Curahan Hati Hari Kesehatan Mental

Aku Bersyukur dan Bangga atas Karunia Bipolar

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s! Rasanya lama tak menyapa dengan sebutan ini. Apa kabar? Semoga semua Sahabat ImaRi’s selalu sehat dan bahagia. Aamiin.

Sstt, Sahabat ImaRi’s tahu nggak? Ternyata hari ini, tanggal 10 Oktober adalah Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Semangat sehat jiwa dan raga untuk kita semua ya!

Dalam memperingati hari yang sangat berarti untuk para penyintas gangguan mental ini, aku mau berbagi pengalaman hidup luar biasa atas karunia bipolar yang Tuhan berikan. Simak ceritaku yang lumayan panjang ini ya. Semoga tidak bosan membacanya melainkan bisa menginspirasi semua Sahabat ImaRi’s.

Aku Curiga Mengidap Bipolar

Bipolar adalah sebuah kata yang dulu masih asing bagiku. Aku sama sekali belum tergerak mencari tahu artinya. Bahkan ketika di tahun 2014 banyak orang heboh membahas artis dengan inisial M yang akhirnya mengakui bahwa ia mengidap bipolar tipe dua.

Di tahun tersebut, aku memang memulai membiasakan diri untuk tidak kepo terhadap urusan orang lain, apalagi urusan artis. Jadi kala itu, aku mulai terbiasa tidak memilih saluran televisi yang sedang membahas gosip para artis. Ada yang tidak beres saat aku merasa ada perasaan yang tidak enak setiap kali menonton acara gosip. Lagi pula, urusanku sendiri sudah banyak. Ketika itu aku sedang menyambut kelahiran putri keduaku yang lahir pada 20 Agustus 2014.

Meskipun saat itu aku sudah mempunyai smartphone jadi bisa saja mencari tahu dari google yang semudah genggaman tangan. Hanya tinggal mengetik satu kata bipolar saja. Namun, tetap saja aku belum tergerak untuk mencari tahu. Aku hanya sekadar tahu ada sebuah gangguan kejiwaan bernama bipolar.

Sampai suatu ketika di pagi hari yang cerah di bulan November 2016. Hari dimana aku dan kedua anakku sedang bergegas memacu sepeda motor menuju suatu tempat untuk menghadiri acara seminar “Ibu Tangguh” di sebuah rumah makan di Pabuaran, Purwokerto, Jawa Tengah.

Kondisiku saat itu masih memiliki mobil yang bisa dikendarai jika memang harus pergi menempuh jarak jauh dengan membawa kedua anakku. Ketika itu keadaanku harus LDM (Long Distance Marriage) dengan suami yang masih tinggal di Depok, Jawa Barat.

Sementara itu, putra pertamaku masih berusia 4 tahun 8 bulan dan putri keduaku baru saja berusia 2 tahun 3 bulan. Aku sangat menyayangi keduanya tetapi terkadang aku merasa stres manakala harus sendirian mengurus keduanya. Namun aku terus berusaha dengan penuh kesabaran dalam memberi pengertian untuk kedua anakku. Meskipun keduanya masih balita dan balita tetapi aku mengajarkan untuk menerima keadaan bahwa pergi ke mana-mana tidak harus mengendarai mobil. Namun, bisa dengan mengendarai sepeda motor yang baru saja dibelikan oleh ayahnya di bulan Oktober 2016.

Aku memang sangat berniat mendidik kedua anakku menjadi mandiri walaupun sedang berjauhan dengan ayahnya. Aku bersyukur, pada akhirnya kedua anakku menerima pemberitahuanku bahwa untuk menuju tempat acara di daerah Pabuaran, kami akan mengendarai sepeda motor saja, bukan mobil.

Jarak antara rumah ke lokasi acara tersebut sekitar kurang lebih 10 km. Setelah aku memastikan kedua anakku aman di belakang boncengan, aku mulai memacu sepeda motor baruku tersebut dengan perlahan. Aku merasa sedikit tenang, karena memang menggunakan alat bantu berupa sabuk bonceng. Meksi aku tahu membawa dua anak dalam boncengan sepeda motor bukanlah hal yang mudah bagiku yang pemula. Selama ini, bahkan sejak semasa gadis aku sudah terbiasa menyetir mobil bila harus bepergian jarak jauh.

Dalam perjalanan menuju lokasi acara tersebut, aku sangat bersemangat dan riang gembira mengajak kedua anak benyanyi kecil diatas sepeda motor. Namun, entah apa yang kemudian terjadi? Sesudah menempuh jarak sekitar 8 km yang lumayan menyusahkan, aku tiba-tiba menangis terisak dengan air mata berderai-derai.

Dalam semangat dan riang gembiraku barusan berklebat pikiran, “Apakah mamaku dulu bisa merasakan fasilitas yang aku rasakan saat ini? Oh… tentu tidak!”

Karena mama dan aku beserta saudara sekandungku yang serumah semasa kecil hidup dibawah garis kemiskinan dan serba kekurangan. Aku bingung dengan keadaanku saat itu. Aku yang sedang semangat, riang dan gembira tetapi seketika bisa tiba-tiba sedih mendalam.

Saat itu, aku merasa mood swing luar biasa. Yakni perubahan suasana hati yang terlihat sangat cepat. Namun, jika kuingat-ingat, sepertinya aku sudah mengalami mood swing ini bahkan sejak remaja. Di saat berkumpul dengan teman-teman sekolah, aku yang sedang tertawa terbahak-bahak, bisa tiba-tiba diam dan sedih, seperti mau menangis akibat mengingat sesuatu hal yang menyedihkan. Semisal, teringat bapak mengamuk. Jadi saat aku bersama teman sekolah, aku bisa merasa sedikit bahagia. Namun jika teringat harus pulang ke rumah dan bertemu dengan bapak, seketika moodku hancur.

Apakah aku bipolar?

Pikiranku berkelebat teringat artis M yang mengakui mengidap bipolar dalam berita yang pernah merebak dua tahun lalu. Aku mulai mencari tahu apa itu bipolar dari situs di google. Sepertinya dugaanku mengarah ke sana. Mengingat kemungkinan ada faktor genetik dari bapakku yang luar biasa mood swing.

Dari yang semula dalam keadaan baik-baik saja, tiba-tiba bisa marah-marah sampai mengamuk. Begitu pula yang terjadi pada pola perilakuku saat menjelang siklus menstruasi. Aku bisa tiba-tiba mengamuk tak terbendung saat terpicu oleh tingkah laku kedua anakku. Semisal anakku sedang susah makan atau muntah karena sakit. Bisa juga sekadar hal sepele saat si Sulung tak mau mendengar ketika aku memberi tahu sesuatu hal atau kalimat perintah.

Mood swing-ku yang tergambarkan di atas sudah sampai tahap sangat mengganggu. Hal ini yang akhirnya membuatku nekat pergi mengunjungi psikolog demi mendapatkan kepastian dari mood swing berkepanjangan.

Ya, “ada apa denganku?”

Oleh karena masih merasa penasaran dan belum lega, walaupun sudah ke psikolog pada tanggal 9 November 2016 di bilangan Mersi, Purwokerto, aku nekat pergi ke psikiater di RS. Margono Geriatri, Purwokerto, untuk pertama kalinya pada 26 Januari 2017. Setelah dua kali konseling dan wawancara tatap muka serta diresepkan obat untuk bipolar, akhirnya aku mengetahui bahwa memang benar aku ini bipolar. Seharusnya aku kembali konseling lagi di tanggal 20 Febuari 2017. Namun aku memberhentikan sendiri pengobatan itu karena dengan meminum obat-obatan psikiatri merasa justru terhambat mengurus kedua anakku.

Aku ingat nama salah satu obat tersebut adalah DEPAKOTE. Namun obat bipolar tersebut justru membuatku lemas lunglai tak berdaya. Mungkin untuk mengobati fase manic-ku. Agar tidak terus menerus beraktivitas tanpa mengenal lelah.

Pengertian Gangguan Bipolar

Berdasarkan kutipan dari Liputan6 pada 18 Agustus 2014, 19:54 WIB

Liputan6.com, Jakarta Oleh: Gabriel Abdi Susanto, Benedikta Desideria

Secara ilmiah, bipolar disorder atau gangguan bipolar adalah salah satu diagnosa gangguan kejiwaan pada perasaan (suasana hati) seseorang. Istilah bipolar sendiri mengacu pada adanya dua kutub yang melanda mood atau suasana hati pasien secara bergantian, yaitu kutub manik dan kutub depresi.

Fase Manic

“Manik adalah mood yang meningkat. Dia merasa gembira luar biasa. Dia punya tenaga luar biasa, nggak capek-capek. Dia bisa berbicara banyak sehingga kita tidak bisa menyela perbincangannya. Idenya sangat banyak. Dia bisa punya percaya diri luar biasa. Dia bisa tidak tidur tanpa ada rasa lelah. Dan keinginan seksualnya pun tak terbendung,” tutur dokter spesialis kejiwaan dari Departemen Psikiatri FKUI/RSCM Dr dr Nurmiati Amir SpKJ(K)

Menurut Nurmiati, penderita gangguan bipolar bisa melakukan tindakan menyerempet bahaya. Misalnya mengebut di jalan raya karena percaya diri luar biasa.

Seseorang dikatakan dalam episode manik, dokter Nurmiati, ketika gejala-gejala seperti yang disebut sudah berlangsung satu minggu. Namun suatu saat ia akan merasakan perasaan depresi. Ia akan merasakan suasana hatinya sedih luar biasa sepanjang hari selama berhari-hari.

Setelah pelan-pelan.mempelajari fase manic ini, lama kelamaan aku mulai mengenali polanya. Hal ini sepertinya sudah terjadi sejak aku remaja dan gadis dewasa, tetapi makin kentara sejak aku menjadi ibu dari dua anak. Aku pernah sanggup tidak tidur selama 22 jam. Jadi dalam 24 jam aku cuma tidur selama dua jam saja. Hanya demi mengerjakan urusan pekerjaan rumah yang tiada pernah ada habisnya. Namun aku ingin mengerjakannnya sampai selesai. Misal, demi membereskan dapur atau rumah yang berantakan dari mulai pukul 02 dini hari dan baru berakhir pukul 00. Saat itu, aku tidak merasakan lelah sama sekali.

Pun, aku pernah tiba-tiba terbesit mengebut. Membuatku pernah menyetir mobil dengan kecepatan mencapai 100 km/jam saat berada di dalam tol Pejagan menuju Cirebon, Jawa Barat di Febuari 2017.

FaseDepresi

Sumber foto: dokumentasi pribadi

“Berkebalikan dengan manik, ia akan merasa murung, menangis terus-menerus, merasa tidak ada tenaga, sampai-sampai untuk mengangkat sendok dia tidak berdaya,” terang dokter Nurmiati.

Pada saat episode depresi, pasien bipolar disorder pun tidak memiliki minat terhadap apa-apa, termasuk terhadap sesuatu yang pada saat kondisi normal ia sukai. Lalu, ia pun merasa bersalah, padahal tidak ada kesalahan yang ia buat.

“Misalkan ia mempunyai kesalahan dan merasakan kesalahan itu sangat luar biasa hingga berpikir untuk bunuh diri. Karena merasa hidup tidak ada guna lagi,” kata Nurmiati.

Dua hal inilah yang terjadi pada pasien dengan gangguan bipolar. Namun suatu ketika ia kembali pada keadaan normal seperti sebelum sakit. Sehingga ia bisa beraktivitas seperti biasa.

Menurut dokter Nurmiati, bipolar disorder mulai memperlihatkan gejala yang sudah disebut pada usia pubertas atau remaja. “Ada juga yang terjadi pada usia lanjut, namun itu jarang,” terang Bu Dokter.

Dengan melihat gejala-gejala di mana seseorang bisa depresi lalu beberapa pekan kemudian manik, orang lain bisa mengetahui adanya gangguan bipolar pada diri orang tersebut.

Betul saja, pada saat fase depresi tiba, bukan saja aku bisa menyakiti fisik dan psikis anakku. Namun aku bisa mengebut dengan kecepatan tinggi dengan perasaan sangat ingin menabrakkan kendaraan yang kusetir ke truk di depan. Padahal saat itu aku sedang membawa serta kedua anakku yang masih kecil-kecil.

Sumpah serapah dan hardikan, “Anjing! Babi! Setan! Mati aja kamu!” menjadi ucapan yang tak pantas kuucapkan dihadapan kedua anakku. Cengkram, cubit, pukul, tampar, bahkan banting anak ke atas kasur, semua pernah aku lakukan dulu.

Hari-hari yang sangat kelabu itu semua terjadi pada pertengahan tahun 2016, tepatnya bukan Juni sampai menjelang akhir tahun 2018. Pada bulan September 2018, mood swing-ku baru bisa terkontrol. Aku sudah bisa tidak lagi menyakiti fisik kedua anakku lagi. Semua itu pernah terasa sangat berat sebab disaat harus berjuang menyembuhkan diri sendiri lebih dulu, aku harus tetap berjuang mengurus kedua anak yang sama sekali tak bisa dititipkan kepada suami yang masih LDM atau orang tua atau sanak saudara sekalipun yang memang domisilinya beda kota bahkan propinsi.

Saat itu, hampir tiga tahun berproses memperbaiki diri dari gangguan bipolar ini. Aku berlatih Mindfulness Parenting. Sebuah ilmu parenting yang mengajarkan untuk sadar penuh dengan apa yang sedang terjadi. Aku memang baru mendengar ilmu parenting ini pada pertengahan tahun 2016. Kemudian aku mengikuti pelatihannya secara online yang dimentori oleh Pak SupriYatno pada Agustus 2016.

Melalui Mindfulness Parenting aku berlatih untuk sadar penuh bahwa aku ini pengidap bipolar yang sangat mudah terpicu saat mendampingi tumbuh dan kembang kedua anakku. Akibat ada banyak trauma masa kecil yang klebat-klebat bagai film yang diputar, membuatku yang semula sedang berbahagia bersama kedua anak, bisa tiba-tiba membuncah sedih atau marah yang tak terbendung lagi.

Untuk mengatasi keadaan ini, pelan-pelan aku belajar mengenali pemicu mood swingku. Misalkan, saat sedang piknik bersama suami dan kedua anak, aku yang sedang berbahagia bisa tiba-tiba sedih mendalam karena teringat masa kecil yang belum pernah satu kalipun piknik bersama bapakku. Apalagi bersama mama dan saudaraku. Oleh sebab kehidupan kami yang memang masih dibawah garis kemiskinan pada tahun ’80-an.

Dengan Mindfulness Parenting pula aku belajar sadar penuh untuk bertahan tidak lagi menyakiti kedua anakku. Melalui teknik PAUSING, yakni keadaan sadar diri saat akan terpicu, mengambil jeda dan jarak dari kedua anak. Untuk diam sejenak, duduk bersandar, memejamkan mata, mengepal tangan, guna meredam amarah yang sudah ada diujung tangan yang biasanya siap diledakkan ke tubuh mungil kedua anakku. Terutama ke putra pertamaku sebagai pemicu utama.

Aku menarik napas panjang dan dalam, lalu menghembuskan napas panjang dan dalam juga sambil berhitung, satu … dua … tiga, sampai seterusnya, mungkin sampai hitungan sepuluh, sampai aku benar-benar bisa sadar untuk bernada sabar menghadapi kedua anak.

Atas seijin Tuhan, cara di atas terbukti efektif membuatku bertahan di saat genting di dalam rumah saat tak ada penjagaan seorang pun dewasa yang bisa mencegah ledakan amarahku yang pernah hampir saja meretakkan tengkorak kepala putra pertamaku. Aku bersyukur seketika Tuhan mengalihkan ayunan gayung ditanganku pada ember sampai sobek sepanjang 20 cm.

Kemudian aku pun mengikuti saran psikiater agar melakukan kegiatan untuk menyalurkan energi berlebih saat fase manic. Aku mulai aktif lagi membuat kue-kue yang pernah kubikin sebelum aku terpuruk dalam depresi berkepanjangan. Kegiatan ini kulakukam dengan kesadaran semampu tenaga dan waktuku. Aku bersyukur, lagi-lagi cara ini ampuh membuatku meredam emosi berlebih.

Bukan saja aku bisa berkarya saat fase manic dimana mood meningkat tajam sehingga bisa menjadi amunisiku mengerjakan banyak hal positif. Dengan membuat pempek frozen yang aku labeli “Pempek ImaRi’s Corner” di Oktober 2017. Hasil karya homemade-ku ini akhirnya bisa terkirim sampai luar kota bahkan hingga ke luar negeri, Dubai.

Melalui usaha membut makanan tersebut, akhirnya aku jadi belajar mengendalikan fase depresiku yang kerap hadir seminggu sebelum siklus menstruasi. Sedangkan fase manicnya aku amati biasanya terjadi seminggu setelah siklus menstruasi selesai.

Aku bersyukur setelah terseok-seok berjuang sampai akhirnya berhasil terkendali, mengelola manic dan depresi, saat ini kedua anakku bisa setiap saat mengucapkan, “Mas sama Dede sayang banget sama Bunda.”

Sebuah kalimat pengobat jiwa yang pernah sangat berdosa pada kedua anak akibat perlakuan kejam yang pernah kulakukan diluar kesadaran sebagai ibu. Pada dasarnya, aku ini ibu yang baik menurut anakku dan orang di luar rumah yang melihat keseharianku. Hanya saja fungsi otakku sedang terganggu akibat penyakit bipolar.

Kini, empat tahun sudah aku berproes terus menerus mengaplikasikan ilmu Mindfulness Parenting membuatku bisa sangat stabil. Walaupun ada kalanya aku masih marah. Namun marahku yang sekarang adalah marah yang normal.

Hal yang membuatku sangat bersyukur adalah ketika Allah memberi bonus atas hasil usaha menstabilkan emosi. Yakni aku menjadi Asisten Mentor Mindfulness Parenting di akhir tahun 2018. Setelah itu aku mulai mandiri membuka kelas parenting online di antaranya kelas Seni Mengasuh Anak (SMA) dan Kelas Tantrum Anak (KTA). Hingga kini yang terbaru adalah kelas Mengasuh Inner Child (MIC) yang sudah mencapai batch 10. Ada banyak ibu yang sudah terbantu. Termasuk ibu dengan bipolar sepertiku.

Selain itu, aku juga melakukan terapi menulis. Ya, ternyata dengan menulis pada akhirnya ada banyak emosi terpendam menjadi rilis (lepas). Yang dulu sangat sulit kuungkap, misal dendamku pada bapak dan mama, pada akhirnya hanya bisa kusampaikan melalui tulisan.

Aku mengamati benar, bahwa pada akhirnya emosiku benar-benar menjadi sangat stabil setelah rajin menulis dengan mengikuti komunitas menulis NuBar Area Sumatera sejak awal Januari 2019. Hingga kini sudah sebanyak 28 naskah buku antologi aku kirimkan. Ini semua nyata sangat bermanfaat untuk terapi bagiku penyintas bipolar dan depresi.

Demikian sharingku melalui tulisan ini. Kiranya bermanfaat untuk siapa saja guna menyadari sejak dini atas ketidakberesan yang terjadi pada diri sendiri. Terlebih pada ibu saat mengasuh, mendidik dan mendampingi anak.

Kisah nyata dari Ribka ImaRi, Penyintas Depresi & Bipolar yang sekarang sudah bisa terkendali tanpa obat dari Psikiater sejak Febuari 2017.

Sokaraja, 10 Oktober 2020

#worldmentalhealthday2020
#harikesehatanmental
#nubarsumatera

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 28 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020 sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 11 antologi menulis di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan