Cerita Anak Latihan Menulis Komunitas Parenting

Anak Rewel, Biasanya Karena Orangtuanya yang Tergesa

Anak Rewel, Biasanya Karena Orangtuanya yang Tergesa

Oleh : Ribka ImaRi

Hari itu adalah hari ketiga Jehan masuk TK. Jehan baik sekali menurut penilaian bunda. Alhamdulillah bisa “no drama”. Dimulai dari bangun pagi yang mudah dibangunkan. Mandi sendiri karena keinginan sendiri tanpa paksaan, membuat Jehan ceria di pagi hari. Ah, indahnya.

Kemudian Jehan memakai baju sendiri, pun tetap ceria sambil menyanyi lagu baru dari TK-nya. Lanjut sarapan disuapi oleh ayah. Sukses tandas habis semua padahal porsi lengkap lauk dan sayur itu termasuk banyak.

Setelah semua siap, kemudian berangkat diantar ayah pada pukul 6.30 karena sekalian bareng mas Tyaga yang sudah kelas 2 SD. Pagi itu, Jehan tetap hanya diantar, tidak ditunggu sama sekali sampai jam pulang sekolah. Nanti akan bunda jemput jam 9 pagi di depan sekolah.

Biasanya, bunda sapa dengan mata binar dan senyum merekah, “Sayaang….”

Bahagianya melihat anak gadisku yang sudah percaya diri masuk TK langsung ditinggal bahkan sejak hari pertama. Itu pun hanya diantar ayah tanpa bunda dan tanpa ditunggu.

Begitu bertemu bunda, Jehan langsung salim dan peluk, “Bunda, De bahagia banget hari ini,” serunya antusias ditengah ramainya kerumunan wali murid yang sedang menunggu anaknya keluar pintu sekolah.

“Oh ya?wah alhamdulillah kalau Dede bahagia. Memangnya apa yang membuat Dede bahagia?” tanya bunda tak kalah antusiasnya.

Bunda ajak dede menepi supaya tidak mengganggu lalu lalang wali murid lainnya.

Jehan lanjut bercerita, “Sekolah Dede ulang tahun hari ini Bun. Tadi ada nasi tumpengnya. Nih, dikasih nasi kuning. Tolong masukkan ke tas Dede, Bun.” Jehan langsung ceriwis bercerita tak henti.

Karena waktu hari pertama bunda tidak sempat melihat Jehan tampil di panggung bersama teman-teman barunya, jadi di hari kedua bunda sempatkan melihat dari kejauhan.

Bunda terharu waktu melihat proses Jehan makan bekal. Buka tasnya sendiri. Ambil plastik yang di dalamnya ada wadah isi semangka. Kemudian ditaruh di kursi tempat Jehan duduk. Lalu Jehan ambil plastiknya dari atas kursi dan berganti Jehan yang duduk di atas kursi.

Jehan menaruh plastiknya di pangkuan lalu membuka plastiknya. Kemudian menaruh plastiknya di bawah wadah dan membuka wadahnya. Lalu Jehan menaruh tutupnya di bawah wadah. Baru kemudian Jehan mulai menyuap buah semangka yang ditusuknya pakai garpu yang bunda taruh di dalam wadah.

Jehan begitu sangat menikmati setiap prosesnya tanpa tergesa-gesa. Membuat bunda takjub melihat setiap proses yang Jehan jalani. Rasa syukurku tiada terkira melihat Jehan di usianya yang baru akan 5 tahun, ia sudah bisa mandiri menyiapkan kebutuhannya semua sendiri. Dari awal sampai akhir tanpa dibantu bu guru. Alhamdulillah ya Allah…

Nah pagi berikutnya, di hari keempat, akhirnya drama dimulai. Karena bunda bangun kesiangan oleh sebab semalam mengobrol dengan ayah sampai larut malam. Bunda jadi mepet membangunkan mas.

Meski dede tadi pinter bangun sendiri, tetapi bukannya keluar kamar dan antri mandi, malah mewarnai buku yang baru dibeli sore kemarin.

Karena ayah kurang sabar membujuknya, malah jadi salah omong, “Oh enggak mau sekolah ya!”

Dan Jehan jadi menjawab tak kalah keras “Enggak mau sekolah!”

Kemudian bunda ajak mandi, tapi dede maunya sambil digendong. Bunda bilang jalan sendiri ya. Jehan malah merangkak. Sesampainya kamar mandi, setelah bunda bantu buka baju semua, bunda tawarkan mau memandikan, malah bilang tidak mau sekolah.

Padahal jam sudah menunjukkan jam 6 pagi. Itu tandanya kami hanya punya waktu 30 menit saja untuk mandi, pakai baju, sarapan dan menyiapkan semua sampai mas dan dede siap di atas motor.

Lalu bunda berpesan, “Dede sikat gigi dulu. Nanti Bunda datang, Bunda mandiin. Bunda mau siapin gamis Dede dulu.”

Setelah selesai menyiapkan baju, bunda masuk ke kamar mandi, melihat ada 2 tetes air mata di mata Jehan. Ternyata Jehan menangis di kamar mandi dan belum sikat gigi. Dua keadaan yang sangat bunda benci : menangis di kamar mandi dan tidak mendengar pesan (untuk sikat gigi).

Sejujurnya, bunda sangat ingin marah saja rasanya. Sebab sudah jam 6 pagi, tetapi Jehan sama sekali belum siap. Padahal harus berangkat paling lambat jam 6.40 sebab mas masuk jam 6.50. Dede sih santai jam 7.20. Namun, ayah dan bunda memang sedang mengusahakan mas dan dede bisa berangkat bareng terus. Supaya tidak usah bolak balik mengantar keduanya.

Gemas rasanya. Disuruh segera sikat gigi, malah bilang dengan naik nada, “Enggak mau sekolah!”

Ibu mana yang tidak kesal, bukan?
Anak diajak buru-buru malah berulah.
Suami diajak kerjasama, malah salah omong. Sebab Jehan termasuk balita pemberani. Jika diancam, ia bisa menantang balik ayah bunda.

“Oh enggak mau sekolah?” tanya ayah.

“Ya, sudah enggak sekolah saja” jawab Jehan menantang.

Pening kepala bunda.

Alhamdulillah bunda segera bisa sadar. Bahwa dede rewel itu ada sebabnya. Karena waktu yang mepet, bunda maunya buru-buru. Bunda maunya mas dan dede nurut semua seperti biasanya. Kalau mas sudah sangat paham instruksi, sudah sangat mengerti keadaan buru-buru dalam waktu yang mepet dan takut terlambat.

Bunda sadari, bahwa Jehan belum terlalu paham itu dan masih baru belajar berproses tanggungjawab untuk dirinya sendiri. Sebab Jehan baru masuk TK A.

Persis mas Tyaga 3 tahun lalu. Disuruh mandi malah menangis. Bunda makin kalap karena sedang tergesa-gesa. Terlebih semua dikerjakan sendirian tanpa bantuan orang dewasa. Karena saat itu ayah dan bunda masih LDM-an. Kalau ingat dulu, sebenarnya sering kasihan dengan mas Tyaga. Batinnya pernah terluka akibat terpaksa dikondisikan harus mengerti keadaan orangtua.

Beruntung, jika akhirnya bunda bisa berlatih Mindfulness Parenting. Selama 3 tahun berproses dan berlatih terus. Akhirnya bunda sudah sadar saat menghadapi fase Jehan sekarang.

Bahwa sumber kemarahan bunda terletak pada keadaan TAKUT TERLAMBAT, ANAK MENANGIS DI KAMAR MANDI & ANAK TIDAK MAU MENDENGAR (SIKAT GIGI), yang semuanya itu adalah pengalaman jiwa masa kecil bunda (Inner Child) yang terlanjur terekam di otak dan otomatis tanpa sadar memperlakukan anak serupa dengan pengalaman bunda semasa kecil.

Alhamdulilah setelah beberapa kali atur napas dan istighfar. Bunda jadi sadar untuk kembali ke niat semula. Mendidik tidak memakai cara kekerasan untuk mendisiplinkan. Sadar bahwa Jehan sedang belajar mengendalikan emosi dari bundanya.

Setelah napas agak bisa lebih teratur. Bunda sadar untuk segera melembut dengan suara dan gerakan. Sebab gerakan tergesa-gesa membuat kasar ke anak, bisa jadi akan menoreh luka batin anak.

Karena anak merasa dikasari orangtuanya. Meskipun orangtua tidak menyadarinya. Sebab perlakuan kasar sekadar gerakan tergesa-gesa yang tidak kasat mata, itu bisa tidak menyenangkan bagi anak dan membekas di jiwa anak.

Kesadaran itu membuat bunda menurunkan ego untuk membantu Jehan menyikat gigi. Memeluknya sebentar. Menatap matanya dan menggenggam lembut tangannya. Lalu mengajaknya mandi setelah Jehan menyetujuinya.

Bunda memandikan Jehan dengan mengajaknya mengobrol yang menyenangkan. Meski awalnya Jehan menjawab ketus. Namun alhamdulillah akhirnya mood Jehan bisa kembali membaik.

Jehan jadi mau diajak bergegas dengan dibantu memakai baju. Sarapan bareng mas dan mau disuapi bunda. Biasanya kalau bunda kasar, Jehan makannya diemut. Makan diemut adalah bentuk protes anak karena menolak sesuatu yang orangtuanya berikan. Coba rasakan saat kita orang dewasa merasa menolak sesuatu, kita pun akan malas mengunyah.

Alhamdulilah, akhirnya mas dan dede bisa cepat selesai sarapan disuapi sarapan dua porsi untuk dua anak, hanya dalam waktu 10 menit saja.

Selanjutnya, kami bersama-sama menyiapkan semua keperluan sekolah sampai semua naik ke motor. Kemudian keduanya berangkat dengan ceria. Sebab bunda sadar, tak baik melepas anak berangkat sekolah dalam tangisan. Sebaiknya anak ceria. Karena kejadian memulai hari dan menutup hari akan menancap seumur hidup. Jadi sebaiknya diukir indah. Semanis tawa indah Jehan sepulang sekolah seperti di foto ini. Berkali-kali berucap, “De bahagia sekolah hari ini bun.”

Kesimpulan dari kejadian di atas, perbandingan antara hari ketiga dan keempat, saat ortu siap, anak pun siap. Saat ortu tenang, anakpun anteng. Namun, saat ortunya tergesa-gesa, anak malah jadi berulah dan rewel. Sebab anak dipaksa melakukan hal yang seharusnya orangtua bisa lebih bersabar menunggu beberapa menit sampai anak rela diajak bekerjasama.

Akan tetapi, anak dipaksa harus siap seketika sesuai keinginan orangtua. Padahal anak butuh waktu berproses, bukan langsung berhasil. Orangtua butuh sabar mengiring prosesnya hingga bisa berhasil sesuai waktunya nanti.

PS : berusaha mendisiplinkan dengan kelembutan bukan kekerasan. Menumbuhkan kesadaran bukan paksaan. Semangat terus semua ibu hebatπŸ’ͺπŸ’ͺ

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, Purwokerto

Kejadian tanggal 18 Juli 2019, menuliskannya, supaya mengingat terus perjuangan sabar menemani masa pertumbuhan dan perkembangan anak.

rumahmediagroup/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

4 Komentar

  1. says:

    Tips yang keren ini

  2. Ribka ImaRi says:

    Terimakasih PakπŸ™πŸ»semoga bermanfaat

  3. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  4. Ribka ImaRi says:

    πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

Tinggalkan Balasan