Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting

Banyak Ibu Mengalami, Tetapi Tidak Semua Menyadari

Banyak Ibu Mengalami, Tetapi Tidak Semua Menyadari

Oleh: Ribka ImaRi

Jam dinding menunjukkan pukul 24.00 wib. Itu tandanya aku sudah on selama 21 jam non stop tanpa tidur. Karena baru saja selesai berkutat dengan cucian. Mendengar suami mendengkur. Melihat kedua anakku tidur pulas.

Sementara aku?

Aku berhasil MELEPASKAN MENTAL KORBAN MERASA MERANA SEORANG DIRI DI MALAM YANG SEPI.

Berkat Allah dan melalui Mentor, aku bisa belajar MINDFULNESS, membuatku bisa berhasil tidak iri saat tahu keadaanku yang belum bisa beristirahat seperti suami dan anak-anakku. Aku TERIMA KEADAAN INI SEBAGAI TANGGUNG JAWABKU BEKERJA SEBAGAI IBU. HARI INI NON STOP SEJAK JAM 03 wib.

Bukan, bukan karena aku tidak bisa sayang tubuhku. Justru saking sayangku pada darah dagingku, Tyaga, anak lelaki pertamaku. Aku baru saja selesai merawat Tyaga yang sedang sakit dan baru bisa tidur nyenyak jam 22.30 wib tadi.

Sejak Tyaga pulang sekolah dalam keadaan sakit muntah dan diare pada pukul 15.30, aku benar-benar tidak bisa memegang pekerjaan rumah yang berat seperti mencuci baju. Kecuali mengasuh kelas online dan mengetik naskah buku solo sedikit masih bisa disambi-sambi jaga Tyaga yang sakit.

Setelah semuanya selesai, ada 3 ember cucian yang menunggu, harus dipegang dan sama sekali tidak bisa ditunda besok. Padahal biasanya aku sudah bisa menutup mata melihat rendaman cucian selama 12 jam bahkan 24 jam.

Sekarang sudah bisa tak ada sensasi stres sama sekali karena aku sudah bisa melepaskan penghakiman bila mungkin ada nyinyiran orang diluar sana bahkan nyinyiran suara hatiku sendiri.

“Isshh jorok banget sih! Rendam baju sampai 24 jam.” Penghakimanku bertahun-tahun lalu selama menjadi IRT sejak Mei 2011. Tapi sekarang aku sudah bisa menyadari untuk melepaskan perfeksionisku demi kesehatan tubuh dan jiwaku. AKU MENERIMA KEADAAN UNTUK MELEPASKAN PERFEKSIONIS BEBERSIH SECEPATNYA.

“Ya, mau gimana lagi karena memang benar-benar tidak sempat akibat urus anak sakit. Terserah orang mau bilang apa. Bahkan jika mungkin suamiku komentar, aku sudah siap untuk woles.” Pembelaanku. Aku bertanya sendiri, lalu menjawab sendiri🤣🤣🤣. Afirmasi ini aku lakukan untuk menghibur diri meski tak ada seorangpun yang membela atau menghiburku.

Karena memang malam ini sungguh ada kewajiban yang kuterima keadaannya. Ada celana sekolah tyaga dalam kondisi bekas pup-nya akibat Tyaga sempat tidak bisa menahan keadaan diare di kelas.

Jadilah aku harus mencuci semua rendaman baju tadi pagi. Akibat mengucek celana sekolah Tyaga. Sekalian cuci saja semua karena sekalian basah bajuku, menurutku. Meski sudah jam 22.30 wib. Tak mengapa, bismillah aku tetap sehat saja hingga besok hari.

Aku yakin, di luar sana ada banyak ibu mengalami hal yang sama seperti yang aku alami saat ini. Ini pun bukan baru pertama kali ini saja aku mengalaminya. Sudah ada beberapa kejadian yang sama persis. Akan tetapi ada perbedaan sangat mencolok.

Jika dulu aku hanya mengalami tanpa menyadari bahwa ini semua merupakan tanggung jawabku sebagai ibu. Tak seharusnya faktor kelelahan menjadi penyebab ledakan kemarahanku kepada Tyaga Jehan.

Sekarang, aku sudah bisa mengendalikan semua rasa itu. Rasa lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seakan tiada henti, rasa bosan mengurus anak sakit bergantian sejak minggu laluu, rasa kantuk yang mendera luar biasa, rasa kurang tidur setiap hariny, rasa menyalahkan diriku sendiri akibat Tyaga dan Jehan yang sakit bergantian, rasa iri pada suami yang bisa dengan bebas tidur kapan saja dan masih banyak rasa lainnya yang benar-benar bisa membuat kemarahan meledak apabila aku tidak mampu mengendalikannya seperti saat 3 tahun lalu aku masih menjadi MONSTERMOM.

Alhamdulillah, sujud syukur dini hari ini aku bisa mengendalikan rasa itu. Karena sudah menyadarinya. Aku berhasil menjadi MINDFULMOM, ibu yang penuh dengan kesadaran untuk tidak melampiaskan semua kepada anak.

Dengan PAUSING (jeda sesaat) aku belajar menjedakan pikiran memikirkan banyak pekerjaan, tetapi fokus mengurus dan mendahulukan Tyaga yang sedang sakit.

Aku belajar MELEPASKAN SATU PER SATU HAL YANG TAK BISA KUKENDALIKAN

KARENA MEMANG ADA BANYAK HAL BERADA DILUAR KENDALIKU. YANG TERUTAMA DAN TERPENTING ADALAH AKU BISA MENGENDALIKAN EMOSIKU LEBIH DULU.

Hasilnya, alhamdulillah aku tetap merasa sehat jiwa dan raga serta anak-anak yang tetap ceria menutup harinya lalu tertidur dalam kenangan indah kesabaran bundanya yang tidak lagi jadi tukang mengamuk akibat terkena serangan panik saat menghadapi keadaan yang genting sekali pun. Semua atas seizin Allah.

-Ribka ImaRi-

Pejuang depresi dan bipolar yang kini sudah sangat jauh lebih baik.

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan