ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

Liku Perjuanganku Melawan Monster PMS

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s
Apa kabar? Maaf, lama tak menyapa. Karena sedang fokus mengendalikan emosi saat PMS. Ditambah sedang menemani Tyaga dan Jehan di minggu pertama masuk sekolah. Dengan masih Belajar Dari Rumah (BDR) atau Shcool From Home (SFH) yang lumayan menyita waktu dan tenaga, terutama pengendalian emosi. Terlebih di saat PMS.

***

Belajar mengendalikan emosi saat PMS di kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Batch 8 hanya 99 Ribu. Kelas 7 hari di grup whatsapp.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

***

Berbicara tentang Premenstrual Syndrome atau yang biasa disebut PMS bagi diriku seakan tak ada habisnya. Terasa sekali ini perjuanganku seumur hidup, baik dalam segi fisik maupun psikis. Karena sejak pertama kali mendapat menstruasi di usia 14 tahun sampai detik ini di usia menjelang 40 tahun, memang aku mengalami gangguan PMS.

Terlebih aku pernah menderita kista endometriosis selama 17 tahun lamanya. Semenjak pertama kali mendapat haid di usia 14 tahun sampai aku bisa hamil di usia 31 tahun. Pernah membuatku ingin mati saja akibat depresi karena saking sakitnya.

Ketika hari pertama menstruasi sudah dapat dipastikan aku bed rest dengan posisi ember di sampaing tempat tidur untuk menampung muntah yang tiada bisa berhenti sedari subuh sampai magrib. Tak ada secuil makanan atau sececap air yang bisa masuk ke lambungku. Kalaupun aku berusaha setengah mati agat bisa masuk ke tenggorokan, selalu segera keluar lagi melalui muntah. Membuatku semakin depresi. Itu semua terjadi karena hormon PMS-ku.

Premenstrual Syndrome (PMS) adalah sebuah sindrom perubahan fisik dan emosional pada cewek yang masih menjalani siklus menstruasi. Sindrom ini biasanya muncul satu atau dua minggu sebelum datang bulan. Seringkali, cewek yang lagi PMS akan punya tingkat emosi yang nggak stabil, sensitif, dan gampang marah. (https://m.brilio.net/life/25-meme-cewek-lagi-pms-yang-bisa-bikin-kamu-jadi-senyum-senyum-sendiri-151028r.html)

Alhamdulillah, sujud syukur … akhirnya PMS-ku kali ini di bulan Juli 2020 bisa lulus tanpa kekerasan ke Tyaga dan Jehan. Ditambah tanpa keributan dengan suami. Ini benar-benar prestasi buatku. Justru rumah terasa ayem tenteram. Aku dan suami beserta anak-anak semakin mesra. Seluruh tubuhku tidak mengeluarkan sensasi PMS apapun. Benar-benar nyaman tanpa rasa sakit sedikit pun. MasyaAllah alhamdulillah.

Biasanya kepala sakit dan berat, badan pegal-pegal, perut bagian dalam nyeri, betis kram dan sendi lainnya kaku. Tambahan, aku penyintas bipolar yang rawan sekali berubah-ubah mood-nya (mood swing). Dari yang anteng bisa tiba-tiba uring-uringan tidak jelas. Dari yang semula sabar bisa tiba-tiba meledak marah tak terkendali.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sementara tiga tahun lalu,

“Bunda kayak monster kalau lagi mau mens!” teriak Tyaga yang baru berusia 5,5 tahun dan Jehan yang baru berusia tiga tahun waktu itu.

Ya, dulu kedua anakku pasti bilang bundanya seperti “monster” setiap kali sedang PMS. Biasanya seminggu sebelum dan sesudah menstrusi. Apalagi kepicu trauma inner child langsung deh bagai sumbu pendek meledak kalap ke anak. Padahal sebelum tahun 2016, aku belum pernah separah itu mengamuki anak.

Selama lima tahun menjadi ibu, aku bisa menjadi ibu yang penyabar. Kalaupun marah, masih tergolong marah yang wajar. Tidak sampai kalap tak tertahankan. Karena sejak awal hamil Tyaga di tahun 2011, aku sudah bertekad agar anak-anakku tidak menderita seperti aku yang pernah menjadi korban pelampiasan kemarahan orangtua.

Namun apa daya … bertahun-tahun aku menahan kemarahan yang menumpuk, akhirnya menjebolkan pertahanan sabarku. Aku bukan saja masih menjadi ibu yang pemarah yang parah selama rentang waktu di tahun 2016-2018. Parahnya itu karena dalam sehari aku bisa meledakkan kemarahan dengan tangan (memukul, mencubit, menampar) dan sumpah serapah bicara kotor layaknya menirukan suara dan perilaku bapakku saat marah.

Sebenarnya, aku bersyukur dan beruntung, karena Allah SWT memberi akal pikiran dan kesenangan sedari dulu. Sejak Oktober 2012, aku mulai belajar membuat menu MPASI (Makanan Pendamping ASI) untuk bayi Tyaga. Aku jadi senang membuat makanan-makakanan yang seumur hidup belum pernah mencoba mencicipinya apalagi membuatnya.

Ternyata, membuat menu MPASI yang unik-unik tersebut bikin aku bahagia. Aku baru tahu setelah mengunjungi Psikiater di Januari 2017, rupanya itu semua merupakan depresiku yang terselubung. Depresi yang kualihkan ke hobi membuat makanan dan membereskan rumah.

Makanya kalau ada ibu lain bertanya karena saking herannya, “Kok bisa ya sempat bikin ini itu padahal punya baby (waktu itu Jehan masih bayi berusia 4 bulan). Apalagi sekarang dua anak yang aktif dijualin pula, itu kapan bikinnya?”

Aku sendiri bingung jawab rincinya. Hehe. Yang pasti semua karena Allah yang luar biasa memberiku tenaga kuda untuk bisa mengerjakan semuanya sendiri saat suami bekerja. Karena aku penyintas bipolar yang seringkali mampu terjaga dan beraktivitas full power tanpa tidur sama sekali selama 23 jam non stop.

Dalam terjaga aku membuat makanan ini itu di waktu senggang, saat anak tidur dan anak sibuk main di dekatku. Jadi bisa disambi. Sampai muncul pertanyaan dari tetangga yang penasaran bagaimana aku bisa mengatur waktu sedemikian rupa hingga bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah ditambah berjualan. Padahal tanpa asisten rumah tangga dan tanpa seorangpun membantu saat suami berangkat kerja.

“Anak-anak bisa di sambi?”

“Alhamdulillah bisa. Karena sebelum membuat makanan, aku sounding dulu ke anak Tyaga dan Jehan, ‘bunda mau bikin makanan bla bla, yg baik ya … bantu Bunda ya sayang’ Meski ada kalanya juga sulit disambi, ya mau gimana lagi. Aku usahakan lebih utama anak dulu.”

Kemudian muncul pertanyaan lagi. Ini nyata loh … pertanyaan dulu sewaktu masih tinggal di Depok, “Terus setrikaan bagaimana?”

Itu dia, cuma kasur single di kamar belakang yang bakalan protes. Karena sejak Jehan lahir di bulan Agustus 2014 sampai usianya hampir menjelang tiga tahun, dalam satu tahun, bisa jadi hanya satu sampai dua kali kasur tersebut bisa bersih kinclong tanpa sehelai kain pun di atasnya. Dalam arti, tidak ada baju yang perlu disetrika dan jemuran yang baru diangkat. Alhamdulillah sudah bisa kuabaikan dan kuterima berantakannya demi jiwaku sehat.

Aku fokus menyalurkan emosi negatifku dengan cara membuat makanan. Dulu aku sadar sekali, ada kebahagiaan membuncah yang kudapatkan jika Tyaga dan Jehan doyan memakan makanan yang aku bikin. Sekaligus aku menjual ke para tetangga yang ikut memesan. Namun, kemudian aku berhenti berkarya cukup lama.

Rupanya, aku pernah depresi parah saat menstruasi. Kemudian aku mendapat saran dari psikiaterku dr. Wiharto dan juga mentorku Supri Yatno, saat depresi malas ngapa-ngapain, coba di bawa beraktivitas. Rasanya setengah mati aku melawan rasa depresi yang pernah terparah pada September 2016-Januari 2017.

Beranjak dari kasur saja enggan. Perasaan yang terus menerus melow. Bahkan aku sampai pernah menangis selama satu jam non stop. Air mataku mengalir terus tanpa bisa dibendung. Membuat mataku bengkak, kepala sangat berat, tulang lemas dan lunglai.

Rasa tak berdaya muncul terus menerus akibat luka pengabaian orang tua yang janji-janji palsu. Katanya, mereka ingin datang dari Kembangan, Jakarta menengok rumah baruku di Sokaraja, Banyumas. Akan tetapi, sampai setengah tahun aku menempati rumah baruku, mereka tak kunjung datang ke Sokaraja, Banyumas.

Namun, sejak aku mulai mengenali tanda-tanda depresiku melalui kelas Mindfulness Parenting#2 dan juga pesan dari psikiaterku dr.Wiharto dan kemudian aku mengikuti kelas online yang lebih spesifik, yaitu Mood Disorder#1, aku semakin tahu harus bagaimana cara mengendalikan emosi negatif dari PMS-ku itu.

Alhamdulillah … alhamdulillah … alhamdulillah … setelah empat tahun mempraktikkan ilmu-ilmu yang kudapatkan. Salah satunya, ACCEPTANCE. Aku terima satu per satu keadaan PMS-ku yang luar biasa ajaib dan berbeda dengan para wanita pada umumnya. Akhirnya aku bisa lulus tanpa main tangan dan tanpa bicara kotor ke anak di bulan Oktober 2018.

Namun, dalam rentang waktu itu, ada kalanya aku masih melotot dan gebrak meja atau pintu atau menampar bibirku sendiri. Akibat kelebat Inner Parent (contoh nyata perlakuan dan ucapan dari bapakku) masih terekam jelas dan muncul tak terbendung saat aku menghadapi situasi marah ke Tyaga dan Jehan.

Sujud syukur alhamdulillah, di tahun 2020, bukan saja bisa menahan tangan tapi rekaman suara kasar Inner Parent dari bapak dan ibuku yang seakan membisikkan ditelingaku dengan kuat, “Anak setan, kayak tahi kamu semua.”

Alhamdulillah, itu semua sudah bisa kukendalikan dengan PAUSING. Salah satu teknik yang diajarkan di kelas Mindfulness Parenting. Dengan cara menggigit bibirku kuat-kuat agar bisa menahan bisikan kata kasar itu. Demi mencegahnya meluncur di depan Tyaga dan Jehan.

Sebelum bulan Oktober 2018, masih pernah terlontar tanpa bisa dibendung, tetapi sudah sangat rendah intonasi ledakannya. Lebih sering berganti istigfar dan napas panjang. Terima kasih psikolog Mbak Rahma, aku ingat selalu pesanmu untuk terus belajar istigfar. Bukan berarti aku tidak pernah istigfar. Namun saat depresi, suara istigfarku lebih mirip suara orang kesurupan.

Astagfirullahaldzim … andai Allah SWT tak menuntunku lepas dari belenggu depresi ini dengan pertama kali kenal definisi depresi paska melahirkan dari akun FB Mbak Nur Yana Yirah, mungkin aku tidak akan segigih ini berjuang. Terima kasih banyak Mbak Yana, dari mba Yana jugalah aku jadi ada akses ikut kelas online Mindfulness Parenting dan konseling ke Psikolog Mbak Rahma.

Allah SWT jugalah yang memberi rasa gigih itu, dengan memberi petunjuk lewat komentar dari Mba Eresia Nindia W di FB, aku jadi berjuang menemui Psikiater dan bisa terapi obat. Kuakui dengan obat itulah, yang pertama kali aku konsumsi 26 Januari 2017-20 febuari 2017, membuat kepalaku yang tadinya setiap PMS terasa mengebul luar biasa. Kini sudah tidak lagi ada sensasi kepala mau meledak.

Satu per satu jalan ikhtiar itu aku tempuh demi kestabilan emosi dan kesehatan jiwaku. Terimakasih Allah SWT sudah mengirimkan perpanjangan tangan dari orang-orang yang sangat berarti dalam proses kesembuhanku dari depresi dan bipolar yang mana psikiater mendiagnosanya bahkan sejak aku kecil sudah depresi. Wallahu alam ….

Sokaraja, 15 Juli 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan