Acceptance Bipolar Curahan Hati Depresi Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog ImaRi's Corner Parenting Inner Child Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Kisah Hikmah Mindfulness Parenting Writing For Healing

Acceptance: Menerima Tekanan Emosi yang Hadir Saat Ini, Itu Semua Berasal Dari Tumpukan Emosi Masa Lalu Terlebih Emosi Jiwa Masa Kecil atau Inner Child Kita

Oleh: Ribka ImaRi

Sumber flyer via canva

Semangat Pagi Sahabat ImaRi’s!

Apa kabarmu hari ini? Semoga baik-baik saja ya. Aamin. Sahabat ImaRi’s, kali ini aku mau cerita tentang kisah perjalanan perbaikan kondisi psikisku. Silakan disimak pelan-pelan ya. Karena tulisan ini lumayan panjang.

Tepat enam tahun lalu, November 2015, ketika tak ada satu pun yang menerima apalagi memahami bahwa aku ini istri dan ibu biasa yang ingin sekali-sekali, ya sekali saja izinkan aku marah-marah. Marah-marah yang semarah-marahnya. Namun aku tak pernah punya ruang untuk marah. Padahal aku sangat lelah memendam semua sendiri se-lama lima tahun menjadi istri dan empat tahun menjadi ibu.

Benar-benar, tak ada satu pun bahkan sekadar bisa mengerti atas lelahnya jiwa seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil.

Ini perjalanan kisahku,

Saat itu Tyaga masih 3 tahun 7 bulan dan Jehan 15 bulan. Ada hal yang sangat memicu hari itu pada tanggal 10 November 2015 membuatku melakukan kekerasan kepada Tyaga dan Jehan dalam bentuk pengabaian selama enam jam. Aku mengambek kepada suami semakin membuatku sangat ingin meledakkan segala emosi terpendam. Sayangnya, saat itu suamiku belum tahu apa yang sedang terjadi pada jiwaku. Karena aku sendiri baru mengetahuinya satu tahun kemudian bahwa aku mengidap depresi. Setelah tahu pun, suamiku belum mau tahu karena belum teredukasi.

Depresi yang berasal genetik (keturunan dari bapak) berupa emosi sedih mendalam serta berkepanjangan atas perilaku KDRT, penolakan dan pengabaian dari bapak selama bertahun-tahun sejak aku kecil, sampai puncaknya ketika bapak tak hadir di pernikahanku pada 17 Agustus 2010.

Ketidakhadiran bapak berlanjut sampai aku melahirkan dua anak. Bapak tidak pernah datang menengok aku dan bayiku sampai aku yang harus mengalah mengunjungi bapak demi menunjukkan cucunya setelah bayi Tyaga berusia 5 bulan dan bayi Jehan terlanjur sampai usia 16 bulan baru bertemu mbahkungnya.

Hubungan dengan bapak tak kunjung membaik sejak kecil memang kami jauh karena luka pengabaian yang dalam sampai usiaku 35 tahun kala itu. Bapak yang tidak pernah menafkahi keluarganya sejak aku SD berlanjut terus menerus selama 43 tahun usia pernikahan orangtuaku sampai mama meninggal.

Pun, dengan mama (almarhumah pada 16 Juni 2021), aku pernah emosi kecewa mendalam karena mama tidak datang mendampingi aku melahirkan Jehan, anak kedua, pada Agustus 2014. Aku sampai harus menitipkan Tyaga kecil berusia 2 tahun 5 bulan 5 hari pada tetangga sebelah rumah selama empat hari dari berangkat sampai pulang dari Rumah Sakit Hermina, Depok, Jawa Barat. Lagi-lagi menoreh luka pengabaian dari mama dengan alasan mencari setoran di pasar. Karena mama berjualan di Pasar sejak aku SD untuk memenuhi nafkah serumah. Ya, mama menjadi tulang punggung keluarga akibat bapak tidak pernah bekerja lagi sejak tahun 1989.

Kemudian, emosi marah membara pada kakak ipar yang memicu baby blues di awal kelahiran Tyaga pada 12 Maret 2012 yang bermutasi menjadi depresi pasca melahirkan saat bayi Tyaga usia 1,5 bulan. Akibat dua tahun tingga bersama memicu pertengkaran hebat yang membuatku menangis histeris dan ingin meninggalkan bayi Tyaga untuk selamanya pada akhir April 2012.

Emosi dendam kesumat pada tetangga depan rumah yang body shaming berkali-kali sejak awal kenal ketika pertama pindah ke rumah suami selepas menikah Agustus 2010 sampai 2016, sudah memicu gangguan kejiwaan yang sudah sampai fase halusinasi ingin membunuhnya agar dia juga bisa merasakan rasa sakit hatiku.

Emosi benci pada saudara kandung yang tak pernah akur sejak kecil sampai berumah tangga masing-masing. Emosi kesal pada suami dan anak yang selalu saja merepotkanku seakan tak cukup mengurus mereka dalam 24 jam.

Semua berputar-putar di kepalaku menciptakan suara-suara berisik. Aku jadi membenci diriku sendiri yang membuatku sangat ingin menghilang dari bumi pada 10 November 2015.

Saat itu, aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Sampai akhirnya, setelah pindah ke Purwokerto pada Juni 2016, Tuhan menunjukkan jalan padaku untuk ikut kelas Online Mindfulness Parenting dari seorang Mentor Pak Supri Yatno pada akhir Agustus 2016. Dari kelas online beliau aku belajar banyak tentang ilmu pengasuhan diri sendiri. Terutama Inner Child yang ternyata membelengguku dalam segala lini kehidupan sebagai anak, saudara, istri, ibu, ipar, tetangga dan warga di lingkungan sekitar.

Kenangan buruk tentang kehidupan di masa kecilku yang suram, pernah membuat masa depanku sebagai istri dan ibu pun terasa lebih suram. Aku pernah menjadi pribadi yang menarik diri selama bertahun-tahun dari kehidupan nyata. Rasanya sangat melelahkan jiwa.

Ternyata tekanan emosi yang kurasa sangat berat di bulan November 2015 itu semua berasal dari tumpukan-tumpukan emosi yang dasyat sejak kecil. Aku yang selalu melihat kekerasan fisik dan verbal dari bapak dan lingkungan tetangga rumah sejak tahun 1980 aku lahir sampai usia 30 tahun ketika menikah pada tahun 2010. Ditambah luka pengabaian dari kedua orangtua pernah membuatku membenci hidup dan Tuhan sebagai pemberi kehidupan padaku di tahun 2016. Aku merasa sangat lelaaaaah waktu itu. Benar-benar ingin mati agar tak perlu merasakan sakit di jiwa lagi, lagi, lagi dan lagi.

Sampai akhirnya Tuhan izinkan aku belajar mindfulnes dengan sungguh-sungguh selama 5 tahun ditambah konsul ke Psikolog Mbak Rahma di Mersi, Purwokerto pada 9 November 2016. Lalu berobat ke psikiater dr. Wiharto Inggarnesha (maaf Dok, saya mention) di RS. Margono Geriatri, Purwokerto pada 26 Januari 2017 (diagnosa depresi) dan 9 Febuari 2016 (diagnosa kecenderungan bipolar).

Kala itu, Tyaga yang masih berumur 4 tahun 10 bulan dan Jehan 2 tahun 5 bulan aku boyong menghadap psikiater. Dengan mengendarai sepeda motor, aku membonceng keduanya hanya demi berjuang sampai titik darah penghabisan agar aku tak lagi melampiaskan tumpukan emosiku sejak kecil kepada Tyaga Jehan. Karena nyata benar rekaman inner childku ketika melihat Tyaga dan Jehan tumbuh bersama itu seperti mas kandungku almarhum dan diriku di tahun 1980-an.

Selama lima tahun (2016-2021) aku berjuang terus agar bisa berproses dengan baik. Alhamdulillah atas seizin Tuhan, bukan saja aku bisa membaik seperti sekarang ini, tetapi Tuhan layakkan menjadi Mentor kelas Mengasuh Inner Child Batch 1 sejak Desember 2019 dan sekarang sudah mencapai Batch 23 pada November 2021 ini. Kelas yang mengajar banyak ibu yang senasib seperjuangan denganku dulu. Kini WAG support untuk para alumni kelas MIC sudah beranggotakan 165 Mentee.

Atas seizin-Nya, mereka menjadikan aku role model bagaimana caraku, akhirnya menjadi anak yang bisa berdamai dengan kedua orangtua pada 28 Oktober 2017. Jadi bisa tak ada lagi penyesalan ketika mama meninggal pada 16 Juni 2021 lalu tanpa bisa bertemu apalagi memeluknya akibat meninggal karena covid-19.

Aku terima semua ketetapan Tuhan satu per satu. Dengan cara PENERIMAAN (ACCEPTANCE) satu per satu emosi yang hadir saat ini hingga tak lagi ada yang meledak menyakiti Tyaga dan Jehan, kedua anakku, seperti beberapa tahun lalu. Penerimaan demi penerimaan yang membuat emosiku sekarang bisa stabil, ini yang dikatakan oleh dr. Hilma Paramita, Sp. KJ, psikiater yang memeriksa kondisi psikisku pada 13 April 2021 di Apotik Pramuka, Purwokerto.

Ya, seni ACCEPTANCE yang pada akhirnya membuat jiwaku damai. Memilih menerima semua luka inner child yang aku tulis di atas, dari pada terus menerus bertanya, “Kenapa semua menyakitiku?”

Acceptance memang tidak akan pernah mengubah masa kecil dan masa laluku yang pernah suram karena kedua orangtuaku belum tahu ilmu pengasuhan. Aku belajar MENYADARI (MINDFULNESS) bahwa kedua orangtuaku sudah berjuang melakukan yang terbaik versi semampunya mereka. Dengan penerimaan juga, aku bisa mengubah cara pandangku atas masa lalu justru bisa dijadikan pelajaran hidup untuk tidak meneruskannya lagi kepada kedua anakku. Stop sampai di aku saja!

-Ribka ImaRi-

Penyintas Depresi Inner Child, Bipolar dan Lulusan covid-19

Sebab aku tak akan pernah bisa menghapus ingatan/rekaman/kenangan buruk masa kecil yang sudah telanjur tergores semua di otak apalagi Pikiran Bawah Sadar-ku. Namun Tuhan punya cara yang ajab dengan ACCEPTANCE, aku bahkan masih tetap mengingat rinci semuanya, tetapi sudah bisa tidak terpicu emosi sama sekali. Alhamdulillah.

Mau belajar ACCEPTANCE?
Yuk gabung di kelas Mengasuh Inner Child
Kelas MIC Batch 23
Hubungi Mentor Ribka ImaRi via whatsapp

Sumber flyer via canva

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Semo

Sokaraja, 4 November 2021

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 45 buku Antologi sejak Januari 2019 (Sebanyak 35 antologi sudah terbit, 26 dari Penerbit Rumedia, 8 dari Wonderland Publisher dan 1 dari Aksana Publisher)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/Desember 2019-Sekarang)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Be Mindfulness Wife (BMW/Mei 2021-Sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (Desember 2019-sekarang)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020-sekarang)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan