakan keanehan yang terjadi padaku. Aku tidak merasa lelah sama sekali walaupun beraktivitas seharian. Aku bersih-bersih rumah sampai tempat paling sulit dijangkau. Istilahnya tak bisa berdiam diri.

Dokter malah bilang, “Ya malah bagus dong jadi rajin dan tidak punya rasa lelah.”

Lantas obat penumbuh rambut dan vitamin itu disuruh teruskan meminumnya. Kemudian dalam waktu beberapa bulan kesadaranku mulai berkurang. Naik motor mengebut tak terkontrol ibaratnya seperti pembalap yang sudah ahli. Tak ada rasa takut naik motor ngawur di jalanan. Keluargaku mulai khawatir dengan keadaan aneh ini.

Lalu, aku dimasukkan ke rumah sakit rehabilitasi mental di Magelang masih di tahun yang sama 1993 tetapi aku lupa bulannya. Pertama kali masuk rumah sakit itu, aku heran ada di mana kok semua serba putih.

Aku bertanya-tanya dalam hati, ”Apa aku sudah mati?”

Aku masih terheran-heran melihat sekeliling. Saat itu aku selalu membawa rosario (manik-manik bulat dibentuk kalung) ke mana-mana untuk berdoa. Terutama dalam keadaan sangat berat. Tiba-tiba rosario itu diambil oleh mantrinya. Secara reflek, aku merebut rosario itu. Dikira aku kumat. Padahal kesadaranku masih bagus, walaupun mungkin hilang sekitar 20%.

Bagaimana tidak, habis operasi kepala dihantam dengan obat penumbuh rambut dosis tinggi. Ibaratnya, seperti listrik yang jadi Korsleting pastinya. Ada syaraf-syaraf yang disconnecting karena di atas kedua telinga disobek untuk membetulkan tulang belakang kepala yang patah.

Aku di masukkan dalam sel yang gelap, pengap dan jorok sekali. Bahkan mau buang air kecil dan besar tidak diizinkan. Aku garis bawahi selalu ada hikmah di balik ketidakberdayaan. Benar-benar The End of The World bagiku, yang orangnya tipe bersihan sekali. Sekarang aku bangga bagaimana bisa melewati masalah yang sangat berat itu. Kembali aku menjadi korban kecerobohan orang lain karena dokter kulit yang ternyata memang sering meresepkan obat dengan dosis tinggi. Aku bersyukur diberi kemampuan Tuhan untuk memaafkan kelalaian dokter itu, sehingga cepat pulih seperti semula. Selalu tertanam dalam pikiranku The Power of Forgiveness, sehingga aku mendapat rahmat besar untuk selalu berjiwa besar dalam menghadapi badai hidup

Waktu mau keluar dari rumah sakit itu, dengan kata-kata mantri yang sangat tidak mengenakkan, ”Paling sebentar lagi juga kembali lagi.”

Dalam hatiku waktu itu, ”Siapa bilang?”

Setiap ada perkataan buruk, aku selalu mematahkannya dalam nama Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka katakan telah menyakiti orang lain. Mereka juga punya luka batin, jadi aku bereskan diri sendiri saja, tanpa memusingkan perkataan orang yang tidak sadar.

Kemudian aku sadar, tidak lulus semester empat karena tidak bisa ikut ujian. Hal ini membuatku sangat sedih rasa hati. Lalu aku menemui dosen dan bertanya, “ Kalau semester empat tidak lulus karena tidak ikut ujian, bisakah langsung semester lima, Pak?”

Dengan hati berdebar-debar menunggu jawaban dosen, setelah melihat nilai IP semester tiga sudah memenuhi syarat, aku diizinkan langsung naik ke semester lima. Betapa senang rasa hati ini. Bahkan semester enam bisa ambil double dengan mata kuliah semester 4 yang masih ketinggalan. Semua kalau dijalani dengan sepenuh hati, tidak ada kata sulit. Akhirnya aku bisa lulus dengan nilai memuaskan.

Sampai ada seorang teman bertanya, “Otakmu terbuat dari apa ya? Kondisi sakit parah, kok bisa lulus on time? Aku yang sehat saja malah harus remidi.”

Kujawab, “Ini semua semata-mata Anugerah Tuhan.”

Setelah lulus aku pun langsung dapat pekerjaan di perusahaan asing di Solo di bulan Pebruari 1995 dan bisa bertahan selama 12 tahun. Luar biasa pertolongan Tuhan yang tak pernah habis dalam hidupku.

Walaupun harus menjalani ujian-ujian hidup super berat, masih dimampukan melewati dan selalu dibri jalan keluar terbaik. Peristiwa tragis di atas, benar-benar menjadi titik balik dalam hidupku. Badai hidup mengajarkanku lebih menghargai waktu dan perjuangan. Tuhan sudah menyediakan BERKAT BESAR DI BALIK DUKA/ PENDERITAAN.

Kata-kata di atas aku tanamkan di hati terdalam. Makin hari makin mantap melangkah dan makin kuat, sehingga sekarang dapat menjadi konselor terutama atasi penyakit autoimun jenis Lupus, keluarga yang bermasalah, orang depresi dan masalah lain. Aku jadi memahami kenapa Tuhan biarkan aku mengalami masalah-masalah tragis, karena pengalaman adalah guru terbaik dan menjadikanku mengetahui banyak hal. Semuanya juga tidaklah melebihi kekuatan.

Peristiwa tragis yang aku ceritakan di atas, benar-benar membuatku tidak berdaya. Kuasa Tuhan yang menuntunku untuk Berserah Total sampai Mukjizat terjadi dalam setiap peristiwa tragis itu. Aku sendiri tidak menyangka bisa melewati masalah berat itu. Bagi pembaca yang sedang menghadapi masalah, percayalah Tuhan sudah sediakan jalan keluar saat kita mau berserah total hadapi masalah kehidupan.

Semoga kisah tragis yang aku ceritakan ini berguna buat pembaca sekalian. Masalah hidup seberat apapun, kalau kita mengandalkan Tuhan…pasti bisa melewatinya.Tips-tips yang bisa aku bagikan supaya sanggup hadapi berbagai persoalan hidup :

1. Meditasi – Berdamai dengan diri sendiri dan menerima keadaan tak menyenangkan
2. Terima dengan Ikhlas apapun yang terjadi ( Teknik Acceptance dari Pak Supriyatno-Trauma Healing Therapist)
3. Pertobatan-Menyadari kita pernah salah
4. Pengampunan-Mau memaafkan yang pernah bersalah/ menyakiti kita.
5. Bersyukur

KUNCI UNTUK DAPAT BERTAHAN HADAPI BADAI HIDUP :
1. Berdoa
2. Merenungkan dan Menjalankan Ajaran Tuhan-sesuai dengan agama dan kepercayaan

Selamat berjuang buat yang sedang menghadapi masalah. Percayalah…Tuhan tak kan biarkan kita menderita sendirian. Terutama menghadapi Pandemi Covid-19 ini harus banyak olah emosi supaya daya tahan meningkat.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

The Power of Thinking

The Power of Forgiveness

Ucapan terima kasihku teristimewa untuk :
1. Alm. Papi Gondo PS dan Mami Ratna yang mengajarkanku beriman dan menjadikanku berhasil.
2. Alm. Erly, kakak ke-3 dan suami Bernadi yang memberi semangat dan dukungan moral dan material
3. Yenny Oentari, kakak pertama yang membiayai operasi kepala dan selama di rumah sakit serta bimbingan rohani.
4. Dwi Kristianti dan suami Agus Thendy yang memberi dukungan moral dan material
5. Kojianto Wibowo, suamiku yang mau menerima diriku apa adanya dengan Black History tragis, bahkan kata HEBAT yang dia berikan.
6. Aurel, anak kandung yang mau menerima mami apa adanya dan menjadi Mujizat terbesar dalam hidupku

Solo, 10 Oktober 2020

Wenny Kartika Sari

#worldmentalhealthday2020
#harikesehatanmental
#nubarsumatera

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan