Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

Anak, Tanggung Jawabku Kepada Allah

Oleh: Ribka ImaRi

28 Januari 2017

“Bun, makan ….” ucap Tyaga anak pertamaku yang masih berusia 4 tahun 10 bulan setengah merengek meminta makan. Karena memang sudah lewat waktunya sarapan pagi yang biasanya pukul tujuh setiap harinya.

Namun, aku masih bergeming di atas tempat tidur sambil menggulir halaman facebook-ku. Jehan, gadis kecilku yang baru berusia 2 tahun 5 bulan kubiarkan masih terlelap. Setidaknya agar berkurang sebentar saja tugasku sebagai ibu single fighter dari balita dan batita, pikirku.

Kepalaku masih berat. Pelipis seperti ditusuk-tusuk. Rahang terasa kencang. Leher teramat tegang. Mata pun masih sembab sisa menangis semalaman. Ragaku sakit. Terlebih jiwaku. Rasanya, aku ingin tidur selamanya dan tak ingin bangun lagi.

Mendadak air mataku berderai lagi dan ingatanku mengembara pada kejadian kemarin. Dalam keadaan lelah jiwa, aku melihat kedua orangtuaku, adikku dan istri serta anaknya lari tunggang langgang ketika menyaksikan aku menangis tantrum (mengamuk). Duniaku terasa runtuh seketika.

Mereka semua tega meninggalkan aku sendirian dalam keadaan terluka batin bersama kedua anakku yang masih kecil-kecil. Terlebih tanpa ada suamiku di rumah. Hanya kakak kandungku laki-laki yang kembali masuk ke dalam rumah. Ia memastikan aku rela ditinggal mereka semua semobil kembali ke Jakarta.

Meninggalkan aku di Sokaraja, Banyumas dalam tangis sesegukan yang tak kunjung henti. Luka pengabaian dari orangtuaku yang kembali tertoreh bahkan sehari setelah aku berhasil berjuang berobat ke psikiater di tanggal 26 Januari 2017. Dalam keadaan terseok-seok dengan membawa Tyaga dan Jehan menuju poliklinik kejiwaan. Hanya demi aku stop menyakiti kedua anakku.

“Bun, Mas lapar,” rengekan si Sulung membuyarkan pikiranku yang mengembara sedari tadi. Aku hanya melirik ke arah Tyaga yang kembali merengek karena ia benar-benar lapar. Perutku pun seakan ikut merengek.

Ditambah teringat pesan psikiaterku, harus minum obat dengan teratur. Ya, kemarin pak dokter meresepkan Sandepril tablet untukku karena aku didiagnosa depresi. Kesadaranku berkelebat, “Aku harus masak untuk sarapan lalu minum obat. Demi mencegah mood swing-ku supaya bisa stabil emosi selama seharian mengurus Tyaga dan Jehan. ”

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sadepril tablet digunakan untuk mengatasi depresi yang penyebabnya belum diketahui namun terjadi karena faktor dari dalam (depresi endogen). Gangguan depresi yang membuat penderitanya merasa sedih dan putus asa sepanjang waktu (depresi mayor). Gangguan psikopatologis yang ditandai dengan adanya suasana hati yang terus-menerus sedih (neurosis depresi). Gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem (depresi manik). Gangguan kecemasan yang berkaitan dengan depresi. (https://www.google.co.id/amp/s/www.sehatq.com/obat/sandepril-tablet-50-mg/amp).

Akan tetapi, pengaruh Sandepril (antidepresan) sungguh menderaku. Tubuhku bagai terpasung di atas kasur. Mengangkat kepala pun begitu berat rasanya. Apalagi bangkit dari tempat tidur, rasanya mustahil. Depresi ini sangat menyiksaku. Tubuhku lemah lunglai bagai tak bertulang. Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa mengurus kedua anakku?

“Bunda, Mas lapar.” Suara lirih Tyaga untuk ketiga kalinya membuat otakku bagai tersengat aliran listrik yang menyadarkanku untuk segera bangun dari pembaringan.

Aku bergumam dalam hati, “Kasihan anak-anakku tidak ada yang mengurus. Karena benar-benar tidak ada seorang pun dewasa yang bisa menggantikanku mengurus Tyaga dan Jehan jika ayahnya masih belum bisa pulang dari Depok.”

“Ya, Allah … aku tak mau menyerah. Tolong mampukan aku mengurus amanah terbaik dari-Mu,” jerit batinku.

Akan kuingat selalu bahwa Tyaganara adalah amanah pemberian dari Allah yang kupinta dengan sungguh-sungguh. Ternyata Allah jadikan bayi laki-lakiku sebagai anugerah penyembuh kistaku disaat aku putus harapan tidak bisa hamil.

Begitu pula dengan Jehan, ia adalah pemberian dari Allah tanpa kupinta karena hamil diluar rencana. Ternyata kehadiran bayi perempuanku yang menyadarkan aku akan depresi terselubung yang kuidap sejak remaja.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sebenarnya, aku iba melihat Tyaga dan Jehan. Namun apa daya, serangan depresi membuatku saat ini terpuruk menjadi ibu yang tidak cakap mengurus anak. Padahal biasanya, aku ibu yang bertanggung jawab karena setiap pukul tujuh pagi mereka sudah harum mewangi telah mandi dan kenyang telah memakan masakan olahan tangan bundanya.

Sekonyong-konyong kesadaranku menyeruak. Entah dari mana datangnya. Yang pasti itu semua pertolongan dari Allah. IA pula yang mampu menghadirkan pikiran untuk melakukan RADICAL ACCEPTANCE (RA) yang aku pelajari di Mindfulness Parenting sejak Agustus 2016, “AKU TERIMA KEADAANKU YANG SEDANG DEPRESI. MEMANG TERASA BERAT. SEBERAT APAPUN MASALAH DAN DEPRESIKU, SETEGA APAPUN ORANGTUAKU MEMBUATKU TERPURUK, ADA ATAU TIDAK ADA SUAMIKU DI RUMAH, ADA ATAU TIDAK ADA YANG MEMBANTUKU MENGURUS SEMUA, AKU HARUS BERTANGGUNG JAWAB MENGURUS DIRIKU, TYAGA, JEHAN DAN SEISI RUMAH DENGAN SEBAIK-BAIKNYA. INI TANGGUNG JAWABKU KEPADA ALLAH SEBAGAI WUJUD SYUKURKU YANG MEMBERIKU AMANAH LUAR BIASA SEORANG ANAK YANG TELAH MENYEMBUHKAN PENYAKIT KISTAKU YANG BISA SEMBUH SETELAH HAMIL TYAGA. AKU TAKUT BERDOSA JIKA TIDAK MENGURUSNYA DENGAN BAIK. KEDUA ANAKKU BENAR-BENAR TANGGUNG JAWABKU KEPADA ALLAH.”

Ajaib! Sungguh luar biasa kata-kata dalam kalimat RA di atas mampu memompa semangatku kembali. Tubuh yang semula bagai tak bertenaga jadi bisa kuat menapak di lantai.Sujud syukur, alhamdulillah akhirnya Allah benar-benar memampukanku.

Dalam langkah gontai aku bangkit, keluar dari kamar menuju dapur dan mulai menyiapkan semua untuk memasak sarapan meskipun terhitung telat. Kemudian memandikan satu per satu anakku lalu mengajak keduanya sarapan.

Sejak saat itu, meskipun serangan depresi terkadang masih menghampiri, Allah membuatku lebih cepat sadar untuk segera melakukan RA agar emosiku segera stabil kembali. Aku telah mampu mengendalikan sedih dan berbahagia seperti di foto ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Aku memang sakit. Sakitku tidak kasat mata. Sakit kejiwaan berupa depresi. Namun aku tetap bertanggung jawab untuk terus berjuang mengendalikan emosi diriku sendiri. Lalu tetap berjuang mendidik dan mengasuh Tyaga dan Jehan menjadi anak yang salih saliha.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Akhirnya, hatiku terasa sejuk manakala melihat hasil dari perjuangan selama 3,5 tahun lalu tidak sia-sia. Saat melihat hasil Rapor Tyaga yang menjadi anak yang taat beribadah, pandai bersyukur, jujur, disiplin dan bertanggung jawab. Untuk anak berusia 8 tahun 4 bulan ini sangat membanggakan kami orangtuanya.

Sumber foto: dokumenstasi pribadi

Begitu pula dengan Jehan yang mendapat penilaian perkembangan sosial emosionalya sudah bisa berkembang sangat baik. Sungguh, ini semua anugerah dari Allah. Rasa tanggung jawabku pada Allah kala itu, kini berbuah hasil. Alhamdulilllah.

Sokaraja, 12 Juli 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan